by

Duo Beradik Berselancar dalam Pandemi

Oleh : Karto Bugel

Ketika tetangga dirundung duka, apapun bentuk dukanya, memberikan perhatian dan simpati dalam macam bentuk dapat kita jadikan pilihan. Solider kita sebagai tetangga adalah realitas konkrit apa itu konsep makhluk sosial. Membantu bukan tentang memberikan yang tak kita mampu. Kerjakan mulai dari yang paling sederhana yang mampu kita lakukan.

Bila dia haus, berilah dia minum. Bila dia menangis, berikan tissue. Bila dia merasa sendiri, ajaklah ngobrol. Bila dia ketakutan, peluklah. Berceritalah tentang hari esok yang pasti akan menjadi lebih baik. Berikan mereka harapan.

Pada peristiwa negara sedang berduka dan presiden berjibaku dengan berusaha memberikan apapun yang sanggup dia lakukan demi rakyatnya terhindar dari bencana yang lebih mengerikan, ada banyak pihak yang justru bersorak girang dalam gelak dan tawa. Mereka bertepuk meriah berkalang duka para saudaranya. Mereka berseru rindu ingin duka ini semakin menderu. Tak ada haru dalam dirinya saat menyaksikan banyak saudaranya terlihat gontai dan jatuh berbalut lumpur nestapa. Mereka tetap acuh.

Ketika rumah saudaranya runtuh, mereka justru menutup jalan agar tak ada orang yang dapat membantu. Mereka memberi halangan tak pantas demi kehancuran itu semakin menemukan titik mengerikannya dan lalu mereka berteriak negara tak hadir.

Itulah yang kita saksikan pada pentas drama “DUO BERADIK” kali ini. Duka bangsa dan sengsara rakyat dipilih menjadi panggung bagi pentas atas nama politik. Nyawa dan nestapa rakyat menjadi komoditas. Duka jiwa yang sengsara dijadikan nafas dalam wajah beringas demi gagasan yang mereka pikir pantas. Mereka memang tampak sedang berpantas diri di atas perih luka ratusan, ribuan dan bahkan puluhan ribu orang yang sedang meregang nyawa dalam kesendirian tanpa teman dan saudara yang diijinkan untuk mendampinginya.

Mereka berhias duka dan nestapa dalam mimik wajah demi pantas mulutnya bernyanyi syair pilu. Anehnya, nada riang justru yang terdengar. Mereka sedang mencari popularitas yang lama tak menghampirinya. Mereka rindu masa indah yang telah terampas. Sekaligus, mereka sedang berusaha mencari aman masa depan yang semakin terlihat suram.

Sepertinya, ada terlalu banyak dosa dan cela tersimpan yang seharusnya tetap dapat dibuat rapat dalam gelap, namun entah kenapa kini baunya semakin menyengat dan semua mata tertuju pada mereka. Adakah drama dalam panggung mestapa ini adalah bentuk pengalihan atau ada usaha mencari posisi tawar, entahlah..🙄. Yang jelas, menari dan tertawa pada iringan duka saudara sendri jelas bukan cara tepat mencari kawan…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed