by

Indonesia, Nadi dan Nafas Kita

Disaat dan diwaktu yang sama ketika Nusantara berjaya, Arab Saudi belum ada. Hanya jejak Nejd, sebuah daerah di timur laut Mekah dan Madinah sebagai tempat dimana keluarga Saud diberi mandat berkuasa oleh Turki Ottoman sebagai khilafah saat itu.

Tak berlebihan bila dikatakan bahwa bila dikemudian hari Kerajaan Arab Saudi lahir adalah karena jasa keluarga Saud. Keluarga ini berperan penting dalam jatuhnya khilafah Utsmani di Turki oleh Inggris dan sekutunya.

Tak berlebihan pula bahwa Kerajaan Arab Saudi adalah kerajaan yang berdiri karena pemberian asing. Dia bukan kerajaan yang berdiri karena sejarah panjang kebesaran masa lalunya.

Sykes Piccot dan Balfour adalah dua perjanjian yang tak berlebihan bila kita katakan sebagai cikal bakal lahirnya negara Israel dan Kerajaan Arab Saudi. Kedua negara baru ini lahir karena dianggap membantu Inggris dan Perancis mengalahkan Turki Ottoman.

Maka, melalui sejarah, dengan mudah dapat dilihat bahwa Arab dan Israel tak lebih adalah negara yang dibangun demi kepentingan negara barat atau imperialis saat itu.

“Beneran?”

Mekah dan Madinah sebelum keluarga Saud berkuasa disana adalah wilayah kekuasaan Turki Ottoman dengan pejabat yang diberi mandat berkuasa adalah dari bani Hasyim yakni, Syarif Hussein.

Ya..,keluarga Saud berhasil menguasai Mekah dan Madinah dengan bantuan Inggris dari kekuasaan Turki Ottoman dan mengusir bani Hasyim sebagai penguasa sebelumnya.

Pada 1932 Inggris merestui berdirinya kerajaan Arab Saudi dengan wilayah kekuasaannya adalah seperti saat ini.

Berbeda dengan Indonesia, kita merdeka dan menjadi negara dengan luas wilayah sedikit lebih kecil dari Nusantara sebelumnya benar-benar karena perjuangan.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah cikal bakal negara kesatuan ini didirikan. Tanpa melihat ras dan suku, mereka membuat pernyataan bahwa mereka satu nusa, bangsa dan bahasa Indonesia.

Tahun 1945 kita merdeka karena inisiatif para pejuang dan militan para pendiri bangsa ini dengan memanfaatkan menyerahnya Jepang terhadap sekutu.

Clash pertama dan kedua adalah tentang Belanda ingin berkuasa kembali. Perlawanan dengan darah dan nyawa adalah bukti perjuangan tak kenal takut demi tetap merdekanya Indonesia. Dan.., Belanda memang kalah.

Kita merdeka karena perjuangan. Bukan pemberian apalagi hadiah karena persekutuan dengan agenda. Kita merdeka karena tekad dan kebesaran jiwa para pahlawan.

Bukti kebesaran kita sejak Nusantara dan kemudian perjuangan demi lahirnya Nusantara baru yakni Indonesia seperti saat ini adalah cerita tentang siapa kita.

Kita adalah bangsa besar dengan manusia didalamnya yang memiliki visi dan gagasan besar tentang apa itu berbangsa.

Kebesaran kita dimasa lalu dan perjuangan demi kemerdekaan yang kita rebut, selayaknya menjadi tolok ukur bagaimana kita berkaca hari ini.

“Tetap saja, kita harus belajar dari Arab bagaimana islam itu?”

Seandainya tolok ukur bagaimana sebuah sejarah adalah siapa yang lebih dahulu menerima dan kemudian dia juga lebih dahulu melakukan, tentu Arab justru yang harus belajar dari kita.

Arab Saudi bukan dimana Islam berkiblat. Dia hanya memiliki keistimewaan mengelola tempat tersuci. Mekah, dimana Kabah, sebagai tempat kiblat itu mengarah.

Dulu, bani Hasyim diberi mandat oleh kekhilafahan Ustmani atau Turki Ottoman sebagai pemegang kekuasaan tertinggi Islam didunia, untuk menjadi pengelolanya. Siapa yang memberi mandat Arab Saudi, sejarah telah mencatatnya dengan sangat jelas.

Indonesia telah mengenal Islam sejak abad 13 dan itu dapat dibuktikan dari banyak catatan sejarah. Sementara, Arab Saudi dengan paham Wahabinya baru ada pada abad 18.

Paham baru dengan sejarah terbentuknya yang suka tak suka justru telah menjadi salah satu penyebab keruntuhan dominasi khilafah yang terakhir. Paham baru yang memerangi khilafah Ustmaniyah dengan bantuan Inggris.

Bagaimana mungkin Indonesia harus belajar dara Arab Saudi, sementara Islam Indonesia justru lebih tua dan lebih mapan dengan ajaran lebih awal.

Tak ada alasan logis maupun psikologis atas itu semua. Arab Saudi sebagai pengelola tempat tersuci secara defacto, tak dapat disangkal. Dan Arab Saudi dibuat untung atas ini. De jure, sekarang perjanjian Syke Piccot pun sedang dipertanyakan.

Ya…,perjanjian Sykes Piccot memang sedang dipertanyakan karena Inggris dan Perancislah dimana bukan sebagai negara lokal justru seolah berhak menentukan siapa berkuasa dimana, dan siapa memimpin.

Perjanjian Sykes Piccot telah merubah struktur dan tatanan pemerintah serta politik negara-negara di timur tengah. Konflik berkepanjangan antar satu dan banyak negara lain diinisiasi, diakibatkan karena perjanjian kontriversial ini.

Tak ada alasan logis hanya karena secara defacto Arab Saudi adalah pemegang kuasa atas Kabah maka dia otomatis menjadi lebih Islam dibandingkan dengan negara Islam yang lain bahkan Indonesia.

Maka, tak ada alasan logis pula bila budaya Arab harus menjadi budaya Islam. Disana korelasi itu tak pernah nyambung. Tak ada keterjalinan benang merah atas hal itu.

“Lalu, bagaimana?”

Takdir bahwa Indonesia akan kembali menjadi bangsa yang besar telah menjadi cerita turun temurun rakyatnya. Disana, cerita itu bukan tentang dongeng anak-anak sebagai pengantar tidur, namun alam hemah ripah loh jinawi yang kemudian melahirkan manusia dengan budaya luhurnya lah yang membuat hal ini menjadi keniscayaan.

Kita adalah mutiara. Kita emas, kita berlian dan kita adalah jamrud katulistiwa. Kenapa harus menjadi orang lain padahal disisi lain kita adalah bangsa yang sangat besar dan kaya.
Kenapa harus menjadi tembaga bila emas adalah tentang siapa kita?

Bukalah sejarah. Berkacalah disana, maka kau akan mendapati siapa kamu sesungguhnya. Lihatlah siapa kita hari ini..! Masih ragu?

Sungguh, kebesaran bangsa ini akan membuat siapapun tunduk dalam sikap hormat.

Kita lahir dan darah tertumpah diatas tanah ini, kita Indonesia.

Kita terhentak dan menghirup nafas pertama kita dengan udara dimana ibu kitapun menghirupnya, kita Indonesia.

Kita makan dan minum dari bumi tempat kita berpijak dan peluh menetes diatasnya, kita Indonesia.

Semua terpatri dengan jelas dalam jejak darah kita. Semua tercatat dengan sangat benderang dalam DNA kita, kita Indonesia.

Nikmat mana lagi harus kita dustakan hingga kita berpaling dari ramahnya sapaan bumi pertiwi ini? Tak patut kita berdusta atas nama apapun demi tak setia atas segala kebaikan tanah pusaka ini.

Indonesia…,ya saya Indonesia. Kamu Indonesia. Kita, satu Indonesia.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed