by

Elektabilitas, Popularitas serta Tingkat Kepercayaan Publik terhadap Jokowi Meningkat

Oleh : Musyaffa

Hari-hari ini, sepertinya menjadi angin segar bagi Jokowi dan jajaranya. Pada Catur Wulan (Cawu) I 2016, Pemerintahan Jokowi mendapatkan nilai baik yang lebih dominan, meskipun terdapat nilai ‘merah’. Salah satu lembaga survei, Saiful Murjani Research and Consulting (SMRC) telah merilis hasil penelitiannya yang dilakukan 22 – 30 Maret 2016. Adapun penilaian Netizen, penulis ambil dari kolom tanggapan di portal berita Kompas.com dan Liputan6.com.

Ada beberapa aspek yang dinilai dalam SMRC. Pertama, dalam bidang ekonomi meliputi aspek ekonomi nasional dan ekonomi keluarga. Kedua, masalah kesehatan dan pendidikan. Ketiga, masalah hukum.

Pertama, aspek Ekonomi. Pandangan masyarakat terhadap Ekonomi Nasional lebih baik, terdapat 32 persen setuju dengan hal ini. Sementara itu, 26 persen responden mengatakan tidak atau kurang baik dan selebihnya tidak tahu. Sepertinya kondisi ekonomi nasional yang dianggap lebih baik berkorelasi dengan kondisi ekonomi keluarga yang cenderung mengalami perbaikan. Sebanyak 39 persen responden menyatakan bahwa ekonomi keluarga lebih baik dari dua tahun lalu, dan 27 persen diantaranya menganggap bahwa kondisi ekonomi mereka lebih buruk, sementara responden lainnya menyatakan tidak tahu.

Ada variabel penunjung ekonomi keluarga dan nasional yang tidak luput dari perhatian masyarakat. Variabel penunjang tersebut, antara lain; Mengurangi angka pengangguran, menyediakan lapangan kerja, mengurangi angka kemiskinan dan menyediakan sembako dengan harga terjangkau. Pengangguran seakan semakin masif dilakukan oleh firma-firma atau perusahaan yang besar. Misalnya, sebanyak 1500 – 2000 karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau penghentian masa kontrak oleh perusahaan Toshiba dan Panasonic Indonesia. Belum lagi, adanya kebangkrutan pada pengusaha mebel dan furniture besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berakhir PHK pula.

 Begitu pula pada aspek penyediaan lapangan kerja. Jumlah Wisudawan dari berbagai jenjang pendidikan dengan lapangan pekerjaan sungguh tidak sepadan. Jumlah lapangan kerja yang tidak sepadan ini menyebabkan angka pengangguran terdidik di Negeri ini semakin meningkat. Salah satu netizen, Yagot Yugontoro, “Kemajuan teknologi ada kalanya mampu menggantikan peran manusia dalam melaksanankan tugas2 tertentu. Sehingga layak bila banyak manusia yang menganggur karena perannya tergantikan. Sudah jamak terjadi di negara manapun.”

Apalagi, seakan kondisi kemiskinan di republik ini terbilang stagnan, survei terakhir BPS yakni 11,47 % penduduk miskin, dengan pendapatan perkapita per bulan Rp. 308.806 (Kota) dan 275.779 (Desa). Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, maka hanya akan menampak keruh kemiskinan. Apalagi dengan kondisi harga Sembilan Bahan Pokok (Sembako) yang kian meraja lela. Hemmmm, uang belanja 100 ribu rupiah seperti tidak ada harganya lagi. Hanya mendapat beberapa jenis dan berat barang tertentu saja. Begitu beberapa keluhan masyarakat di akar-rumput.

 Beberapa netizen, juga menekankan pentinganya kesadaran masyarakat sendirilah yang harus bangkit dari kemiskinan. Masyarakat sendiri haruslah sadar akan pentingnya giat bekerja.

Namun, hal yang menarik dari reaksi masyarakat adalah adanya poin ‘keoptimisan’ yang lebih dari cukup dalam menggapai ‘masa depan’ lebih baik. Mayoritas responden sangat optimis bahwa ekonomi keluarga dan nasional di tahun mendatang akan lebih baik. Sebuah kejawaran jika optimisme masyarakat itu terbangun, pasalnya geliat kerja pemerintah Jokowi dalam pembangunan infrastruktur penunjang ekonomi telah terlihat progresifitasnya. Masyarakat pun tak tanggung dalam memberi penilaian, terhitung sebanyak 71 persen responden menyatakan kondisi yang semakin baik terhadap pembangunan jalan raya oleh pemerintah. Netizen menganggap bahwa pemerataan dibidang infrastruktur merupakan pondasi majunya ekonomi nasional.

 Aspek selanjutnya adalah masalah kesehatan. 61 masyarakat menyatakan bahwa kondisi pelayanan masyarakat cenderung lebih baik dari sebelumnya. Namun, netizen dari dua situs ini seakan tidak menggubris. Sebagai catatan, bahwa beberapa daerah, masyarakat masih susah dalam mengakses kesehatanya. Apalagi program BPJS, yang kontroversial, namun bisa jadi ini semua luput dari pandangan objektif masyarakat.

Terakhir adalah aspek hukum. Masih hangat diingatan penulis, bahwa pada tahun sebelumnya, kondisi politik dan hukum pemerintahan Jokowi mendapatkan rapot merah. Berbeda halnya dengan kondisi saat ini, aspek hukum dinilai lebih baik dari sebelumnya. Sebanyak 43 persen responden menilai lebih baik dan memuaskan. Kondisi ini jauh lebih banyak daripada responden yang menilai lebih buruk atau semakin buruk, yakni hanya 22 persen. Khusus untuk penilaian dibidang Korupsi masih negatif tetapi lebih baik dari tahun sebelumnya. Secara khusus netizen dalam liputan6.com memberikan tanggapan yang berbeda. Kondisi korupsi yang tak kunjung mereda, karena disebabkan oleh dua faktor, yakni; ketidakmaluan seorang koruptor dan ketidakjeraan hukuman terhadap koruptor.

Dari fenomena tersebut, maka sungguh wajar jika elektabilitas dan popularitas serta tingkat kepercayaan publik terhadap sosok Jokowi cenderung meningkat. Bahkan, seperti tidak ada tandingan. SMRC menyebut sebanyak 72 persen masyarakat masih sangat yakin dan percaya dengan kepemimpinan Jokowi. Meskipun, secara variatif, penilaian netizen terhadap Jokowi. Namun, secara garis besar netizen lebih dominan menggangap presiden Jokowi lebih baik dari SBY. Sebagian netizen menggambarkan SBY dengan politik pencitraan, sedangkan Jokowi dengan politik kerja. Kepuasan sebagaian besar netizen terlihat dari komennya terhadap pembangunan perbatasan dan infrastruktur yang nyata.

Etos Kerja Pemerintah dan Etos Kerja Masyarakat hendaknya selaras. Tidak pula mampu hanya pemerintah yang giat kerja dan membangun moral integritas (kejujuran). Mesti haruslah sadar bahwa tanggungjawab bangsa dan negara itu ada di hati dan pundak setiap elemen masyarakat. Good Luck For President to Build Our Nation, Allahuakbar** (ak)

Sumber tulisan : kompasiana.com

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed