by

Enny Arrow

3. Hijrah ke Amerika

Pada masa pemerintahan Soekarno…., Enny Arrow hijrah ke Amerika Serikat dan bekerja sebagai copywriter.

Di sanalah ia mendapat ilmu tentang menulis yang baik.

Lebih lanjut…, di Amerika Serikat Enny belajar penulisan bergaya Steinbeck.

Setelah itu…, karya-karya sering terbit di koran-koran terkenal Amerika Serikat.

Salah satunya berjudul “Mirror Mirror.”

4. Mendapatkan nama penanya dari tukang jahit

Banyak yang bertanya-tanya…, dari mana Eni Sukaesih mendapatkan ide membuat nama samaran tersebut.

Selidik punya selidik…, ia mulai mendapatkan nama Arrow dari Tukang Djahit Arrow…, yang berada di pinggir Kalimalang…, tempat ia pernah bekerja.

Tulisan pertama yang diterbitkan dengan nama samaran Enny Arrow…, berjudul Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta.

Sejak saat itu…, nama Enny Arrow melekat dengan novel berbau erotis.

5. Bukunya dijual murah…, tapi dikoleksi perpustakaan Leiden…, Belanda

Novel-novel karya Enny Arrow terbilang sangat murah.

Per buku…, pada waktu itu rata-rata dijual hanya Rp 1.000-Rp 5.000.

Sifat idealis Enny membuat ia tidak memikirkan royalti…, saat menjual karyanya.

Enny hanya ingin menunjukkan…, kalau setiap orang berhak memiliki bahan bacaan…, bahkan kelas menengah ke bawah sekalipun…, karena pada masa itu, buku bacaan terlalu eksklusif.

Namun demikian…, kini karya-karya Enny Arrow banyak diburu oleh para kolektor yang ingin bernostalgia dengan tulisannya.

Malahan…, saking meledaknya karya-karya Enny Arrow di pasaran, novelnya…, sampai-sampai di koleksi di Perpustakaan Leiden, Belanda.

Enny Arrow…, seorang penulis pendobrak pada jamannya…, yang patut kita kenang.

Rahayu

Sumber : Status facebook Anny Errow

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed