FPI Dipermalukan BPK

Oleh : John Ferry Sihotang

B P K. Dalam tempo nisbi singkat, BPK telah terlibat dalam dua keributan. Beberapa waktu lalu, Ahok ribut dengan BPK terkait kasus Sumber Waras di DKI Jakarta; lalu kemarin FPI bersoal dengan BPK di Deli Serdang, Sumatera Utara. BPK pertama adalah Badan Pemeriksa Keuangan, BPK kedua adalah… Babi Panggang Karo!

Begitulah. Mungkin FPI merasa terguncang jiwanya karena mencium bau asap yang menguar dari Babi Panggang Karo. Karena itu, ormas FPI menuntut Pemkab Deli Serdang supaya menutup rumah makan yang menyediakan babi panggang di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Medan – Lubuk Pakam, terutama RM Tesalonika.

“Ini tanah Melayu identik dengan keislaman!” teriak orator aksi. Massa FPI menganggap bahwa bau asap babi panggang dari rumah makan itu telah merusak tatanan kebhinekaan dan toleransi yang selama ini terjaga dengan baik. Alamak!

Barangkali FPI lupa. Atau mungkin salah alamat. Ini Sumatera Utara, Bung! Jangan bawa isu SARA di sini! Justru Provinsi Sumut memiliki dua kota yang termasuk dalam 10 kota toleran teratas di Indonesia pada tahun 2015, yakni Sibolga dan Pematang Siantar. Bahkan Kota Siantar, yang dulu dikenal sebagai kota preman itu, didaulat sebagai kota paling toleran di negeri yang bising ini.

Cok kau tengok Sumatera Utara ini dengan hati bersih dan pikiran terbuka. Begitu mudahnya kau temukan bangunan gereja, masjid, vihara saling berdekatan, saling bertetangga. Hampir tak ada persoalan dalam hal mendirikan rumah ibadah di sini. Bahkan Ugamo Malim, agama asli Batak itu, bisa hidup tenang di sini — meski agama ini masih kerap disalahpahami oleh mereka yang berbudi kasar. Begitu mudahnya kau temukan warung-warung makan yang menyajikan masakan khas Padang, Batak, Cina dan Melayu di sini; di mana kesemuanya rukun berdampingan dan saling mengobarkan aroma rempah yang getarkan lidah dan air liurmu.

Sumatera Utara adalah provinsi yang ramah bagi toleransi dan keberbedaan. Di setiap pesta pernikahan akan kau temukan orang-orang menari “Goyang Deli”, saling bergandeng tangan, sambil tertawa keras-keras, tanpa memandang suku, agama atau puakmu. Jamak pula kau temukan, khususnya di lapo-lapo tuak, orang-orang akrab berkelakar padahal baru kenalan 5 menit lalu. Betapa gampang pulak kau temukan di lapo itu tiga atau empat orang menyanyi keras-keras — kadang dengan purak-purak menangis keras-keras — sambil sesekali menenggak tuak keras-keras; dan semua orang terhibur, tak ada yang tersakiti. Begitulah manusia-manusia di Sumut ini: toleran, ekspresif, dan selow.

Maka, duhai FPI di Deli Serdang. Nampaknya kalian benar-benar salah alamat. Kalian justru jadi terlihat aneh di Sumatera Utara, di mana toleransi dan kebhinekaan tumbuh begitu suburnya. Apakah sudah lelah berantam dengan Ahok di Jakarta sana sehingga kota-kota atau kabupaten lain kalian ributi? Benarkah kalian penduduk Sumut ini? Silakan berdemonstrasi, kebebasan berekspresi dan bersuara dijamin di bumi Sumut ini. Tapi kalau kalian merasa terganggu hanya karena aroma Babi Panggang Karo, kalian sungguh keterlaluan. Cenglah kita.**

Sumber : facebook John Ferry Sihotang

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *