by

Gen Marah dan Tersinggung

Oleh: Erizeli Bandaro

Ada teman bertanya kepada saya lewat Inbox, mengapa saya bisa tahan di comment dengan cara tidak santun di FB. Putri saya, sempat bilang, papa engga ngaruh ya di bilang apa aja di FB. Kadang istri saya sempat kesal dengan orang orang yang comment kasar. Saya hanya tersenyum. Tak akan saya block mereka kalau hanya mem bully saya. Block hanya saya lakukan dengan sangat terpaksa, itupun kalau mereka berkata kasar dengan menyebut bahasa a moral. Dan itupun agar wall saya terhindar dari caci maki bahasa tidak santun di antara mereka. Menghindari ribut di antara mereka yang ikut comment postingan saya.

Mengapa saya tidak tersinggung atau marah kalau di bully ? Karena memang saya tidak tahu bagaimana marah dan tersinggung. Dua hal dalam hidup ini yang saya tidak tahu rasanya, di bully dan sakit gigi. Seumur hidup saya tidak pernah sakit gigi. Jadi gimana saya tahu rasanya sakit gigi. Makanya kalau orang meradang karena sakit gigi, saya malah bingung. Seumur hidup saya tidak pernah sakit hati atau marah kalau di bully. Jadi bagaimana saya tahu rasanya di bully , wong saya tidak pernah merasakannya.Makanya saya bingung kalau orang marah dan tersinggung kalau di bully..

Mungkin karena dalam GEN saya tidak ada memori marah dan sakit hati karena kata kata orang. Sedari kecil saya tidak pernah di bentak atau di marahi dengan kata kata kasar oleh ibu saya. Kalau saya salah, ibu saya akan memeluk saya sambil menasehati saya. Dalam pergaulan, saya sering dan bahkan tak terbilang orang mem bully baik di dapan saya maupun di belakang saya. Tapi tidak saya tanggapi karena saya memang tidak merasa di rugikan apapun. Kecewa atau sakit hati tidak saya rasakan. Makanya kalau bertemu lagi dengan yang membully saya, saya bersikap biasa saja. Memang biasa saja. Apanya yang harus dendam wong saya tidak merasa tergangggu.

Apakah saya bisa marah ? Tentu. Kalaupun saya marah, itu bukan mem bully karena orang membully saya, bukan. Marah saya lebih banyak dalam hal pekerjaan dan mendidik anak. Itupun kalau marah, akal sehat saya bekerja efektif untuk menilai sesuatu yang tidak sesuai pikiran saya. Tapi kalau tidak di tanggapi, saya akan berlalu begitu saja. melupakan dengan mudah. Engga akan mungkin saya maksa orang untuk mengerti saya. Cukup saya doakan saja. Kalau orang ancam saya, tidak akan membuat saya takut. Tapi alam bawah sadar saya sangat siap. Terbukti berkali kali saya di ancam, ketika ornag memukul untuk melukai saya , replex saya tetap terjaga dengan baik tanpa emosi apapun. Kalau orang sudah lumpuh, sayapun tidak terpikir untuk menghabisinya.Selesai.

Nah, kalau saya lihat Jokowi, Ahok yang di bully setiap hari , yang dia nampak cuek saja, Seakan tidak terganggu sama sekali. Bukan mereka budek atau tidak punya hati. Tapi karena mereka tidak punya GEN marah karena di bully orang. Memang kasihan juga sama orang yang bully karena tujuannya tidak tercapai. Tapi mau gimana lagi. GEN marah di bully memang engga ada. Cacat bawaan lahir. Tapi…entah mengapa orang yang engga punya GEN tersinggung dan marah di bully, punya istri bawel..kwkwkkwk..Tuhan adil ..

 

(Sumber: Status Facebook Erizeli Bandaro)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed