by

Herd Immunity

Oleh : Sofyan Hadi

HERD IMMUNITY bisa dicapai dengan 2 cara :- Jumlah persentase paparan tinggi dgn resiko persentase fatalitas yang juga tinggi.- Kedisiplinan mengikuti protokol kesehatan dan vaksinasi

—–Adalah hal yg aneh ketika seseorang menolak Herd Immunity dan menganjurkan total lockdown seperti di China. Pemerintah China memahami seberapa tingkat kedisplinan warganya dan mengambil tindakan tegas mengarah represif untuk memutus rantai penularan. Konsekuensi dari tindakan tegas ini bernilai ribuan trilyun rupiah yang harus ditanggung pemerintah China untuk penerapan lockdown di beberapa propinsi. Makanya ketika di awal pandemi IDI menyatakan lockdown total Indonesia berbiaya “hanya Rp 4 trilyun”, sepertinya para dokter itu lebih layak duduk di kementerian keuangan.

Sistem pemerintahan China memungkinkan tindakan represif aparat dilakukan untuk menegakkan aturan lockdown dan menetapkan program vaksinasi nasional tanpa syarat, dan China berhasil mencapai herd immunity dgn “kedisiplinan dan pendisiplinan” terhadap warganya. Apakah ini bisa diterapkan di Indonesia..?! Lihat saja kasus KM50 ketika aparat melumpuhkan pelaku penyerangan, mulai dari mantan pejabat, oposan, Komnas HAM sampai KPAI memberikan pernyataan yg menyudutkan aparat dan pemerintah

.—–Di awal pandemi, warga Inggris dan Italia menolak segala protokol dan aturan pembatasan yg diterpkan pemerintah. Pemerintah Inggris dan Italia hanya memberikan arahan apa yang sebaiknya dilakukan warga jika tidak ingin tertular dan apa yg harus dilakukan jika sudah terpapar. Tidak ada jaminan fasilitas gratis, semua berjalan seperti biasa sesuai kemauan warga. Ketika kasus merebak, angka penularan dan fatalitas melonjak tinggi, warga panik dan mulai memproteksi diri. Mereka minta pemerintah turun tangan dan itu harus dibayar dgn kedisplinan tinggi melaksanakan protokol kesehatan. Pusat keramaian, jalan-jalan, fasilitas publik sampai swalayan menjadi begitu sepi. Warga mendisiplinkan diri sendiri agar tidak menyusahkan komunitas mereka, sambil menunggu vaksinasi siap dilaksanakan. Bisakah cara ini diterapkan di Indonesia…?! Jauh panggang dari api…Kedisiplinan macam apa yang bisa diharapkan dari warga yg merusak barikade penyekatan yg dibuat demi keselamatan warga itu sendiri…??

—–Pemerintah memahami bagaimana kultur yg berkembang saat ini, dan bagaimana pihak yg berseberangan dgn pemerintah memanfaatkan kultur ini. Masyarakat yang tidak punya kemampuan nalar cukup untuk berargumentasi secara ilmiah akan memilih satu cara paling ideal : jalur religius. Jika sudah menyangkut agama, maka nalar tidak lagi dibutuhkan. Mereka hanya butuh telinga untuk mendengarkan apa kata panutan mereka, dan otot untuk melaksanakan perintah. Keberadaan pemimpin gerombolan minus nalar dan nggak punya rasa malu ini adalah aset tambahan bagi kelompok yg ingin menjatuhkan pemerintah. PPKM adalah salah satu buah simalakama yang harus dimakan Joko Widodo setelah PSBB gagal.

Memperpanjang status PPKM berimbas pada perekonomian yg makin terpuruk. Menghentikan PPKM beresiko angka penularan yg semakin tinggi, dan mengambil langkah kompromi di antara ke-2 pilihan itu adalah suatu bukti ketidaktegasan pemerintah.Protokol Kesehatan 5M dan upaya pencapaian target vaksinasi masif yg saat ini digalakkan oleh pemerintah bersama institusi negara dan lembaga kemasyarakatan adalah bukti jika pemerintah dan sebagian besar rakyat Indonesia mendukung upaya pencapaian herd immunity dgn kedisiplinan, tapi itu tidak akan cukup selama masih ada segelintir masyarakat dan pemilik kepentingan yang bertindak ke arah yg berlawanan. Dengan dukungan masyarakat, tidak ada alasan pemerintah menyerah kepada situasi, apalagi membentuk pemerintahan baru.Lalu apa solusinya…?!

Berkaca dari pengalaman pendahulu bukanlah hal yg buruk, tapi jelas bukan belajar dari pakarnya proyek mangkrak. Tindakan militer pertama Mayjen Soeharto dalam G.30.S/PKI adalah memerintahkan Kolonel Sarwo Edhie merebut RRI dan mengamankan TVRI untuk membungkan corong politik lawan. Kami sudah pernah melakukannya tanpa syarat, dan kami tidak keberatan melakukannya lagi dengan satu syarat :TANPA METERAI..!!!

Sumber : Status Facebook Sofyan Hadi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed