by

Heaven or Hell

Oleh : Suryaning Dewanti

Me : Surga dan Neraka bukanlah seperti apa yang dibicarakan orang banyak. JIka manusia mau memperhatikan, tidak menjadi penting kita ada dimana, karena disetiap lapisan kehidupan memiliki keduanya, termasuk sekarang dan disini. Heaven and hell merupakan bentuk dari tataran pikiran dan keseimbangan. Bukanlah merujuk pada sebuah tempat. Tidak ada neraka tanpa penyertaan surga, bergitu pula sebaliknya tidak ada surga tanpa penyertaan neraka. Keduanya berjalan beriringan dalam waktu yang bersamaan.

Rasa dan emosi manusia menjadi parameter yang sangat penting, karena menggerakan semuanya. Menggerakan reaksi, menggerakan arah hidup, , dan memunculkan dampak kejadian. Pikiranlah yang menciptakan keduanya.Heaven and Hell is like a “loop”, keduanya seperti putaran ruang kejadian yang berulang-ulang dimana hanya akan berakhir ketika kita memahami dan menemukan kebijaksanaan dari setiap kejadian, yang pada akhirnya akan menjadi sebuah pengetahuan baru dan kesadaran yang baru, tapi bukan berarti pembelajaran akan berakhir, karena kita akan masuk pada pemberlajaran yang lain, pembelajaran yang lebih mendalam dengan sistem mekanisme yang sama.

Semesta adalah tempat belajar tanpa akhir. Dalam kesadaran semesta, tidak ada istilah mata ganti mata, tidak ada istiah balas dendam (seperti dalam dunia manusia atau hewan), yang ada adalah ketika ada aksi (karma) maka ada reaksi. Tidak ada yang tidak mendapatkan pembelajaran dalam ruang kehidupan semesta, jangan mengira para penguasa dunia atas tidak memiliki persoalan yang sama beratnya dengan yang dirasa penguasa di dunia bawah. Dalam semua tataran bentuk kehidupan, baik itu tumbuhan, bakteri, binatang, malaikat, setan atau bahkan para dewa sekalipun mengalami mekanisme yang sama, mereka memiliki pembelajarannya masing-masing.

Sama – sama menyeret pada pilihan dalam bereaksi dan akhirnya memunculkan sebuah perubahan dan penciptaan, sebagian melihatnya sebagai manifestasi bentuk dari yang satu ke bentuk lainnya. Baik itu perubahan pikiran, keadaan, kesadaran atau perubahan bentuk material, tapi apapun manifestasinya, dasarnya adalah menuntun kita pada perubahan itu sendiri. Dalam koridor hukum semesta dan kesadaran semesta, setiap jiwa memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.

Dunia ini berjalan kedepan tapi bukan berarti waktu berjalan linear. Waktu hanyalah cerminan dari perubahan. Dari setiap perubahan, otak membangun rasa, waktu seolah-olah mengalir. Tapi dalam konstruksinya waktu sendiri, tidak ada. Yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana tidak terjebak pada rasa bersalah dan tidak terjebak dalam rasa ketakutan terlebih lagi tidak terjebak dalam informasi yang tidak tepat, karena akan membawa manusia dalam sebuah “loop” itu sendiri, yang pada akhirnya menyiksa batin dari jiwa. Tentu saja kita boleh melakukan kesalahan tapi tidak untuk terjebak.

Dan untuk apapun bentuknya jalan satu-satunya adalah menghadapinya dengan bekal pengetahuan, akal budi dan pisau analisa yang tajam, karena mau tidak mau, ada lubang jarum yang harus dilewati setiap jiwa untuk bisa membawa diri dalam vibrasi dan kesadaran yang lebih tinggi (daripada sebelumnya), Mengambil sebuah keputusan yang tepat tidak berarti selalu bermuara pada hal yang menyenangkan orang lain, apalagi jika hanya berdasar pada apa yang dianggap baik oleh orang lain. Be Your self…”You must unlearnt what you have learned”.and Let your self be the better version of you!”Rahayu 🙏

Sumber : Status Facebook Suryaning Dewanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed