by

Geram Anaknya Diracuni Khilafah, Pria Ini Labrak Pengajian HTI

7. Tidak hanya masalah agama saja tapi sudah membicarakan tentang kemasyarakatan dan pemerintahan. Disini saya mulai tidak nyaman, tapi saya mencoba bijak dan terdiam. Dalam hati saya mengatakan kelompok pengajian ini tidak baik. Sebagai orang tua saya tetap berkewajiban membimbing anak saya ke jalan yang benar.

*8. Setelah sampai di rumah mulai saya bicara dari hati ke hati dengan anak saya tentang pengajian yang dia ikuti. Semua hal yang baik sesuai agama saya terima dengan bijak, saya kaget ketika anak saya mulai bicara Khilafah, sebagai orang tua saya tetap sabar. Pembicaraan akhirnya saya alihkan ke arah pendidikan, saya katakan dengan lembut kepada anak saya ”kamu pilih belajar ilmu umum sesuai keinginan dan cita-citamu atau kamu mau belajar ilmu agama”, sambil tetap tenang saya sampaikan bahwa orang tua banting tulang buat biaya kamu kuliah agar kamu sukses. Lama anak saya terdiam, akhirnya sambil menangis dia menyatakan saya tetap ingin belajar ilmu umum sampe lulus nanti. Dari sini saya baru punya keberanian masuk lebih dalam bertanya kepada anak saya tentang kelompok pengajian tsb. Ternyata kelompok pengajian tersebut dimentori oleh orang HTI dan selalu bergerak berpindah tempat dari satu kampus ke kampus lainnya, melalui kelompok-kelompok kecil 5 – 10 orang. Mereka yang sudah fasih pemahamannya akan bertemu kelompok lain yang levelnya lebih tinggi. Dan akhirnya akan dilibatkan dalam suatu kelompok pengajian umum dalam suatu acara dan tempat yang mereka tentukan*.

*9. Pembicara dalam ceramah umum menghadirkan orang senior di HTI. Disinilah racun mulai ditebar lebih dalam kepada kelompok-kelompok pengajian yang telah direkrut sebagai kader mudah dari kaum intelektual. Tepat pada akhir minggu ke 4 saya minta kepada anak saya untuk bertemu dengan teman perempuan nya yang dulu pernah datang ke rumah bulan lalu, anak saya bersedia. Besok nya saya temui perempuan itu di sebuah Masjid didalam kampus dan saya ajak dialog dari hati ke hati tentang anak saya dan kelompok pengajian tsb. Dia saya giring agar mempertemukan saya dengan pimpinan diatas nya, alhamdulillah bersedia*.

10. Singkat cerita saya bertemu pimpinan atau senior dia di sebuah tempat, terjadilah perdebatan sengit antara saya dengan mereka 3 orang, mereka menyerang saya dari sisi agama tetap saya dengarkan saja, intinya mereka mengatakan *”kami mengajar anak bapak tentang ajaran Khilafah.“*

*11. Disini saya mulai geram, saya berdiri dan tatap mata mereka satu persatu, saya mulai tidak respect kelompok pengajian ini, karena tidak menghormati hak saya sebagai orang tua untuk mendidik anak saya di jalan yang benar.*

*12. Mereka tetap ceramah agama di depan saya tentang Khilafah tapi tidak saya hiraukan. Lalu saya mencoba tenang, saya tanya satu per satu apakah mereka belajar di Kampus yang sama dengan anak saya. Saya semakin emosi ketika ada salah satu yang menyatakan dia dari Kampus yang berbeda. Disinilah saya emosi.*

*13. Saya maki-maki semuanya ”kalian mahasiswa b*jingan semuanya berani meracuni anak saya dengan doktrin ajaran sesat” Ayo tunjukkan kepada saya siapa pemimpinmu disini?. Akhirnya ada seorang pemuda mungkin seniornya mencoba meredakan emosi saya, dia mengatakan ”silahkan anak bapak jangan ikut kelompok pengajian ini lagi. Akhirnya mereka pergi. Setelah kejadian itu kelompok pengajian di Kampus anak saya tidak ada kegiatan. Tapi tetap saya pantau anak saya agar tidak didekati oleh kelompok mereka. Sejak itu saya berpikiran bahwa masih banyak Kampus PTN lain di seluruh Indonesia yang disusupi oleh orang-orang HTI. Pengkaderan ini sangat berbahaya karena merekrut anak-anak mahasiswa PTN yang memiliki kecerdasan intelektual diatas rata-rata namun masih bimbang dalam hal agama. Alhamdulillah setelah tahun lalu Lulus anak saya sudah bekerja sesuai cita-citanya.*

Sumber : suaraislam.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed