by

Eforia Istilah Arab

Namun secara umum, saya senang dengan eforia kearaban di zaman itu. Setidaknya ada beberapa manfaat yang saya rasakan, misalnya :

Pertama, biar tampil beda. Ini penting untuk aktualisasi diri anak-anak seumuran saya di masa itu. Buat kami, ikut harakah itu harus ada ciri unik yang membedakan kita dengan yang lain.

Kedua, bisa sekalian mengembangkan khazanah dan kosa kata bahasa Arab. Di zaman segitu bahasa Arab itu sangat mulia kedudukannya. Semua istilah kita arabkan.

Makanya kalau bisa sampai kuliah di LIPIA itu sebuah pencapaian yang hebat. Walaupun cuma sampai i’dad lughowi saja. Tapi sudah keren banget.

Nasyid kami tidak ada yang berbahasa Indonesia, semua berbahasa Arab. Kayak gambus tapi tanpa musik, karena di kita musik itu kan haram waktu itu. Nasyid pakai bahasa Malaysia apalagi Indonesia itu rasanya cemen sekali. Apalagi pakai musik, ya kita bilang bukan nasyid.

Ketiga, bisa juga buat kamuflase dan kerahasiaan. Zaman segitu dakwah diasosiasikan masih di periode Mekkah di 3 tahun pertama. Maka sirriyatud-dakwah wa sirriyatut-tanzhim, amniyah, hijab tanzhimi dan istilah aneh-aneh lainnya diberlakukan.

-oOo-

Sekarang 30 – 40 tahun kemudian, semua istilah berbahasa Arab itu sudah hilang, sirna tanpa bekas.

Lain halnya kalau saya lagi reunian dengan ‘ikhwan’ lama, kadang kita suka pakai istilah-istilah arab yang populer di tahun-tahun itu.

Dan kita senyum-senyum sendiri kalau mendengarnya lagi.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed