by

Give Peace A Chance

Oleh : Agung Wibawanto

Buat apa sih berperang? Buat apa sih bertengkar? Supaya tahu siapa yang kuat dan yang lemah? Siapa yang hebat dan siapa yang pecundang? Siapa yang benar dan siapa yang salah? Lantas apa setelah itu? Mungkin bukan alasan seperti itu juga ya. Ada rasa ingin diakui lawannya dan orang lain bahwa dirinya hebat dan benar. Sebaliknya lawannya harus mengaku salah dan meminta maaf. Wah, pasti rasanya puas sekali orang itu. Mendapat pengakuan yang dianggapnya sah.Karena berpikiran seperti itu, maka lawan pun berusaha bagaimana agar orang itu tidak sombong, congkak dan besar kepala, makanya dilakukan perlawanan.

Jika berlanjut, meski sudah kelar, tapi masih menyimpan bumbu benci dan dendam, atau sebaliknya ada pula rasa ingin mendominasi kepada yang kalah. Demikian seterusnya hingga bisa menyebar kemana-mana. Bisa menyambar kepada sentimen komunitas teman, rekan kerja, masyarakat dan keluarga. Begitulah cara kerja dari permainan perasaan dan pikiran (mind games). Lantas buat apa? Dapatnya apa sih? Dalam konsep perang, negara yang kalah maka wilayahnya akan dikuasai, lho siapa yang membuat aturan itu? Dari mana asalnya? Kok enak banget, ya kan? Andai saja, ada dua orang bertengkar, maka siapa yang menang akan menguasai semua kepemilikan si kalah, wah kan repot? Mosok kalau kalah trus istri nya boleh dipek sama yang menang?

Semua harta kekayaannya diambil? Begitulah kalau perang antar negara. Apakah pernah dipikirkan soal luka baik fisik ataupun bathin (rasa)? Siapa-siapa yang akan terimbas dari perang/pertengkaran itu? Bahkan mungkin ada yang sampai nyawa melayang? Hanya demi “pengakuan”? Betapa penting bagi manusia-manusia itu sebuah pengakuan ketimbang keyakinan. Orang lain kan mestinya cukup dengan yakin bahwa kita itu benar, kuat dan hebat, misalnya. Tidak perlu diakui melalui sebuah pengakuan. Layaknya antara legalitas dengan legitimasi.

Orang cenderung ingin mendapat legalitas (pengakuan hukum/formal) ketimbang legitimasi (pengakuan masyarakat) Contoh: legalitas sebagai capres meski secara legitimasi tidak diyakini masyarakat. Legalitas menjadi akademik seorang profesor, meski secara legitimasi tidak diakui. Kalau dalam pertandingan karuan deh, siapa yang kalah dan menang akan diakui secara sah. Sama dengan kata cinta. Haruskah diucapkan? Leha agak sebel juga karena Paijo jarang atau bahkan tidak pernah mengatakan cinta kepada Leha. Sebagai wanita, Leha butuh kata-kata romantis pasangannya, Paijo. Meski Leha juga tahu betul batapa dalam cintanya Paijo kepadanya.

Sebaliknya Panjul terlalu mudah mengatakan cinta kepada bininya, Wati. Hampir seperti diobral setiap hari, namun Wati gak percaya begitu saja. Karena biasanya Panjul mengatakan itu karena ada maunya. Tapi, perlukah dipertengkarkan masalah pengakuan? Perlukah harus perang antar negara? Begini prinsip bangsa Indonesia sejak lahirnya dulu, “Kita bangsa yang cinta damai, tapi lebih mencintai kemerdekaan.” Artinya apa? Tidak ada yang perlu dipertengkarkan kecuali hal prinsip, yakni kemerdekaan (kedaulatan), contohnya. Itupun jika ada yang mulai mengusik terlebih dahulu. Jika tidak ada yang memancing maka ya jangan mancing, santuy saja. Hingga saya merasa lelah sendiri karena menjaga agar tidak terjadi pertengkaran.

Kadang bahkan terpancing sendiri menyulut sebuah pertengkaran. Setelahnya, muncul perasaan bersalah dan menyesal, karena sekali lagi tidak ada gunanya. Meski sudah diingatkan berkali-kali tapi tidak mau berubah, misalnya. Jadi ya mau bagaimana lagi? Pengujian kesabaran memang gak pernah ada habisnya sepanjang akhir hayat. Give peace a chance aja.#givepeaceachance

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed