by

Gerombolan Malu-Malu Kucing

 

Ibuku, Ibu Pertiwi, kemerdekaan yang ada bukanlah atas belas kasihan belanda, dan bukan hadiah dari mereka, kemerdekaan itu didapat dengan perjuangan, darah dan nyawa para pejuang dari semua agama dan golongan tanpa pernah bertanya apakah mereka dapat surga atau neraka, semangatnya cuma satu INDONESIA MERDEKA, sebuah hadiah dari Tuhan melalui perjuangan, bukan sebuah belas kasihan dari selesainya penjajahan. Bumimu kami tempati, negeri indah penuh berkah, sejak zaman antah berantah disinggahi, dihuni, diperebutkan begitu banyak kerajaan, begitu banyak keyakinan dan agama pernah saling berjaya dinegeri gemah ripah penuh rahmat ini, dan kini menyisakan apa yang pernah ada, ada keluarga agama tua Hindu, Budha, Konghucu, dan Islam sebagai agama yang melekat sebagai agama mayoritas, mengayomi dan saling menyayangi dengan agama-agama yang ada, agama dengan simbol dan kekuatan rahmatan lilalamin ini haruslah terus bisa mengaktualisasikan sumpahnya, bukan menjadi agama yang menggerus sesama, apalagi berniat membuat satu suara, satu agama atau apa saja yang tidak pernah terpikirkan saat Pancasila disepakati sebagai sebuah idiologi menjaga negeri bukan mengoyaknya bak kain lapuk yang seolah lekang dimakan zaman dan luluh dilupakan.

Setelah pernah ada tangisan, kawan menjadi lawan, negara islam yang diidamkan, Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, menjadi musuh Soekarno karena dia tidak mau berkhianat dengan Pancasila yang dirumuskannya bersama teman-temannya, dilahirkan dengan persiapan yang demikian rupa untuk bisa menjadi landasan bernegara, bukan cuma cantiknya lambang garuda, namun lebih dalam nafas dari 5 silalah yang sampai kini dan kelak menjaga Indonesia, atas izin Tuhan YME. Kini setelah gejolak demi gejolak, runtuhnya orde baru, reformasi diimplementasi, pemimpin silih berganti, sampai akhirnya kita menemukan Jokowi, pemimpin dengan sepenuh hati, mengabdi dan melayani, bukan sekedar pemimpi yang singgah dan pergi dengan rasa tidak perduli.

Sosok Jokowi begitu menginspirasi, sekaligus dibenci kaum gamang yang usaha haramnya terganggu, mereka terus menggoyang agar suasana negeri yang dihuni dan dikelola para pencuri bisa ada kembali DAN mereka bebas berkolusi, menghisap kekayaan negeri dengan cara kasar yang luar biasa, Jokowi di intimidasi, dikerjai oleh yang menamakan dirinya imam, kiayi, dan pemegang simbol-simbol agama yang mengaku begitu digdaya menjadi pengawal ulama dan pembela agama, ironisnya mereka mengawal dan membela dengan cara durjana yang secara kasat mata bisa dibaca sebenarnya dibelakang mereka banyak cukongnya yang haus berkuasa untuk meluluh lantakkan negara, bahkan Pancasila akan digantinya. Konsep khilafah seolah menjadi pilihan yang menjanjikan, sementara bentuk negara islam yang mana yang akan dijalankan masih membingungkan, apakah Islam Indonesia, Islam ke Arab-arab-an, Islam, Pakistan, Islam Afghanistan, atau Islam kesetanan penuh janji dan harapan, ujung-ujungnya cuma jadi Islam puritan, agamanya lepas, negaranya amblas.

Gerombolan bertopeng Tuhan, kelakuan setan, sekarang sedang menyerang dengan cukong dibelakang, membentuk barisan penantang negara dengan penuh nafsu angkara murka, demo anarkis dan pemaksaan kehendak, dan akhirnya menyebut kelompoknya dengan ” ALUMNI “, membuat stempel diri bahwa mereka kaum pemberani untuk merubah idiologi negeri, padahal air liurnya, tak usah keringatnya, tak pernah menetes membasahi bumi pertiwi untuk sekedar balas budi bahwa mereka telah hidup nyaman beralaskan rizki yang mereka nikmati, sekarang membusungkan dada mendikte pemerintah yang sah seolah mereka selevel untuk bernegosiasi, mau melakukan rekonsiliasi, bodoh dan tak tau diri, dan yang lebih bodoh, ada banyak orang yang kita anggap layak sebagai pengabdi negeri tak taunya kelakuannya malah menunjukkan sifat kebinatangan yang melampaui kebejatan diatas ambang batas kelakuan setan, intelektualitasnya kandas, prilakunya buas, mulutnya culas, semua dimaki-maki, begitu ada kasusnya yang harusnya dihadapi eh malah lari tidak ada tanda mau kembali, kok cecunguknya minta rekonsiliasi, mana ada sek-esek diselesaikan dengan pengertian bahwa itu urusan bersebadan, enaknya dirasakan, kita diminta cuma meyakinkan bahwa suara itu memang mengasikkan.

Kunjungan muhibah berjumpa kawan dilakukan oleh kelompoknya yang akhlaknya sama-sama menjijikkan, mau pakai simbol dan balutan apa saja yang kelihatan, tapi apa lacur kita sudah tau mereka adalah pecundang yang tidak bisa dimaafkan karena mereka sejatinya gerombolan setan musuh negeri yang harus kita lawan. Tidak ada alasan memberi ruang agar mereka bisa malang melintang, mana mungkin kita biarkan manusia yang bahkan mengerti kebaikanpun akalnya sudah hilang, masih lebih lumayan Gorila makan kurma, karena dia tau pisang tak ada kurma adalah pilihannya. 

# INDONESIABERDEDIKASI

#BUKANREKONSILIASI

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed