by

Hidup Berbagi

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Hidup memang bukan hal yang sulit di maknai asalkan kita sadar akan firman Allah ” Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.Cobaan itu bukan hanya perjuangan menafkahinya tapi lebih dari itu sadar bahwa mereka adalah bagian dari titipan Allah. Ada lagi titipan Allah yang harus dilaksanakan yaitu menebarkan kebaikan dengan harta yang ada.

Kesalehan social harus menjadi bagian dari rasa syukur atas rezeki yang Allah beri. Dari tabungan kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Karena bukan tidak mungkin anak yang diharapkan sebagai tongkat kita di masa tua, tidak bisa berbuat lebih karena alasana tertentu tapi ada orang lain yang bukan siapa siapa tapi pernah merasakan kebaikan kita ,justru dialah yang selalu ada untuk kita dan menjaga kita dari ketuaan dan kelemahan kita.

Malam telah larut. Kami bertiga jalan kaki menyusuri trotoar jalan. Langkah kaki kami di hentikan oleh seorang biarawan yang menegur kami dan mendoakan kami. Teman saya yang lebih tua hanya tersenyum sambil berkata “ terlalu mudah dia dapatkan uang”.Tapi teman saya satunya lagi memegang bahu biarawan sambil menyelipkan uang di dalam lipatan kertas berisi himbauan hidup berbagi. Saya hanya tersenyum meliat peristiwa itu.

Memang tidak mudah merubah sikap orang, apalagi menganggap harta itu bukan berasal dari Tuhan tapi karena kerja keras semata. Tapi akan selalu ada orang percaya bahwa bukan soal dari mana harta itu datang tapi memberi dan berbagi itu memang indah dan membahagiakan. Apakah itu kurang cukup bukti bahwa Tuhan hadir di dalam diri kita dan meniupkan pesan tentang cinta, selalu. Masalahnya apakah kita merasakan kehadiran Tuhan yang mengharuskan kita menegakan keadian bagi mereka yang papa…** (ak)

Sumber : Facebook Erizeli Jely Bandaro

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

by

Hidup Berbagi

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Hidup memang bukan hal yang sulit di maknai asalkan kita sadar akan firman Allah ” Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.Cobaan itu bukan hanya perjuangan menafkahinya tapi lebih dari itu sadar bahwa mereka adalah bagian dari titipan Allah. Ada lagi titipan Allah yang harus dilaksanakan yaitu menebarkan kebaikan dengan harta yang ada.

Kesalehan social harus menjadi bagian dari rasa syukur atas rezeki yang Allah beri. Dari tabungan kebaikan itu akan kembali kepada diri kita sendiri. Karena bukan tidak mungkin anak yang diharapkan sebagai tongkat kita di masa tua, tidak bisa berbuat lebih karena alasana tertentu tapi ada orang lain yang bukan siapa siapa tapi pernah merasakan kebaikan kita ,justru dialah yang selalu ada untuk kita dan menjaga kita dari ketuaan dan kelemahan kita.

Malam telah larut. Kami bertiga jalan kaki menyusuri trotoar jalan. Langkah kaki kami di hentikan oleh seorang biarawan yang menegur kami dan mendoakan kami. Teman saya yang lebih tua hanya tersenyum sambil berkata “ terlalu mudah dia dapatkan uang”.Tapi teman saya satunya lagi memegang bahu biarawan sambil menyelipkan uang di dalam lipatan kertas berisi himbauan hidup berbagi. Saya hanya tersenyum meliat peristiwa itu.

Memang tidak mudah merubah sikap orang, apalagi menganggap harta itu bukan berasal dari Tuhan tapi karena kerja keras semata. Tapi akan selalu ada orang percaya bahwa bukan soal dari mana harta itu datang tapi memberi dan berbagi itu memang indah dan membahagiakan. Apakah itu kurang cukup bukti bahwa Tuhan hadir di dalam diri kita dan meniupkan pesan tentang cinta, selalu. Masalahnya apakah kita merasakan kehadiran Tuhan yang mengharuskan kita menegakan keadian bagi mereka yang papa…** (ak)

Sumber : Facebook Erizeli Jely Bandaro

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed