HUT ke-74 RI dan Bebas dari Provokasi

Mungkin lebih enak kalau bahasannya turun sedikit bukan di tataran ideologi (karena suka buat orang kesasar) tapi imagining community di tingkat keseharian saja.

Ustadz Abdul Somad bilang di salib itu ada jin kafir. Kang Hasanudin Abdurrahman bilang ya gak usah marah wong itu ceramah buat internal muslim aja. Giliran saya yang geneg lho kalau gitu kenapa Ahok yang ucapannya cuma buat konteks program Kepulauan Seribu dianggap wajar kalau membuat muslim se-Indonesia tersinggung dan doi masuk penjara. Kenapa Meliana yang cuma ngebisikin tukang warung dianggap wajar kalau buat orang sekampung marah, bakar klenteng dan berujung ibu muda ini dipenjara. Dalam keributan debat sehari-hari beginilah sebenernya proses riil kita menyusun ulang konsensus kita tentang bernegara, berbangsa, berkomunitas. Apa konsensus kita tentang arti kata bhineka. Kata adil. Kata sejahtera. Begitulah salah satu makna riil dari “mengisi kemerdekaan”, mengisinya dengan menyusun konsensus terus menerus.

Selamat ribut-ribut selalu, ribut yang penting, harus, dan selow, warga Indonesia. Kalau dulu kita rame panjat pinang, sekarang rame panjat status di sosmed. Tetap dengan keceriaan yang sama.

Foto: lomba makan kerupuk 17-an ITB@Bogor tahun 2015, aturannya makan 1 kerupuk super besar rame2 satu grup ditahan pake mulut tangan dibelakang punggung gak boleh pegang kerupuk, kalahkah seseurian wungkul kerupuk lalesotan mau jatuh jadi aja kalah sama grup cowok (in memoriam sahabat terbaik, almarhumah teh Ani Sulaksani)

Sumber : Status Facebook Chitra Retna S

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *