by

Imanu dan Ingkaro

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Saat kuliah dulu, ada aturan dari ITB: Kalau nggak ikut UTS atau UAS, nggak akan ada ujian susulan apa pun alasannya. Kalau sakit? ya tetap nggak ada susulan. Maka usahakan jangan sakit. Caranya? ya istirahat cukup, olahraga cukup , makan yang bergizi atau jalani kebiasaan hidup yang baik. Sakit adalah konsekuensi dari kebiasan hidup kita. (kecuali sakit bawaan).

Begitu logikanya. Nggak peduli yang beriman atau yang atheis sama2 akan berpeluang sakit.

Tanpa sadar sering pada orang beriman itu ada rasa sombong : kami lebih baik dari mereka. Pun dalam perbincangan kemajuan bangsa, sering ada senjata pamungkas : tapi mereka kan tidak mendapat ridho Tuhan, nanti di akherat mereka akan menerima siksa. Atau, tindakan mereka tidak dinilai ibadah.Sementara orang tidak beriman lebih slow menanggapi orang yang beriman, merasa tidak ada kelebihan dan tidak perlu membicarakan orang-orang beriman.Itu perbedaan mencolok. Yang lain ?

Mari kita lihat, sebut saja imanu & ingkaro.Urusan sakitIngkaro akan cari obat saat sakit. Kalau nggak berhasil akan ke dokter. Bisa diopname atau rawat jalan. Bisa dioperasi atau cukup diberi obat dan perawatan tertentu.Imanu kalau sakit? Sama, akan cari obat lalu ke dokter dan berlanjut seperti si ingkaro opname atau operasi. Bedanya, si iman akan menyertai dengan doa. Peluang sembuh? Menurut saya sama, imanu dan ingkaro punya peluang sembuh yang sama. Tinggal obatnya cocok tidak atau pikiran dan tindakannya mendukung kesembuhan atau tidak. Imanu kalau nggak berobat dan hanya berdoa akankah sembuh?

Urusan bertandingImanu kalau bertanding sepak bola harus main bagus agar bisa menang. Sebelum bermain mereka harus latihan memberi umpan, menerima umpan, tendang, tendang pojok, drible, lari, nyundul bola dsb. Tanpa latihan keras, sulit bermain bagus saat bertanding. Juga perlu asupan gizi dan istirahat yang cukup agar stamina kuat. Ingkaro? sama, mereka harus melakukan latihan keras dan juga bermain bagus saat bertanding. Si imanu akan berdoa agar bisa menang. Si ingkaro juga berharap bisa menang. Imanu kalau nggak latihan dan berdoa saja, akankah menang?

Kemungkinan sulit menang jika lawannya juga imanu yang rajin berlatih. Bahkan jika lawannya Ingkaro pun, si Imanu sulit menang tanpa latihan keras meski semua pemain berdoa dan berdzikir sepanjang pertandingan didukung doa seluruh penduduk negaranya sekalipun.Mencari makanIngkaro akan belajar keras, melatih diri dengan ketrampilan, melamar pekerjaan atau membuka usaha. Trik dan tip suskses diterapkan agar bisa diterima kerja atau usahanya sukses. Imanu juga melakukan hal yang sama. Cuma imanu menyertai dengan doa. Apakah Ingkaro lebih sulit mencari kerja karena tanpa doa?

Tidak juga, selama dia punya skill yang dibutuhkan, dia akan berpeluang. Apakah Imanu lebih mudah mendapat kerja? tidak juga, tergantung skill dan usahanyaKebahagiaanApakah imanu lebih bahagia? Rasanya tidak juga. Kebahagiaan milik semua orang, baik yang Imanu maupun Ingkaro. Imanu jika egois , rakus, grusa grusu, tidak mau berbagi, ya sulit juga meraih bahagia. Sebaliknya ingkaro kalau nrimo, pintar menikmati yang dipunyai, rajin berbagi, dia mungkin akan bahagia. Apakah indeks kebahagiaan hanya milik bangsa2 yang sebagian besar penduduknya masuk imanu? Nggak. Negara2 Skandinavia yang langganan mendapat indeks kebahagian tertinggi.

Lihat urutan indeks kebahagiaan berikut untuk 2020:Finlandia-Denmark-Swiss-Islandia-Norwegia-Belanda-Swedia-Selandia Baru-Luksemburg-AustriaNegara-negara kecil dengan jumlah penduduk tidak banyak dan mengurus negaranya dengan baik, yang mendapatkan indeks kebahagiaan tertinggi. Mereka bukan negara2 yang tinggi tingkat imanunya. Kalau mau disusul dengan indeks korupsi juga akan menunjukkan negara-negara dengan penduduk Imanu tidak lebih baik dari yang Ingkaro.

Mungkin Imanu masih berkilah bahwa kebahagiaan kita nanti di kehidupan sesudah mati. Yakin? Benarkah nanti sesudah mati ada kehidupan seperti yang sekarang kita jalani, dan orang2 Imanu pasti akan lebih bahagia? Ini misteri bagi kita semua. Kita sama2 tidak tahu.Kalau ada yang merasa tahu, itu juga cuma meyakinkan diri. Aslinya ya masih mangu2, atau bertanya-tanya. Kembali ke pertanyaan awal tadi, lalu apa bedanya? Ya hampir sama, dalam menjalani hidup, baik imanu dan ingkaro melakukan hal-hal yang sama. Butuh makan, kerjaan, usaha, berteman, bersosialisasi, berobat, menggunakan teknologi, bertingkah laku baik, berbagi, kadang berantem, dsb.

Bedanya yang satu disertai doa dan merasa bernilai ibadah, yang satu menjalani dengan pertimbangan kenyamanan diri, dan tidak ada harapan nanti bakal dapat imbalan pahala atau siksaan. Tapi imanu dan ingkaro menjalani hidup yang mirip. Kalau antara imanu dan ingkaro menjalani hidup yang mirip, mengapa kita sering mengecap ingkaro itu sesat, akan masuk neraka, terkutuk, kejam, sadis. Padahal kehidupan kita mirip2 juga. Kenapa sesama imanu malah sering ribut? Ribut membicarakan hal2 kecil dan merasa dirinya yang paling benar? Ya sekedar renungan…..

Saya imanu tapi saya tidak merasa lebih baik dari Ingkaro. Kadang saya iri kenapa sering menyalahkan setan, lalu memaksa Tuhan mengabulkan keinginan saya, lalu mengadu kalau ada persoalan. Sementara Ingkaro percaya hukum alam berjalan dengan adil dan baku, perbuatan baik akan melahirkan kebaikan dan sebaliknya. Nuwun sewu …

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed