by

Hukum Allah Itu Bukan Apa yang Disebut Syariah

      Jadi jika setiap oang punya hak dan tanggung jawab atas hasil dan akibat dari apa yg ia lakukan, hal tsb bukan karena tertuang dlm Al Quran, melainkan sudah terpasang pada tabiat manusia yg Allah ciptakan. Al Quran hanya MENUNJUKKAN dan MENGINGATKAN.

        Selaras dg ketentuan di atas, adalah hukum Allah juga bahwa setiap orang punya kuasa dan hak mutlak atas segala sesuatu yg nenjadi miliknya. Jika seseorang memiliki sesuatu barang misalnya, mau diapain pun itu barang ya sah2 saja karena memang miliknya. 

         Ketika Allah memberi arahan/petunjuk kepada “klien-Nya”, yaitu orang2 (lelaki) beriman yg ingin selamat dunia akhirat, bahwa mereka harus “menjaga kemaluan”.  Yg Allah bolehkan untuk menyalurkah hasrat libido mereka itu hanya kepada ISTRINYA, yaitu pasangan sah dalam keluarganya (bukan perempuan yg asal sudah “dinikahi”). Atau boleh juga (jika punya) perempuan yg ia miliki (budak/sahaya petempuan), karena setiap apa yg dimiliki itu mau diapain pun boleh.
وَٱلَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَٰفِظُونَ ۔ إِلَّا عَلَىٰٓ أَزۡوَٰجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ ۔ فَمَنِ ٱبۡتَغَىٰ وَرَآءَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡعَادُونَ
.. Dan orang2 yang menjaga kemaluannya,
kecuali kepada istri2 mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka (dg begitu) sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barang siapa mencari di luar itu, berarti mereka melanggar. (Al Mukminun : 5-7)

      Secara teknis, sekali lagi secara teknis, ada banyak cara yg bisa menyalurkan hasrat libido, merasakan kenikmatan seksual. Bisa dg perempuan yg mana saja, dg partner sejenis pun bisa terpuaskan. Dg solo action bahkan dg hewan atau benda2 buatan pun bisa. Dan Allah tidak “melarang” manusia untuk untuk mengambil cara apapun. “Tidak melarang” itu dlm arti tidak menggunakan kuasa-Nya untuk mencegah manusia bisa melakukan itu. Dengan kata lain, kesenangan2 itu oleh Allah tidak “digembok”, tertap terbuka. Dengan demikian Allah tetap konsisten dg janjiNya bahwa di bumi ada kesenangan bagi manusia sampai suatu waktu. Jika Allah mau mudah saja bagi Allah membuat manusia tidak bisa melakukannya, tidak harus menyuruh sebagian manusia melarang manusia lainnya.

       Tapi bagi orang2 mukmin yg menjadi “klien” Allah, yaitu yg telah berserah diri (Muslim) kepadaNya, mereka hanya dibolehkan dg ISTRInya (pasangan sah dlm keluarga, bukan “istri dadakan” lewat “nikah sirri” atau “kontrak”). Atau dg budak perempuan yg ia miliki (“milkul yamiin”).

       Jadi “”HUKUM”Nya bukan berbunyi : “Allah membolehkan Muslim menyetubuhi budak perempuan miliknya tanpa dinikahi”. melainkan : “Manusia berhak melakukan apa saja atas segala sesuayu yg menjadi miliknya”. Hukum Allah itu universal. Karena budak itu termasuk “harta” yg dimiliki, maka pemiliknya boleh melakukan apa saja atas miliknya itu.

        Sebenarnya Allah sendiri tidak suka pada budaya perbudakan itu. Buktinya, Allah mengapresiasi orang2 yg mau memerdekakan budak sahaya miliknya, dan Allah menilainya sebagai suatu kebajikan. Tapi Allah tidak hendak mengintervensi budaya manusia mengingat izin asasi-Nya bahwa manusia berhak atas apa yg didapat dari usahanya, dan menikmati kesenangan (mataa’un ilaa hiin)

        Salain itu, Allah Maha Nengetahui segalanya. Semua yg terjadi gumelar di bumi ini adalah agenda-Nya, urusan-Nya, manifestasi dari KalimahNya. Manusia itu makhlukNya yg Dia pasangi jiwa (rasa, karsa, cipta) yg semakin beradab dari zaman ke zaman. Allah Maha Tahu akan seperti apa kehidupan manusia itu ke depannya.  Pola rasa, pola karsa dan pola pikir manusia berubah dari masa ke masa, dari pola primitif (barbarian) bertumbuh semakin halus, lembut dan beradab. Maka pada akhirnya pola rasa manusia itu sendiri menolak budaya perbudakan dan harus mengakui hak kemerdekaan setiap individu. Maka budaya perbudakan itu hilang dg sendirinya tanpa Allah harus melarangnya atau mengerahkan kekuatan untuk memberantasnya.

         Di zaman sekarang dimana perbudakan itu sudah lenyap dari kehidupan manusia, tidak layak lagi adanya wacana terkait perbudakan, karena sudah tergolong “ayat2 yg sudah dihapus” (mansukh) sebagaimana disebut pada Al Baqoroh : 106 tsb di atas.  Ayat ttg milkul yamin dlm Al Quran akan tetap ada tapi “pasanganya” yaitu fenomena yg disinari cahayanya sudah tidak ada. Ibarat sepatu hilang sebelah, maka sebelahnya gak bisa dipake lagi.

        Komitmen Allah pada janjiNya itu terbaca pula pada fenomena budaya khamar (miras) yg sudah jadi budaya manusia sejak zaman kuno, dan masih membudaya di kalangan kaum Muslimin di Madinah. Sejauh itu Allah membiarkan saja tidak menyinggung2, sampai ketika orang2 sudah mulai menyadari bahwa khamar itu lebih banyak madorotnya daripada manfaatnya, Allah hanya mengiyakan apa yg orang2 sadari itu tanpa mengeluarkan larangan. Bahkan ketika terjadi seseorang yg sedang solat tidak karuan solatnya karena sedang mabuk, malah solatnya yg Allah suruh “mengalah”. “Jangan solat dulu kalau kamu sedang mabuk” (An Nisa:43). Seakan akan menurut Allah “mabuk khamar itu gapapa, bentar juga waras, masih sempat solat nanti setelah waras”.

       Mengapa Allah masih toleran dg budaya (mabuk) khamar meskipun Allah sebut lebih besar madhorotnya ? Karena Allah konsisten dan komitmen pada janjiNya kepada manusia sejak awal Adam dilepas di Bumi, yaitu : 
  ۔۔ وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ
… dan bagi kamu di bumi ada TEMPAT MENETAP dan KESENANGAN sampai suatu waktu.” (Al Baqoroh : 36, Al A’raf : 24)

         Selain itu, Allah menciptakan manusia itu bukan hanya sosok fisiknya, tapi juga perilakunya. 
وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ
Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan.” (Ash Shaffat : 96)
         Maka dari itu Allah tidak pernah mengitervensi atau merecoki perilaku budaya manusia yg bagaimanapun corak dan sifatnya, karena semua fenomena dari perikehidupan makhluqNya, Allah-lah yg “mendesain” dan menciptakannya, dan Allah punya urusan dan agenda tertentu dg semua itu.

         Oleh karena itu, kepada orang mukmin yg telah berserah diri kepadaNya untuk siap taat, siap dibimbing, diarahkan dan diatur perilakunya, Allah mengarahkan mereka agar perbuatan2 maksiyat seperti mabuk khamar, judi dan zina itu JAUHI, JANGAN MENDEKATI. Artinya kalian jangan ikut melakukannya, tapi tidak ada izin (apalagi perintah) untuk merecoki apalagi memberantas budayanya pada kehidupan manusia. Allah masih punya urusan lain dg semua itu, antara lain komitmen Allah akan janjiNya kepada manusia seperti terurai di atas. Allah bukan hanya mengurusi orang2 Muslim saja sehingga segala kontens kehidupan ini harus sesuai dg urusan dan keinginan mereka. Segala isi alam semesta ini adalah aset milikNya, dan Allah punya urusan agenda tertentu dg semua itu. Siapapun tidak dibenarkan merecoki, mengintervensi atau merusak urusan dan agenda Allah tersebut.

           Selain itu,  keimanan macam apa jika kesiapan untuk taatnya itu disertai sikap arogan dan ngelunjak terhadap kebijakan Allah, seperti misalnya :
> Siap taat tidak minum miras, tapi (syaratnya) tidak boleh ada yg memproduksi atau memperdagangkan miras 
> Siap tidak berjudi, maka tidak boleh ada budaya judi pada kehidupan manusia 
> Siap tidak berzina, tapi tidak boleh ada perempuan yg terlihat menarik 
> Siap taat berpuasa, tapi jangan ada yg pamer atau menjual makanan di siang hari..
Kan aneh. Iman macam apa kalau bgitu. Emangnya Allah hanya mengurusi orang2 Muslim saja atau menghendaki semua manusia jadi Muslim. Jelas tidak kan..?

           Demikianlah Hukum Allah itu UNIVERSAL, terpasang tegak dan kokoh mengatur kehidupan alam semesta dan makhluk2-Nya. Allah tidak butuh bantuan siapapun untuk “menegakkan” hukumNya, karena tak satu makhlukpun yg bisa melawan hukum Allah. Orang2 yg keberatan dan ingin mengingkari hukum2 Allah seperti yg teruraikan di atas, itulah orang2 yg KAFIR.

           Apa yg sebagian orang sebut “syari’ah” itu bukan hukum Allah karena tidak bersifat universal, melainkan bentuk implementasi dan aplikasi dari petunjuk Allah untuk kehidupan Umat Muslimin pada ruang dan zamannya masing2, dibawah pimpinan/bimbingan “Imam Muttaba’-nya” masing2.
۔۔۔ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ ۔۔
… Untuk setiap (umat) di antara kamu, Kami jadikan “syari’at” dan “manhaj” (aturan dan panduan) masing2. Jika Allah menghendaki, bisa saja kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu dalam hal apa yg Dia datangkan kepadamu, maka berlombalah untuk kemajuan/keunggulan (khoeroot)… (Al Ma’idah : 48)

        Maka dengan demikian, menggadang2 apa yg mereka sebut “syari’ah” untuk mengatur setiap sisi kehidupan publik yg heterogin adalah sesuatu yg mengada2 tanpa dasar kebenaran.
Sumber : Status Facebook Uju Zubaidi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed