by

Eng Ing Eng, Dia Muncul Lagi

Anehnya, penonton melihatnya dengan tatap mata weird.
Dalam konsep tangga nada diatonis kita kenal tangga nada mayor dan minor. Meski tak tepat banget, minor cenderung memiliki atmosfir gelap dan sedih, Mayor sebaliknya. Dalam tangga nada pentatonis dan khususnya jawa, kita juga kenal dengan pélog dan sléndró.

Tabuhan gendang dan perangkat gamelan pada panggung itu terdengar sedang memainkan titi laras pelog, namun tari dan gerak itu tampak sangat gembira.

Gatot lupa, dia pernah berpeci putih dan itu adalah cara tegas dia berbicara pada Presiden Jokowi bahwa dia mendukung mereka yang sedang ingin menjungkalkannya. 
Gatot berdiri pada barisan 212 dan menantang dia yang mengangkatnya menjadi Panglima TNI justru pada saat dia masih menjadi anak buahnya langsung.

Bila SBY dengan kata lain mengatakan pada Moeldoko (telah lama tak lagi menjadi anak buahnya) dengan perumpamaan lupa kacang akan kulitnya, Gatot baru akan menjadi kacang saja sudah tidak tahu mana kulitnya dong?

Tari dan gerak pada panggung itu tak enak dilihat karena makna pélog harusnya tentang hormat dan apalagi harus bersifat menenangkan kini justru dimaknai dengan jingkrak-jingkrak persis ilustrasi tarian cakil yang lagi ngamuk pingin bantu Rahwana rebut Dewi Sinta dalam sendratari Ramayana.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed