by

Dosen Manajemen SDM (Selamatkan Diri Masing-Masing)

Oleh : Hendy Mustiko Aji

Masalah kecilnya gaji dosen ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan dosen. Mereka tahu gajinya kecil dan hidup ‘miskin’, tapi memilih diem-diem bae. Mungkin karena mereka merasa insecure secara sosial. Ya kali, gaji supir lebih gede dari gaji dosen. Sebagian dosen mungkin malu takut dibilang miskin sama tetangganya. Atau mungkin juga mereka takut dipecat sama universitasnya.

Rumah gak punya. Giliran punya, amat sederhana. Orang toxic mesti akan nyuruh kita bersyukur. No, bukan disitu esensinya. Bukan masalah syukur gak bersyukur. Ini masalah FAIRNESS .Jangan jadi orang yg mudah terperangkap ke dalam istilah religius gitu dong ah. Rasional hrs tetap jalan. Saya pribadi memilih menjadi pribadi yang gak mau seperti dosen-dosen lainnya. Kalo saya mau merubah sesuatu, maka sesuatu itu harus diperjuangkan dan harus disuarakan. Bukannya diem-diem bae.

Risikonya, ya pasti ada, dan salah satunya adalah dipecat. I am prepared for that, ya know. Nek dipecat ya wes dodolan bakso wae 😁Gaji dosen ini bukan rahasia yang harus ditutupin. Memberitahukan gaji itu urusan privasi personal masing-masing orang.FYI, I am not saying about “me” only, tapi saya bicara about “us”, yakni dosen Indonesia secara umum. Kalo saya pribadi, alhamdulillah kalo bicara kesejahteraan cukup lah. Meskipun saya gak mampu beli rumah dan mobil. Tapi ya bisa makan enak dan gak punya utang.

Diluar gaji, alhamdulillah saya ada tambahan. Misal, dari hibah penelitian dan insentif publikasi.Cuman, hibah penelitian dan insentif publikasi itu sifatnya “exclusive”. Untuk mendapatkannya perlu “gontok-gontokan”. Kalo kalah gontok-gontokan ya wes ga dapet duit. Makanya, sangat politis banget. Bahkan sering juga etika dilanggar, lho. Misalnya memalsukan kuitansi gitu.

Sertifikasi dosen gimana? Alhamdulillah, that helps us too. Dapat 1x gaji setiap bulan. Dibayarkannya rapelan tiap beberapa bln sekali. Tapi itukan yang memberikan negara. Dimana tanggung jawab universitas? Gaji pokok yang diberikan universitas itu bermacam-macam. Univ negeri itu menggaji kisaran 2-3 jt sebulan utk dosennya. Utk dosen selevel Guru Besar ‘cuma’ dikasih 5-6 jutaan/bln. Mungkin bagi sebagian orang 3 jt, 5 jt, atau 6 jt itu sudah angka yg besar. Terus nuntut kita untuk bersyukur. No, sekali lagi nope. Jangan dilihat angkanya sebagai sebuah output saja. Tapi juga harus dilihat input apa yang sudah dipunyai dan diberikan dosen.

Bandingkan juga dengan profesi lain dgn input yg lbh rendah tapi output (gaji) jauh lebih besar.Again, this is about FAIRNESS.Kalo gaji tetap dosen begini terus, gak heran banyak dosen yang males-malesan ngajar. Mereka lebih memilih mengerjakan pekerjaan lain yg mendatangkan potensi cuan lbh banyak. Kerjaan dosen dinomor sekiankan. Itulah mengapa byk dosen yang kelasnya kosong. Ngajar ogah-ogahan. If you know what I mean. Melakukan perubahan di level pusat memang challenging. Kalo gak bisa, maka perubahan paling gak dapat diinisiasi di level prodi atau jurusan. Disinilah pentingnya LEADERSHIP.

Ketua prodi atau jurusan harus kreatif mengelola anggaran untuk kesejahteraan semua department members (dosen) nya. Bikinkan program-program yg relatively tanpa gontok-gontokan utk kesejahteraan dosen. Program yang selain menguntungkan dosen juga menguntungkan institusi. Eh, kesejahteraan dosen itu tanggung jawab organisasi, lho. Teorinya pan begitu. Bukannya dosen malah disuruh ‘SDM’ alias Selamatkan Diri Masing-masing. Banyak lho dosen yang ‘SDM’ dgn cara nyambi bikin usaha restoran. Bikin bimbel. Atau jualan barang lain. Hey, itu semua gak ada kaitannya sama KPI dosen. Gak menguntungkan institusi sama sekali.

Harusnya pimpinan univ berasa ketampar kalo tau ada dosennya sampe nyambi-nyambi gitu. Harusnya dia merasa gagal sebagai pimpinan.Setiap pimpinan organisasi, termasuk universitas berkewajiban mensejahterakan anggota organisasinya. Bukan mensejahterakan dirinya sendiri aja, mentang-mentang pejabat. Menurut boros saya, setiap dosen harus bersuara. Ciptakan perubahan dengan tindakan. Kalo gak bisa bertindak, paling gak ya berikan dukungan. Jangan nyinyir, berlagak zuhud. Semoga menginspirasi 👍

Sumber : Status Facebook Hendy Mustiko Aji.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed