by

Ganjar Kemajon

Oleh : Sahir Nopi

Pernyataan Ketua Bapilu PDIP Bambang Wuryanto tentang Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam konteks Capres 2024 sangat menggelikan. Seperti kita ketahui bahwa dalam acara pengarahan partai ditingkat Jawa Tengah, hampir seluruh jajaran utama DPD, DPC, DPR, DPRD, diundang dan terdapat pengecualian yakni Ganjar Pranowo. Bambang Pacul, panggilan Bambang Wuryanto menuding Ganjar Kemajon alias terlalu laju dalam sikap politiknya sehingga disimpulkan punya ambisi sebagai Capres 2024.

“Tidak diundang! (Ganjar) wis kemajon (kelewatan). Yen kowe pinter, aja keminter (kalau kamu pintar, jangan bersikap sok pintar),” tegas Bambang usai acara, “Wis tak kode sikKok soyo mblandang, ya tak rodo atos. Saya dibully di medsos, ya bully saja. Saya tidak perlu jaga image saya,” ujar pria yang yang berasal dari Wonogiri ini.

Sebenarnya agak aneh melihat kejadian Minggu (23/5) kemarin. Sebab selama ini belum pernah ada pernyataan sama sekali baik dari Ganjar, DPD Jateng hingga DPP tentang Capres 2024 karena memang masih lama. Selain itu, Ganjar bukan orang ambisius, politisi tulen, tahu aturan pasti tidak akan nekad tabrak sana sini demi niatnya menjadi Capres. Apa ukurannya ambisi menjadi Capres? Jika melalui medsos, bandingkan dengan Anies Baswedan, Ridwan Kamil atau bahkan Joko Widodo yang sudah sejak lama aktif di medsos. Disisi lain, berposisi sebagai kepala daerah memang harus aktif di medsos.

Tanpa aktif di medsos, maka rakyat akan kesulitan berkomunuikasi bahkan jika menemui hambatan terkait layanan publik maka kepala daerah dapat mengkonfirmasi pada bawahannya. Tentu ini hal yang baik. Lihat saja dulu Ahok melakukannya bahkan Bima Arya, Gibran, Bobby juga terus memanfaatkan media sosial guna memantau kinerja aparat dibawahnya.

Aktifnya Ganjar di Medsos saya kira bukan soal jaga image seperti yang ditudingkan Pacul pada Jateng 1. Bahwa ada yang beda pemahaman, beda persepsi, beda pendapat itu sah-sah saja. Namun sebagai kepala daerah bila tidak jaga image efeknya bisa kemanapun termasuk parpol yang mengusungnya. Cek saja kasus kepala daerah di Jatim yang tertangkap KPK yang juga aktivis salah satu Ormas. Begitu tertangkap semua parpol yang mendukungnya lepas tangan.

Apakah PDIP tidak pernah melakukan kajian utamanya tentang korelasi medsos dengan image atau citra kepala daerah dan partai politik? Jaman sudah makin maju dan berkembang. Bila kita bekerja tidak mengikutsertakan media sosial, betapa banyaknya energi yang kita buang untuk itu semua. Media sosial bahkan teknologi informasi memberi banyak dampak positif apalagi disaat pandemi maka gadget hampir banyak menggantikan bagaimana kita lebih efektif bekerja serta membatasi pertemuan dengan orang lain. Negara maju sudah memanfaatkan teknologi menciptakan beragam aplikasi agar layanan makin efektif dan efisien.

Jika PDIP melihat cara Ganjar bekerja sebagai kemajon, jaga image demi ambisi Capres 2024 maka pernyataan ini justru dapat merugikan mereka sendiri. Publik akan menilai bahwa PDIP anti dengan kemajuan teknologi, kolot, kuno dan tidak berpikir ke depan. Tahun 2023 tidak bisa lagi kita kampanye hanya mengandalkan mulut ke mulut, iklan tv, iklan luar ruang dan metode konvensional lainnya. Kita lihat bagaimana tim Jokowi bekerja ekstra keras bukan hanya di “darat” tapi juga “diudara”. Wajar bila PDIP tidak banyak tahu karena mereka memang tidak berdarah-darah memenangkan Jokowi.

Namun jika pola pikir dan cara kerjanya tetap dipertahankan, mau mencalonkan Ganjar pun ya akan tetap kalah. PDIP harus merubah mindset, merevolusi kinerja partai, mengefektifkan mesin partai bahkan bila perlu mengadakan inovasi perekrutan, pelatihan hingga mengembangkan potensi kader dengan memanfaatkan teknologi. Tanpa itu semua, maka jangan harap 2024 PDIP akan berbicara banyak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed