Dunia Gosip

Kini teman saya tertawa, “Aku tipe jujuris kayaknya. Bohong dikit aja nggak slamet. Pernah bilang apa gitu, bohong cari slamet. Eh besoknya aku lupa.Malu-maluin banget. Tapi sesekali aku pencitraan juga. Maklum manusia, tak ada yang sempurna.”

“sama..” kata saya. Lalu kami toss.

“Sebenarnya lho ya.. yang diperlukan adalah komposisi yang pas untuk tidak terlalu jujuris senggol bacok, ataupun moralis garis muna.” Kata teman. “Jujur itu perlu, begitu juga bermoral. Menafikan satu sama lain itu yang nggak pas.” Saya mengangguk, sedetik kemudian saya mengetuk-ngetuk gigi tongos saya. Siapa tahu tongosnya jadi hilang.

Sejurus kemudian teman saya berceramah lagi. “Tahu Miss Marple, tokoh detektif karangan Agatha Christie?” Saya mengangguk.”Sebenarnya Miss Marple itu Bu Tejo. Dia memecahkan misteri berdasarkan pantauan gossip yang masuk….”

Gigi tongos saya tergelak-gelak. “Bener-bener..”

“Gosip itu data. Penggosip itu pengolah data. Ada yang titis, dia bisa jadi pemecah kode. Jaman Perang Dunia dulu, mereka menyebabkan suatu negara memenangkan pertempuran. Miss Marple beda lagi, dia pembaca data yang baik. Pembaca data yang baik membantu dalam decision making. Menghasilkan keputusan-keputusan yang tepat…..”

“Bu Tejo salah ambil kesimpulan gitu maksudnya?” Tanya saya, kali ini tanpa mengetuk gigi tongos.

“Bisa begitu, bisa juga salah focus. Salah ambil kesimpulan itu misalnya salah menyimpulkan hubungan sebab akibat antar data yang ada. Misal si A tambah cantik, si A sering beli baju jelek. Kesimpulan yang mengatakan Si A tambah cantik gara-gara bajunya itu tidak pas. Sebab bajunya justru membuat si A seperti badut. Jika ada satu data lagi, yang menyebutkan si A rajin membeli skincare, sehingga A tambah cantic karena skincare ini lebih bisa dipertanggungjawabkan. Sering kali data yang benar membuat kesimpulan salah, karena data yang tak berhubungan dianggap berhubungan. Bu Tejo terjebak pada hal ini. Terlalu aggresif menggunakan data dalam mengambil keputusan….”

Saya kali ini terkekeh. “Lha kalo gigi makin tongos, bisa nggak disebabkan karena rindu yang menggebu-gebu?”

“Yee… apa hubungannya. Jangan kayak orang kita ah. Cuma melahirkan Bu Tejo dan tidak menjadi Miss Marple.”

“Gimana caranya biar jadi Miss Marple?”

“Menjadi jujuris itu penting, dengan jujur, kita lebih lebih obyektif menilai sesuatu. Tetapi perlu diingat, kita juga berhadapan dengan masyarakat yang kadang perlu ditakut-takuti dengan ancaman tertentu. Efek sampingnya jadi sangat judging. Mudah menghakimi. Tidak heran kadang kita bertemu orang-orang yang terlalu takut terlihat salah. Tidak benar-benar jahat juga mereka, Hanya yang dihadapi memang kumpulan masyarakat yang tak bisa menerima kesalahan orang lain. Tidak memberi maaf bahkan pada yang meminta maaf.”

Kali ini saya bersedih. Mengatupkan mulut, menyimpan rapat-rapat gigi tongos dalam bibir. Eh tapi bisakah profesi Miss Marple dikembangkan di Indonesia?

#vkd

PS: Sophia Loren ketika muda tak percaya diri dengan giginya yang dianggap tongos.

Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *