by

Hilangnya Relevansi Agama Pada Science?

Oleh : Pitoyo Hartono

Saya iseng membuat model matematika utk menerangkan pupusnya relevansi agama pada perkembangan science 200 tahun belakangan ini. Islam saya sebut secara spesifik, karena saya tidak pernah mendengar ada umat agama lain mengaitkan agamanya dengan perkembangan science.

Pada model ini, x(t) adalah level peradaban science yg agnostik (yg nggak ngerti kata agnostic lihat kamus dulu sebelum njeplak, agnostic tidak berarti anti agama, agnostic berarti netral dari pengaruh apapun yg nggak relevan dengan fokus diskusi), pada saat, t. Sedangkan y(t) adalah level peradaban science dalam pengaruh agama.

Kita mulai dari x(t), yg saya tulis dng tinta biru pada foto. Perkembangan x(t) dapat kita tulis dng dx(t)/dt (ini kalkulus dasar yg diajarkan di SMA). Di sini,

dx/dt = alpha x (di mana alpha > 0). Ini artinya, x(t) berkembang secara proporsional dng x itu sendiri. Ini asumsi yg wajar karena makin banyak pengetahuan seseorang kemampuannya utk menyerap pengetahuan baru lebih besar.

Ini persamaan deferensial yg sangat dasar, bisa diselesaikan oleh anak SMA. Tapi utk menyingkat waktu ini saya selesaikan dng transformasi Laplace yg mengasilkan

x(t) = x(0) exp(alpha t), di mana x(0) adalah pengetahuan mulanya.

Kita bisa melihat bahwa pengetahuan ini akan berkembang secara exponensial.

Selanjutnya y(t). Agama yg men-claim bahwa semua pengetahuan di dunia sudah ada pada agamanya mengimplikasikan bahwa tidak ada pengetahuan baru di luar agamanya. Manusia hanya bisa belajar utk sedikit demi sedikit memplejari yg sudah ada. Hal ini bisa diekspreskan dng persamaan deferensial

dy/dt = beta – gamma y.

ini berarti bahwa pengetahuan seseorang berkembang berdasarkan beda antara apa yg diketahuinya dng apa yg bisa diketahuinya, dan menghasilakan persamaan dibaris akhir bagian yg saya tulis dng tinta merah. Bisa kita lihat bahwa ada limit yg bisa dicapai, di sini diekspresikan dng beta/gamma.

grafik pertama menunjukkan perkembangan x(t) dan y(t), sedangkan grafik kedua menunjukkan ratio keduanya:

rx(t) = x(t)/(x(t)+y(t), ry(t) = 1- rx(t).

gampang dimengerti bahwa ratio perkembangan science yg agnostic terhadap agama akan naik terus, dan yg berdasarkan agama jeblok terus. Mengubah parameter alpha, beta, gamma tidak mempengaruhi bentuk dasar dari solusi di atas.

Ini model matematis yg sangat mendasar, yg saya harap bisa dimengerti oleh orang yg telah menyelesaikan pendidikannya di SMA (ingat “menyelesaikan pendidikan” itu beda dng menghapal utk punya ijasah). Ini gunya matematika, utk membantu berpikir, bukan utk dihapal utk lulus ujian, lalu setelahnya nggak berguna bagi apapun.

Model matematis ini nggak terlalu berbeda dng kenyataan yg terjadi 200 tahun belakangan ini.

Pada mulanya, agama turut berperan besar pada perkembangan science. Peradaban Islam berperan besar dalam mengembangkan matematika (terutama geometri dan aljabar), kedokteran, teknologi pengairan dsb. Univ. of Cambridge didirikan utk mendidik imam. Dulu ada peraturan di univ. ini bahwa dosen yg telah mengajar selama 7 tahun dihadapkan pada dua pilihan, ditahbiskan sebagai imam atau keluar dr univ. Newton adalah salah satu orang pertama yg mendapat dispensasi dari peraturan ini.

Reneissance di Eropa membebaskan science dari belenggu agama. Dan setelah revolusi industri, praktis tidak ada peran agama utk perkembangan science. Sekarang dunia tengah berada dalam revolusi industri yg ke-4 (Industry 4.0).

Saya harap ini bisa menjadi bahan pikiran utk masa depan pendidikan di Indonesia. Ingat index literasi science kita babak belur, begitu pula dng level inovasi kita. Universitas negeri

terbaik kita masih berada dalam level antah berantah dalam bidang science, bukan di tingkat dunia tapi di tingkat Asia sekalipun.

Agama-sentris pendidikan dasar kita cuma akan membawa bangsa kita makin terpuruk dalam inovasi science. Letakkan agama dalam proporsi yg waras pada strategi pendidikan.

Tentunya argumen ini semua tidak ada artinya kalau kita tujuan hidup kita: “nggak masalah jadi pecundang di dunia asal berjaya di syurgah !”

Sumber : Status Facebook Pitoyo Hartono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed