by

Efek Aksi 812 Menolak ICERD di Malaysia Bagi Islam Kita

Jika kita memahami ICERD, sebenarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan. Di pasal 1 tertulis seperti ini:
“…segala bentuk pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pengutamaan berdasarkan ras, warna kulit, keturunan atau kebangsaan atau sukubangsa, yang mempunyai maksud atau dampak meniadakan atau merusak pengakuan, pencapaian atau pelaksanaan, atas dasar persamaan, hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya atau bidang kehidupan masyarakat yang lain”
Semangat yang dibawa oleh ICERD adalah semangat persamaan.

Hal ini justru menegaskan bahwa negara-negara yang menyepakati konvensi ini adalah negara yang sangat terbuka dan berdaya saing. Namun mengapa di Malaysia langkah maju ini justru ditolak? Entahlah.

Yang jelas, isu yang dimainkan oleh kerumunan aksi adalah anti-Islam, tuduhan yang juga digaungkan di aksi-aksi serupa yang terjadi di Indonesia.

Islam dan ICMI
Pada awal 1990-an peta politik Indonesia berubah, terutama pendekatan presiden Soeharto kepada kelompok muslim. Sebelum tahun 1990, pemerintahan Orde Baru membonsai politik kelompok Islam dengan menempatkan kelompok muslim pada satu partai yang selalu digembosi. Namun Orba mulai memandang kelompok Islam sebagai salah satu kekuatan untuk memberinya dukungan. Karenanya, pada tahun 1990 ia mendorong para cendikiawan muslim untuk mendirikan sebuah wadah perkumpulan yang kemudian diberi nama ICMI.

Salah satu fokus kerja ICMI adalah membawa citra umat Islam yang awalnya dianggap sebagai kaum pinggiran menjadi kelompok yang mampu membawa perubahan. Semangat yang mereka bawa adalah bagaimana agar umat muslim yang memiliki pedoman hidup berupa Alquran dan Hadis menjadi umat yang progresif. Islam semestinya bukan hanya ritus, melainkan spirit kemajuan yang bisa membawa kehidupan ini lebih baik.

BJ Habibie memimpin ICMI selama dua periode, salah satunya ketika ia menjadi orang nomor satu di negara ini. Di masa Habibie menjadi presiden inilah ICERD diratifikasi di Indonesia. Ratifikasi konvensi PBB ini merupakan langkah maju dalam demokrasi di Indonesia di mana kebebasan berpendapat dan berekspresi yang selama rezim Orde Baru ditutup rapat, perlahan-lahan dibuka kerannya.
Sebagai cendekiawan ICMI, Habibie dan juga lainnya ingin menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama yang bersepakat dengan segala bentuk diskriminasi.

Semangat yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW adalah semangat pembebasan. Di masa Rasulullah inilah perbudakan perlahan mulai dihapus. Diskriminasi pada kelompok lain yang berbeda agama dan ras juga dicegah dengan menyepakati sebuah konstitusi tertulis pertama umat manusia bernama Piagam Madinah.
Pun dalam kontribusi dengan peradaban, Habibie membuktikan bahwa umat Islam bisa berjaya melalui ilmu pengetahuan.

Ia adalah sosok yang memiliki banyak hak paten dalam industri penerbangan yang karyanya digunakan oleh perusahaan-perusahaan raksasa seperti Boeing dan Airbus. Kiat Habibie ini kurang lebih ingin mengulang prestasi ulama terdahulu yang membawa kejayaan umat Islam melalui jalur ilmu pengetahuan. Makanya, ketika pesawat N-250 berhasil mengudara, banyak yang mengatakan bahwa yang diterbangkan oleh presiden ketiga Indonesia itu adalah Islam. Islam yang dulu dianggap sebagai kelompok terbelakang, ternyata bisa menciptakan teknologi paling mutakhir.

Untung saja di Indonesia kita memiliki banyak cendikiawan muslim progresif yang membawa Islam bukan sekedar gerakan populis, tetapi lebih jauh adalah agama yang menginspirasi. Era ini sudah dimulai dua dekade yang lalu oleh para tokoh muslim yang begitu luar biasa.

Apakah Islam di Indonesia hari ini semakin progresif atau justru terseret arus balik kemunduran? Kita sendiri yang mampu menjawabnya. Wallahua’lam.

Sumber :islami.co

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed