by

Ilmuwan dan Medsos

Orang memandangnya sebagai paradoks. Bagaimana mungkin seorang penulis yang seharusnya butuh publisitas dan coverage malah tidak punya alat komunikasi dan tidak pula mengelola medsosnya sendiri untuk menyapa penggemarnya? Tapi dia punya pilihannya sendiri. Dan ia masih dengan tangan terbuka menyapa siapa saja yang mau bertemu dan berdialog dengannya tanpa perlu perantara alat komunikasi. Katanya, adat Melayu adalah suka berbincang-bincang secara langsung sampai larut malam, ditemani kopi dan camilan, jangan sampai hilang digantikan dengan teknologi modern.
***
Ada juga teman saya yang menghilang beberapa saat dari dunia medsos untuk menyelesaikan disertasi keduanya di Jepang. Katanya, medsos itu distraksi buat dia, membuat dia tidak konsen menyelesaikan disertasinya. Rehat sejenak dari dunia medsos, membuat dia fokus dan akhirnya bisa menyelesaikan disertasinya dengan cemerlang.
Ada pula rekan yang dulu sangat aktif dengan berbagai pencerahannya di dunia medsos. Tidak pernah berhenti berbagi sesuatu yang menarik dan memantik diskusi yang panjang lebar. Hingga tiba-tiba dia menghilang begitu saja dari berbagai situs medsos dan aplikasi group chatting. Kabarnya, dia menarik diri dari dunia medsos, tapi masih bisa dikontak secara japri. Kelihatannya, dia lebih tenang dan bisa mendalami pencerahannya sendiri, tanpa harus berdebat dan melayani orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat dan pencerahannya.
***
Tulisan ini tidak bermaksud untuk melarang orang untuk mempunyai email, mempunyai HP, medsos, atau aplikasi group chatting. Tiap orang punya kepentingannya sendiri-sendiri. Tidak semua orang adalah profesor seperti Pak Knuth atau penulis terkenal seperti Andrea Hirata.
Tapi kita juga bisa melihat bahwa ada pilihan-pilihan lain. Orang masih bisa hidup tanpa punya HP dan email, bahkan bisa lebih produktif. Orang tidak perlu khawatir disangka memutus tali silaturahim karena keluar dari WA group, misalnya, karena dia masih bisa dikontak dan diajak berkomunikasi via japri atau ketemu langsung.
Orang juga tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti semua perkembangan teknologi kalau memang tidak mau. Tidak perlu harus semua orang jadi youtubers, punya instagram, atau ikut-ikutan tiktok yang lagi ngetren. Tidak semua orang berbakat dan harus ikut-ikutan tren. Toh seorang profesor ilmu komputer pun bahkan merasa tidak perlu punya email sendiri dan memilih untuk berfokus pada hal yang lebih penting menurutnya, menulis buku dan mengembangkan keilmuan.
Tidak usah khawatir tidak ikut tren. Tidak harus segala yang ada di dunia maya kita ikuti. Tidak harus apa yang di medsos kita tanggapi dan kita jawab. Kita bisa menguasai dan mengendalikan apa yang kita tuliskan dan kita baca. Jangan pernah merasa kita jadi diperbudak oleh teknologi, oleh medsos, atau pendapat/perkataan orang. Orang bebas memilih dan merdeka untuk menentukan mau ikut atau tidak, dan di luar sana masih banyak orang yang bisa aktif bekerja dan berkontribusi tanpa perlu sedikit-sedikit melaporkan diri di dunia medsos.
Jadi semua ini hanyalah pilihan. Email, medsos, handphone, ataupun aplikasi group chatting, semuanya adalah alat berkomunikasi, tapi bukan satu-satunya cara. Jangan sampai kita merasa diperbudak dengan keharusbeginian atau keharusbegituan yang sebenarnya tidak perlu dan malah jadi beban pikiran kita. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita tetap tenang dan bisa mengendalikan segala sesuatu, termasuk cara berkomunikasi dan cara kita berhubungan dengan orang lain dan lingkungan kita yang perlu dilakukan secara lebih wajar dan kembali alami, tanpa dibatasi perangkat atau gadget.
 
Sumber : Status Facebook Wikan Danar Sunindyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed