by

India, Negara Paling Ramah dengan Si Miskin

Oleh: Otto Rajasa
 

Kalau ada orang miskin, datang ke suatu kota tanpa bekal yang cukup, sekonyong-konyong dia mendirikan rumah dengan kardus, kayu sisa, kain dan material seadanya di tempat-tempat yang bukan miliknya, di pinggir jalan, dikebun kosong, pinggir sungai, laut, rel kereta, dll, maka tugas pemerintah adalah mengajaknya dialog, menyiapkan rumah yang dekat dengan tempat kerjanya dan merelokasinya saat dia sekeluarga sudah setuju. Kira-kira begitu yang diusulkan banyak aktifis kemanusiaan utk Ahok. Memanusiakan manusia dalam pembangunan, kira-kira demikian idealnya. Mari kita lihat negara yg melakukan hal tersebut sebagai warisan budaya, adat istiadat dan religiusitas, India.

India adalah salah satu negara yang cukup mengakomodasi kemiskinan. Sehingga di India jangan heran kalau di samping hotel megah terdapat perkampungan paling kumuh didunia. Kampung-kampung kumuh dipelihara dan difasilitasi dengan bioengineering sesuai kemampuan. Ketertiban hukum adalah kerumitan paling puncak yang nyaris tak bisa dicapai. Semua hukum diberlakukan dg sangat lentur dg memperhatikan interaksi antar manusia. Jalanan di kota metropolis terbesar dan tercanggih di India konon seramai dan seruwet pasar paling kumuh di jakarta. Bel mobil bersahut-sahutan tiada henti, pemakai jalan zigzag sesuai intuisi. Dan pendapatan percapita India adalah kurang dari separuh Indonesia.

Kemiskinan mewarnai 80% penduduk India atau sekitar 900 juta jiwa. Rata-rata pendapatan percapita hanya 1.500 dollars per tahun. Rakyat Indonesia sedikit lebih kaya dg pendapatan percapita 3.500 USD. Malaysia 10.500 USD. Singapura, Jepang, Australia dan Amerika sekitar 47.000 USD. Terlalu jauh untuk dibandingkan. Negara-negara individualis itu terlalu tamak dan kaya.

Suatu hari di musim panas di awal 90-an seorang pemuda cerdas dari amerika yg sedang jatuh cinta dengan pemikiran Sang Buddha menjenguk India dan syok berat. Yang dia lihat, 90% masyarakat yang dibimbing oleh pemikir paling bijaksana yg amat ia kagumi tersebut ternyata dipenuhi kemiskinan dan kesengsaraan. Ia sempat bertanya dalam hati: siapa sebenarnya yg lebih memberi manfaat, para bijak bestari ataukah jangan-jangan penemu bola lampu – Edison? 

Hingga sebulan lamanya si pemuda – Steve Jobs, tak mendapatkan jawaban yg memuaskan dan sedikit goyah. Yang ia catat India adalah kontradiksi. Seorang perempuan kaum Paria yang bertugas memikul kotoran manusia dari toilet-toilet umum yang mampet di seluruh sudut kota, konon masih bisa bahagia. Bau tumpukan tai berhari-hari yang mereka ambil dari toilet-toilet umum yang rata-rata rusak dengan cethok dan tangan telanjang serta dipikul diatas kepalanya itu rupanya tidak cukup mengguncang kebahagiaan mereka.

Tertarik mengikuti India???

(Sumber: Facebook Otto Rajasa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed