by

(Ga Usah) Mudik

Oleh : Karto Bugel

Bulan maret yang lalu Filipina melakukan lockdown secara nasional. Pada saat yang sama, negara-negara di Eropa seperti Perancis, Belanda, Belgia, Ceko, Spanyol dan Italy juga melakukannya.Melukiskan tingkat keparahan, tsunami yakni bencana alam yang dalam satu sapuan selalu mengakibatkan korban massal dilekatkan pada perlistiwa di India. Korban meninggal di India baru-baru ini pernah sempat mencapai lebih dari 3.000 orang hanya dalam kurun waktu 24 jam saja. Itu masuk kategori kematian massal.Tsunami Covid terjadi pada negara tersebut dan hingga hari ini pemerintah India masih tak mampu menanganinya. Korban meninggal dibakar oleh masing-masing kerabatnya.

Tak ada gambaran kesedihan dapat melukiskan peristiwa tersebut dan itu terjadi pada periode hidup kita.Percaya atau tidak, semua peristiwa tersebut terkait dengan perayaan keagamaan. Bagi banyak negara yang rakyatnya beragama Kristen, bulan maret dan april adalah perayaan paskah. Maka bukan hal kebetulan lockdown dilakukan di Filipina dan banyak negara Eropa.Pun di India, festival keagamaan Kumbh Mela di utara kota Haridwar yang dikunjungi oleh jutaan peziarah Hindu yang datang dari berbagai daerah di India diperkirakan sebagai sebab awal menggilanya covid di negara tersebut.Idul fitri yang jatuh pada bulan Mei ini dimaknai Malaysia dengan lockdown.

Bahkan hingga tanggal 7 juni, artinya itu berlangsung selama 1 bulan lebih dan kita tak mendengar rakyat Malaysia ngamuk bukan?Itu dilakukan oleh pemerintah Malaysia tanpa maksud apa pun kecuali demi keselamatan rakyatnya. Tahun lalu, idulfitri yang sama juga tak boleh ada perayaan bagi segenap rakyat pada negeri jiran tersebut.Indonesia dengan mayoritas rakyatnya yang muslim tentu juga merayakan hari kemenangan tersebut. Bukan lockdown dipilih pemerintah, hanya tidak usah mudik. Ini jauh lebih ringan dibanding Malaysia.

Dalam banyak hal rakyat Indonesia jauh lebih beruntung dibanding Malaysia. Di sana, mereka yang boleh keluar rumah adalah mereka yang memiliki alasan pasti seperti janji medis, vaksinasi dan hal bersifat darurat saja.Semua kegiatan sosial seperti acara makan di restoran, dan perjalanan antardistrik dan antarnegara dilarang.Larangan sederhana tak boleh mudik ini ditentang. Perlawanan sedang digaungkan dan tuduhan bahwa pemerintah tak ramah pada umat tak tertinggal mereka gelorakan. Mereka merasa bahwa pemerintah Indonesia sudah terlalu berlebihan dengan melarang mudik 2 kali berturut-turut. Benarkah? Sekali lagi tengok Malaysia.Video dan narasi pada sosmed bagi kampanye perlawanan tersebut sudah beredar. Perlawanan di jalan-jalan di mana petugas berjaga sudah terjadi.

Mereka yang sudah lolos dan masuk di kampung halaman tertuju juga tak sedikit. Kita bangsa sulit diatur. Sekaligus, kita tak memiliki aturan dan aparat tegas. Selalu kalah ketika mereka bergerombol dan bertameng agama. Siapa akan dirugikan adalah sanak saudara mereka sendiri. Ini sudah terjadi dan korban terinfeksi sudah semakin meningkat dan itu terkorelasi dengan meningkatnya kasus kematian. Sialnya, mereka yang meninggal adalah pihak yang tak bersalah. Mereka yang patuh di rumah tapi tak mungkin dapat menolak dikunjungi saudara yang mudik.

Para provokator dengan narasi “tembus barikade keamanan dengan jumlah yang lebih besar” itu layak dihukum mati. Tak ada kekejaman melebihi tindakan manusia laknat semacam itu. Mereka berteriak dengan dalih agama dan perasaan terdzolimi demi meraih dukungan massif rakyat yang sedang gamang. Ketika rakyat secara massal terinfeksi, mereka akan menggunakan narasi negara gagal.Tujuan mereka sangat jelas. Negara harus lebih tegas. Keselamatan rakyat adalah perintah tertinggi dan itu dapat dengan mudah dilakukan oleh pemerintahan Malaysia dan Filipina.

Tak ada alasan pemerintahan kita tak sanggup.Kita tak harus meniru kegagalan India. Kita juga tak ingin negara kewalahan memberi pelayanan penguburan sehingga kita terpaksa harus menggali tanah di halaman rumah kita sendiri sama seperti rakyat India membakar jasad saudaranya di halaman rumah mereka dan kita mengebumikannya.Meski tak menyenangkan, kita masih tetap diberi kebebasan untuk dapat merayakan hari kemenangan itu bersama saudara inti kita dan sedikit tetangga kanan kiri meski tak harus dengan berkerumun. Itu tak terjadi di Malaysia tetangga serumpun kita…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed