Indonesia Tanah Surga, Menyisakan Duka dan Ikhtiar

Cita-cita kemerdekaan bukan sekadar cerita, tetapi bila sungguh dirasakan oleh warganya adalah “surga,” yang selalu diidamkan rakyat Indonesia.
Terciptanya keadilan dan perdamaian, keamanan dan kesejahteraan adalah harapan bersama. Itulah suasana “surga” dunia Indonesia yang selalu didambakan rakyatnya.
Para pendiri bangsa telah merumuskan harapan-harapan di atas dengan sangat jelas dalam undang-undang dasar: “bumi dan segala isinya dikuasai oleh Negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”.
Harapan itu menjelma menjadi cita-cita dan spirit luhur bersama untuk hidup dalam damai, bersatu dalam keberagaman, sejahtera dalam kebersamaan, bebas dan berdaulat dalam keimanan.
“Berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu” menjadi spirit perjuangan menuju kesatuan dan persatuan demi terciptanya keutuhan tanah-air kita, Indonesi “tanah surga”.
Tapi, permusuhan, ketakutan, pesimisme, hujatan, cacian, kecemasan, ketidakadilan, kemiskinan apalagi fanatisme, terorisme dan radikalisme adalah neraka, yang membahayakan keselamatan negeri tercinta, Indonesia, tanah surga.
Setelah Soeharto ditumbangkan, Indonesia “tanah surga” memasuki era baru yakni reformasi. Sebuah era di mana demokrasi bukan hanya mimpi dan hiasan dinding tetapi jadi nyata dan dibumikan.
Keran kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat, berkumpul dan berorganisasi dibuka. Tapi fanatisme, radikalisme dan bahkan terorisme tumbuh berbarengan di tengah eforia kebebasan.
Atas nama HAM dan Agama orang bebas berbicara bahkan bebas caci maki dan provokasi. Privasi agama menerobos masuk mencampuri urusan publik bahkan politik. Atau sebaliknya, urusan publik dan agama dicampuradukan dengan politik.
Peran Agama dan sarana prasarananya kian dicampuradukan dengan kepentingan-kepentingan sesat dan sesaat. Visi penegakan peradaban dan moralitas agama makin kurang ditunjukkan. Bahkan sebagian ingin menggantikan Pancasila dengan “khalifah”.
Satu agama dipaksakan menjadi agama negara oleh mereka yang memiliki nafsu untuk menggantikan ideologi Negara: Pancasila. Ideologi sempit, ditambah dengan fanatisme agama hendak “ditukar-tambah” dengan NKRI tercinta. Hasilnya adalah radikalisme dan terorisme.
Tanah kita, tanah surga akhirnya ternoda. Harapan dan cita-cita para pejuang masih jauh tercipta, di tanah kita, tanah surga, Indonesia.
Fanatisme, radikalisme, hoax dan provokasi di media sosial, dan terorisme sesungguhnya bukan hanya musuh bersama di tanah air kita, tetapi musuh kemanusiaan yang harus diberantas di tanah air kita, tanah surga, Indonesia.
Agama harus menjadi pengikat dan perekat di tengah kebhinnekaan. Keadaban dan peradaban manusia harus lahir dari penghayatan dan pengamalan nilai-nilai keagamaan kita.
Dengan demikian tanah surga di NKRI tercinta dambaan bersama menjadi nyata dinikmati masyarakat. Bukan hanya dambaan di dunia akhirat.
Indonesia, tanah kita tanah surga bukanlah sebuah konstruksi keberadaan yang telah selesai. Indonesia bukan sebuah proyek yang sekali jadi. Demikian juga dalam tataran politik dan demokrasi.
Ada dan keberadaan Indonesia untuk menjadi “tanah surga” adalah sebuah proses mencari dan menjadi yang belum selesai dalam berbagai bidang.
Sebagai bangsa dan Negara, Indonesia terus berikhtiar mencari hakikat adanya yang belum tuntas, belum sempurna untuk menjadi yang terbaik demi kebaikan bersama, homo viator, demikian filsuf Gabriel Marcel.
Optimisme harus menjadi roh yang menjiwai seluruh ikhtiar anak bangsa dan pemimpinnya agar negara lebih sempurna.
Sumber : Status Facebook Dion Ngeta

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *