Empat Gus Yang Menjadi Ikon

3. Gus Nadirsyah (46 tahun)*

*Berbeda dengan Gus Muwafiq dan Gus Baha’. Gus Nadirsyah Hosen memiliki cara sendiri dalam melawan metode dakwah ekstrim. Karena berlatar profesor akademis, Gus Nadir lebih memilih giat menulis untuk menyampaikan gagasan penecerahannya. Dan itupun di medan medsos, utamanya di Twitter, yang akhirnya sering dikutip oleh media online.*

*Di tangan Gus Nadir yang juga Rais Syuriah PCI NU New-Zeland Ausi itu, ideologi ekstrim dan radikalisme bisa diurai dengan referensi teks yang kaya dan mudah dilacak. Analisa tulisannya sering viral menyebar ke beberapa grup WhatsApps dan medsos karena Gus Nadir, bagi penulis, adalah sosok yang konsisten menulis untuk tebar Islam moderat. Utamanya kalangan akademisi, urban kota, yang masih terpapar paham radikal dan ideologi khilafah.*

*Kiai muda yang sangat dekat dengan KH. Mustofa Bisri tersebut sering menjadi bahan bullyan warganet karena ketegasannya dalam menyampaikan pesan-pesan nubuwwah di Twitter. Gus Nadir sering mengomentari status-status pemilik akun Twitter terkenal, yang suka menebar kebencian. Hal yang tidak pernah dilakukan baik oleh Gus Muwafiq maupun Gus Baha’. Kedua gus terakhir ini jarang aktif di medsos dan memang fokus ngaji di darat. Serangan udara kepada NU acap dibantah oleh Gus Nadir, diikuti oleh komunitas cyber NU lainnya, (seperti dutaislam.com) yang kemudian ikut berjama’ah di barisan Gus Nadir.*

*4. Gus Ulil (52 tahun)*

*Sejak menggelar Ngaji Ihya’ di Facebook, Gus Ulil yang juga cucu KH. Muhammadun Pondowan Pati ini mendapat respon baik dari netizen. Tiap ngaji livestreaming, yang ikut nonton secara online sangat banyak. Bila ceramah Gus Muwafiq terdokumentasi dalam Youtube juga, Gus Ulil tidak demikian.*

*Tidak banyak kalangan akademisi yang berani menggelar ngaji secara online menggunakan kitab. Pasalnya, untuk membaca kitab sekelas Ihya’, sang qari’ harus kelar masalah perangkat dan alat bacanya. Jika Gus Baha’ ngajinya rutin di pesantren, Gus Ulil rutin ngaji di akun Facebooknya dengan sasaran warganet dan kalangan akademisi. Sama-sama ngaji kitab, tapi lahan dakwah antara Gus Baha’ dan Gus Ulil berbeda.*

*Keberhasilan dakwah Gus Ulil sebagai ikon akademisi milenial membuat dia sering diundang untuk ngaji Ihya’ di kampus-kampus. Ini adalah pemandangan sangat langka sebelum ada Gus Ulil. Kampus biasanya hanya menggelar seminar, lokakarya atau penelitian. Di tangan Gus Ulil, akademisi kampus bisa diajak ngaji kitab tawawwuf, fan ilmu penting untuk bersikap moderat, tidak fanatik buta dan tidak ekstrim.*

***
*Meski berbeda latar belakang keluarga, pendidikan serta penguasaan ilmu dan massa, keempat gus itu memiliki karakter yang sama, yakni sama-sama tidak mengampanyekan Islam yang radikal, dan selalu mengajak guyon, baik di ceramahnya (Gus Muwafiq dan Gus Baha’) maupun di tulisannya (Gus Nadir dan Gus Ulil).*

*Kalimat mengajak agar “biasa-biasa saja” (tidak mudah heran) menyikapi munculnya fenomena baru, selalu meluncur dari keempat tokoh gus tersebut, meski ketika mereka semua ditemukan ada banyak hal yang tidak disepakati, karena latar belakang yang berbeda. Mereka semua tidak adalah dzurriyah orang-orang shalih dan bukan santri anyaran dari pesantren kemarin sore.*

*Masing-masing ilmu agama dari mereka semua ditempuh dengan tirakat ngaji yang tidak berhenti hingga kini, meski masing-masing juga akhirnya dikenal dengan karakter berbeda. Ada yang dikenal dominan sebagaii akademisi (Gus Nadir), santri intelek tulen (Gus Baha’), akademisi-santri (Gus Baha’ dan Gus Ulil), santri aktivis (Gus Muwafiq), dan lainnya.*

*Gagasan-gagasan santai keempat gawagis sering melumpuhkan ide-ide ustadz urban yang digandrungi kelompok hijrah milenial. Wajar jika banyak ustadz yang dulunya moncer dan diikuti, kini tenggelam seiring terus bertambahnya masyarakat santri yang makin sadar kehadiran penting NU sebagai jamaah dan sekaligus jamiyyah ijtimiyyah dan siyasiyyah.*

*Kiai-kiai kalangan NU, yang kanginan, dan terpapar kadung memuji kelompok radikal, lambat laun terhuyung ke luar arena jihad dakwah karena tidak memiliki basis massa yang jelas kecuali di medsos. Sekali, para gawagis di atas populer bukan karena manajemen media, tapi karena memang dibutuhkan oleh zamannya.*

*Penulis mencukupkan empat gawagis di atas bukan bermaksud mengerdilkan peran gus-gus muda lain, semacam Gus Yusuf Khudlori, Gus Miftah, Gus Azzam, Gus Nadhif, Gus Ubaid, Gus Ghofur, Gus Rijal Mumazziq dan lainnya.*

*Penulis mencukupkan keempat gus tersebut di esai ini karena mereka sudah kadung jadi ikon, yang terlanjur viral memiliki massanya sendiri, dan penulis mengenalnya secara pribadi meski tidak semuanya mengenal penulis. Popularitas mereka bukan tujuan. Ada yang lebih mulia dari itu semua, yakni, menunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmah untuk semua. Tidak ada satupun dari gawagis tersebut yang anti tasawuf.*

*(badriologi.com/suaraislam)*

Sumber : Status Facebook Abdala Badri

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *