by

Elitisme Vaksinasi

Oleh : Ferri Melson Tafzi

Secara umum gerakan vaksinasi masih terkesan elistis. Bila info ini benar seperti yang diungkapkan Presiden Jokowi dalam Ratas Evaluasi PPKM Darurat di istana negara Jum’at kemaren, bahwa proses vaksinasi baru terlaksana 54 juta dari 137 juta stok vasin yang masuk, maka sinyalemen di atas menunjukkan sebuah korelasi. Dari data tersebut, bisa dibaca proses vaksinasi baru terlaksana sekitar 40% dari target yang harusnya dicapai. Bila angka ini dikomparasi kepada kesadaran vaksin, angka ini sepertinya mendekati kenyataan.

Memang tidak ada data pasti, tapi dari persepsi opini melalui lintas medsos, angka perbandingan itu bisa tersirat. Apalagi bila dibandingkan dengan tingkat antusias pada masyarakat real di lapangan, antusias tersebut belum terbangun baik. Jangankan untuk vaksin, kepercayaan masyarakat pada pandemic juga terlihat sebanding. Pelaksanaan PPKM Darurat hanya sukses terlihat pada daerah elit, seperti jalan jenderal Thamrin – Sudirman Jakarta atau area-area yang dijaga secara ketat, di luar itu boleh dibilang tidak terlampau signifikan terasa.

Kegusaran Presiden Jokowi atas serapan vaksin, jelas juga kegusaran kita bersama. Fenomena ini terjadi tidak bisa dilepaskan dari tata laksana vaksin yang terlihat elit, yang umumnya terlihat hanya pada lokasi-lokasi tertentu. Paling bawah baru pada setingkat puskesmas. Mobilisasi vaksin yang terjadi saat ini baru pada level instansi atau badan baik negeri maupun swasta. Seharusnya konsep sebaran dengan stok sebanyak data di atas, sudah bisa dilaksanakan dengan konsep seperti pemilu, yang membagi wilayah vaksin seperti pembagian TPS.

Melihat proses vaksin yang saya ikutin kemaren, sebenarnya alurnya juga sederhana tidak terlampau ribet. Artinya dengan pola seperti itu, pelaksanaan per TPS seperti pemilu bisa dilaksanakan. Bila persoalan koneksi data, toh SIM keliling bisa dilaksanakan dengan baik. Kendala utamanya tentu tim medisnya dan penanganan kasus darurat. Tapi bila mengacu ke protap donor darah keliling, polanya tidak ada bedanya. Artinya secara teoritis bisa dijalankan.

Mengharapkan kesadaran masyarakat, terutama kelas awam untuk datang berduyun-duyun mencari vaksin, tanpa mobilisasi secara terintegrasi target pencapaian vaksin hanya berjalan pelan, padahal kita sudah berkejaran dengan waktu. Sudah waktunya pemerintah menggerakkan dari dari tingkat RT. Kampanye kesadaran melalui TOA mesjid menurut saya tidak efektif harus ada gerakan yang lebih real. Apalagi kampanye soal kuburan, sama tidak ada efektifnya.#fmelsont210719

Sumber : Status Facebook Ferri Melson Tafzi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed