by

Hidup Bak Kulir Ari

Istri saya mualaf yang berjilbab setelah pulang haji, kalau mau jujur saya lebih suka dia tak berjilbab, saya suka dia berselendang saja seperti ibu saya tahun 50-70an, islam Indonesia, anggun dan serasi. Nggak harus membungkus kepala sampai seperti karung beras.
Dua anak saya yang cewek juga tak berjilbab, saya fineĀ² saja, karena itu pilihan. Yeny Wahid, Bu Shinta, Najwa Shihab tak berjilbab. Dan menurut Prof. Quraisy Shihab, jilbab itu pilihan, dan masih terus dan terus masuk ranah perdebatan. Ini yang ngomong ulama besar ya, bukan Kepsek.
Kita ini terlalu doyan ngambil hak Tuhan, sampai urusan perempuan yang katanya banyak jadi penghuni neraka, iseng banget Gusti Allah, menciptakan perempuan hanya untuk di jebloskan ke neraka hanya karena sehelai rambut kepalanya nongol keluar dari jilbabnya dan nempel dijidatnya.
Kita sudah terperosok jauh hidup dengan simbol dan bungkusan dunia. Pakai Gamis terus jadi ulama, pakai jilbab dan baju syar’i sampai sepatu, terus jadi ustadzah. Pakaian jadi simbol kesucian, kelakuannya seperti kucing ” celutak “. Itu liat di NTB ada pengggede partai islam nunggangi anak kandung sendiri, ada guru ngaji mencabuli 13 orang santri, ada serombongan mahasiswi di Aceh yang baru digiring polisi pada kasus prostitusi semua pakai jilbab.
Sekarang banyak pelacur menjajakan diri pakai jilbab untuk menaikkan harga karena dianggap suci dan lugu, padahal tetap saja lengusannya oh iya, oh oh, honey oh..ini semua tertipu karena bungkus saja.
Jadi sudahi sajalah perdebatan murahan itu, beragamalah dengan kelakuan bukan dengan pakaian, khsusu’lah dengan tawaduk dan tindakan bukan dengan cibiran. Jadillah islam beneran, bukan islam Maling Kundang.
SUDAH SANA AMBIL TOA NYA.
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed