by

Forget Sambo, He is Nico

Oleh: Ayu Sulistyowati

Beruntung saya dapat kesempatan nonton premiere SAYAP-SAYAP PATAH (2022) sore tadi. Saya yakin review film ini sudah ada di mana-mana. Tapi inilah sedikit review dari saya.

Terinspirasi kisah nyata pemboman di Surabaya dan kasus Mako Brimop tahun 2018 silam. Kasus yang saya ikuti saban hari, lantaran di bulan Mei 2018 itu saya terbaring tak bisa bergerak banyak di atas ranjang Rumah Sakit Bethesda Jogja.

Seperti kita tahu, drama ‘balas dendam teroris’ yang berujung tragedi itu adalah salah satu peristiwa tak terlupakan dekade silam. Dalam SAYAP-SAYAP PATAH, kisah yang disuguhkan pun tak jauh berbeda, hanya saja difiksikan tentunya.

Pengejaran segerombolan teroris pimpinan Leong (Iwa K dalam peran dan akting yang mengejutkan) oleh polisi/ densus 88 di Surabaya. Ketika ia sukses mengirim orang membom kantor polisi dan membuat beberapa orang termasuk tiga polisi meninggal, polisi yang telah berhasil membuat salah seorang anak buahnya buka mulut segera bisa menyergap genk teroris itu.

Aji (Nicolas Saputra) yang semula dikirim ke Surabaya tak lama dipulangkan ke Jakarta, setelah drama panjang dengan istrinya Nani (Ariel Tatum) yang tengah hamil besar dan selalu kawatir suaminya tidak akan pulang… seperti yang terjadi pada anak buah Aji, Ridwan (Revaldo). Nani sendiri demi kesehatannya memutuskan kembali lebih dulu ke Jakarta sebelumnya.

Di hari pertama Aji seharusnya masuk kerja di Mako Brimob, ketuban Nani pecah dan ia pun bersiap melahirkan dalam waktu belasan jam ke depan. Tak ada yang menyangka, Aji yang semula hanya mampir ke kantor barunya untuk membeli ote-ote kesukaan istrinya di dekat kantor harus berhadapan dengan para napi yang lepas dan menyerang polisi.

SAYAP-SAYAP PATAH hadir dengan cerita simpel. Tapi percayalah, film yang bagus lebih sering hadir dari cerita yang sederhana. Begitu pula naskah yang ditulis trio Monty Tiwa, Eric Tiwa, dan Alim Sudio ini. Menurut saya pribadi, kurang gregetnya hanya di adegan drama dan kemesraan antara Aji dan Nani saja.

Selebihnya, ini film keren. Aksi dan ketegangannya pas. Gritty and raw-nya dapat banget. Tanpa kisah cinta Aji dan Nani, film ini mengingatkan “Sicario”, “Narcos” atau film sejenisnya. Apalagi kalau karakter Gendis (Poppy Sovia) polwan baik hati itu dikembangkan lagi.

Jujur saja, jarang ada adegan film lokal yang menggambarkan polisi jalan bertiga menghadang penjahat tampil keren, nggak lebay. Lewati film ini saya percaya polisi sekeren dan segagah itu.

Rudi Soedjarwo berhasil membuat adegan-adegan aksi baik yang heroik maupun tidak dengan bagus. Menegangkan, kadang bikin sedikit terengah.

Hal lain yang membuat film ini makin keren adalah aktingnya. Semua casts bermain pas. Dan, penampilan Iwa K dan Nugie sungguh mengejutkan!

Lupakan sejenak kasus Sambo, di sini ada Nico!

Ayo pada nonton!

Satu hal yang ingin saya usulkan ke produser dan sutradaranya: Mbok bikin poster alternatif yang macho dan gagah gitu.

(Sumber: Facebook Ayu Sulistyowati)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed