by

Hidup adalah Perjuangan

Tapi ada juga kisah sukses teman saya. Dia hanya mengambil asesoris kecil (biasanya pentil, tapi yang bagus jadi agak mahal). Modusnya; dia ambil 3 pentil per-hari, dia taruh di bawah lidah dalam mulut. Begitu terus dan katanya sudah bertahun-tahun. Nggak pernah ketahuan Satpam pabrik. Dia bilang kuncinya harus istiqomah; tiap hari nggak boleh bawa lebih dari 3 pentil. Katanya dia juga sudah minta jompa-jampi dari dukun untuk hal itu agar tidak ketahuan (manjur juga dukunnya ya hehe). Hasilnya pentil-pentil itu dia jual ke penadah, meski katanya dengan harga sangat miring hehe.

Selama menjadi buruh pabrik, saya ngontrak di sebuah kamar kecil di dekat pabrik. Ukurannya mungkin nggak sampai 5×5 meter. Ruangan itu kami tempati ber-empat. Saya dengan 3 teman dari kampung saya, Danasri Cilacap. Tidak ada barang apapun dalam ruangan itu kecuali meja kecil untuk menaruh Tivi dan kardus-kardus tempat baju. Dengan begitu, ruangan menjadi cukup untuk tidur kami ber-empat. Sebenarnya nggak pernah benar-benar tidur ber-empat. Karena kami selalu bekerja dalam shift yang berbeda-beda. Kalau nggak salah, kami harus membayar sekitar 70 ribu per-bulannya, sehingga kami ber-empat patungan 20 ribu per orang. Sisa 10 ribu untuk beli sabun dan lainnya.

Babakan Madang adalah kawasan pabrik. Banyak pabrik baru dibangun. Oleh karenanya banyak juga kontrakan ala kadarnya berdiri. Berhimpit-himpitan. Penuh sesak. Akibatnya banyak geng-geng baru bermunculan. Kegiatan mereka malak (minta uang) utamanya sabtu malam karena para buruh habis terima uang gaji. Jam 23, mereka sudah siap digang-gang, berkelompok untuk malak buruh-buruh seperti saya. Karena itu kalau sedang shift 2, saya tak pernah sabtu malam pulang sendiri. Biasanya pulang kontrakan bareng-bareng. Kalau sudah begitu, geng pemalak kadang tidak berani memalak kami.

Karena dulu tingkat-kriminalnya tinggi, saya juga jarang menaruh barang-barang berharga di luar ruang kontrakan. Apalagi kalau malam. Pernah ‘maaf’ celana dalam saya yang apek heheh, malam-malam saya lupa taruh di luar karena belum sempat nyuci, eh paginya sudah hilang wkwkwk. Apalagi kalau yang ditaruh diluar sandal, sepatu dan lainnya, dijamin hilang paginya.

Kawasan Babakan Madang itu juga dulu bertanah lempung. Airnya sering kotor. Itu dilemma bagi kami para buruh. Untuk mandi dan cuci nggak masalah. Tapi merebus air yang kotor untuk di minum rasanya gimanaaaa gitu hehe. Sementara, kalau harus beli air-mineral kemasan harganya mahal untuk para buruh bergaji minim. Solusinya saya akan banyak-banyak minum ketika makan di warteg. Saya memang langganan warteg karena murah dan kadang bisa ngutang dulu kalau belum gajian, sementara uang habis untuk di kirim ke kampung dan atau keperluan lainnya. Kebetulan dialek ngapak di antara saya dan pemilik warteg lebih memudahkan untuk memupuk rasa saling percaya di antara kami. Jadi kalau kepepetnya saya harus ngutang makan, no problemooo hohoho…

Kalau habis gajian, biasanya uang saya gunakan untuk nonton film India di bioskop di citeureup. Kadang-kadang, wiken saya pergi ke Taman Topi di Bogor untuk nongkrong. Kalau pas ada pertunjukan musik, saya bisa sampai malam nongkrong di situ. Diantara teman-teman pabrik, saya yang kurang bisa menabung. Terutama karena rajin beli koran dan majalah setiap habis gajian. Tapi saya senang, karena biasanya teman-teman selalu ikut baca Koran dan majalah yang saya beli. Biasanya saya beli koran Kompas dan Bola. Kalau majalah kadang beli majalah-cerpen, kadang juga Tempo, Gatra dan lainnya.

Saya melihat, teman-teman buruh menjalani hidup dalam keterbatasan dan kesederhanaan. Beberapa buruh mengajak istrinya di Bogor dan kerja juga. Anak mereka dititip ke kakek-nenek di kampung. Tapi, saya salut mereka rajin menabung. Mereka bilang, hidup terbatas dan sederhana karena uang ditabung untuk beli sawah dan hewan ternak di kampung. Ada juga yang ditabung untuk modal usaha yang dijalankan saudara mereka dikampung. Semua demi masa depan mereka dan anak-anak mereka….

Setelah akhirnya keluar dari pabrik karena ketrima UMPTN untuk kuliah di UGM dan sampai sekarang menjadi dosen di Jakarta, saya kadang masih menjenguk teman-teman buruh di Citeureup. Sebagian masih bekerja disana. Lebih banyak lagi yang tidak. Katanya pulang kampung dan punya usaha. Ada juga yang tergiur menjadi TKI di luar negeri karena bayaran lebih gede. Ada yang bekerja di kapal dan sebagainya…. Intinya, para buruh juga dinamis dan mengejar progress. Mereka menjalani kehidupan (sementara) sebagai buruh sembari menyiapkan jalan selanjutnya yang lebih baik….

Kalau mengingat pengalaman saya dan juga pengalaman teman-teman buruh, kadang saya seperti mau menangis…… Tapi saya ingat kalimat bijak teman buruh saya: “Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan bagi kaum buruh adalah dengan bekerja”

Smg manfangat dan berkah

Danke

Sumber : Status Facebook Suratno Muchoeri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed