by

Indonesia? Bagus

Oleh : Ahmad Sarwat

Dulu saya paling antusias kalau mengajar bahasa Arab. Maklumlah masih baru saja lulus program I’dad Lughawi, jadi lagi semangat-semangatnya ngomong pakai bahasa Arab. Lagi aktualisasi diri. Hampir setiap hari saya ngajar di kelas bahasa Arab. Cita-citanya luhur sekali, yaitu ingin generasi muslim tumbuh dan berkembang bersama bahasa Arab. Namun kesini-kesini semangat saya mengendor perlahan. Ternyata untuk mewujudkan cita-cita saya itu banyak sekali tantangannya. Beberapa yang saya ingat misalnya :

Pertama, Ternyata bisa bahasa Arab itu tidak otomatis paham Al-Quran dan Sunnah. Dua hal yang tidak ada kaitannya. Padahal dulu ketika memberi motivasi biar pada semangat belajar bahasa Arab, selalu saya kaitkan dengan pentingnya memahami Al-Quran dan Sunnah. Ternyata di lapangan kenyatannya tidak demikian.Untuk memahami Al-Quran, ada ilmu tersendiri. Begitu juga untuk memahami Sunnah ternyata ada ilmu lain lain. Dan untuk memahami ilmu hukum syariah, ada lagi ilmunya. So, kalau baru sekedar bisa bahasa Arab itu belum paham apa-apa. Disitu saya terhenyak.

Kedua, Bisa dan paham Nahwu Sharaf itu tidak lantas bisa memahami kitab yang kita baca. Mungkin cocoknya untuk sekedar bisa baca buku pelajaran bahasa Arab, dengan kalimat mudah dan sederhana. Tapi begitu buka kitab turats misalnya, langsung bengong dan tidak mudah memahami isi teksnya secara begitu saja. Menerjemahkan kata perkata mungkin bisa saja. Tapi bagaimana memahami kalimat yang panjang dan paragrafnya tidak putus-putus? Susah sekali. Perlu kemahiran yang dilatih terus.

Ketiga, Proses penjenjangan dari sama sekali tidak paham bahasa Arab hingga ke level mendingan dikit, ternyata lama sekali. Tidak bisa dihandle dengan kursus seminggu sekali atau dua kali. Harus intens setiap hari. Lebih tepatnya harus dalam bentuk madrasah atau pesantren. Sedangkan kursus bahasa Arab seminggu dua kali itu sangat kurang, tidak cukup dan tidak ngefek. Keburu bosan dan berguguran muridnya di tengah jalan. Padahal belum sempat bisa. Masih dasar sekali.

Keempat, Belajar bahasa Arab itu peminatnya terlalu sedikit. Jam kursus seringkali harus kalah dengan kegiatan dan kajian yang lain. Apalagi kalau berhadapan dengan seminar tentang pernikahan. Atau pas kedatangan penceramah kondang. Maka yang seharusnya ikut kursus malah pada bubar.

Kelima, Kemampuan dasar rata-rata bahasa Arab kita jauh di bawah standar. Kita masih ribet melafalkan huruf Arab. Kalah jauh dibandingkan dengan kepopuleran kursus bahasa asing lain, seperti Inggris, Perancis, Korea atau Mandarin. Dan dalam keseharian, ketemu orang yang berbahasa Inggris, Mandarin atau Korea itu mudah. Tapi yang berbahasa Arab itu jarang sekali.

Keenam, Ada kesan bahwa belajar bahasa Arab itu tidak terlalu banyak berguna. Mau dipakai buat apa? Mau jadi TKI di Arab? Mau buat persiapan haji umroh? Kayaknya sama sekali tidak diperlukan. Murid saya pergi umroh atau haji ke Mekkah, dan mulai mencoba kemahiran bahasa Arabnya, malah orang arabnya pakai bahasa ammiyah.Diajak pakai fushah, mereka ogah. Tapi diajak ngomong Inggris malah cas cis cus. Dan kesannya kalau ngomong pakai bahasa Arab kok kayak agak direndahkan. Tapi giliran pakai bahasa Inggris, mereka jadi lebih hormat ke kita. Padahal kita lagi ada di Mekkah dan Madinah.

oOo

So, lama-lama saya pun menyerah kalah. Mau belajar bahasa Arab ya syukur. Tidak mau pun tak apa lah. Terserah saja.Kalau pun berminat, jangan minta saya mengajar. Males dan ogah. Sana gih belajar di tempat kursus mana kek gitu, yang mau telaten meladeni. Kalau saya sudah taubatan nashuha.Bahkan di Mekkah Madinah saat haji dan Umrah, nyaris saya gak pernah merasa harus ngomong berbahasa Arab. Apalagi kalau buat belanja, pakai bahasa Indonesia saja malah santai. Dan semua pada paham juga kok. Indonesia? Hebat. Mari-mari Murah murah.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed