by

Doa yang Haram

Oleh : Harun Iskandar

Jokowi datang untuk ‘nglayat’. Ke rumah pak Yassona, Menkumham. Istri beliau, Ibu Elisye, wafat.Lalu muncul di berbagai berita dengan ada gambar Jokowi, berbaju warna putih, pakai masker, nampak sedang berdiri takzim, agak menunduk, kedua belah telapak tangan hadap ke atas.Jokowi sedang berdoa ? Belum tentu. Apalagi jika ditafsirkan berdoa, minta ampunan, untuk Ibu Elisye. Belum tentu sangat malahan . . .

Namun demikian ada yang ‘propokasi’ seorang ‘ngulama’, dengan bertanya, ‘Apa hukum seorang muslim mendoakan non Muslim yang sudah wafat ?’ Dan berhasil, karena si ‘ngulama’ menjawab.’Haram,’ jawab di ‘ngulama’ . . .Maka ramailah dunia medsos republik.+62. Seperti biasa. Padahal masih hangat isu kapal selam, palestina, dana haji, pajak sembako . . .Seperti biasa pula, si ‘ngulama’ pun beri ‘klarifikasi’. Itu bukan semata komentari ‘eksyen’ Jokowi, tapi jawaban atas pertanyaan umat . . .Persis kayak jawaban seorang ngustat, kasus yang dulu itu, yang disangka ‘melecehkan’ Salib. ‘Itu jawaban atas pertanyaan umat’ . . .Ndak mau minta maaf. Ini masalah ‘akidah’. Ujarnya dengan gagah . . .Ngustat ini pula yang rayakan ulang tahun, tapi disebutnya ‘milad’. Biar ndak menyerupai gaya hidup kaum ‘tapir’. Pokok e bebas . . .

Cuma, sekedar ‘mengingatkan’ akan adanya 2 hal yang sering disangka sama, padahal beda. Yakni Syariah dan Fiqh, ini yang dawuh Gus Nadersyah Hosen . . .Sebagai contoh sederhana, Riba jelas ‘haram’. Ini syariah. Tapi apakah ‘Bunga Bank’ itu riba ? Ini area Fiqih. Yang ada banyak dan terbuka perbedaan dalam pembahasannya. Demikian kata Gus Nader . . .

Pernah pula kan, bahkan sering, kita dengar cerita Nabi Muhammad menyuapi seorang Yahudi tua di pasar ? Bukan sekedar menyuapi, tapi oleh Nabi makanan dikunyah dulu, agar orang tua Yahudi ini, si ‘tapir’, mudah menelannya. Mungkin sudah ompong . . .Padahal, ya padahal, ada hadits, ‘Dari Abu Hurairoh, bahwa Rasul SAW bersabda, Janganlah kalian memulai kaum Yahudi, dan jangan pula dengan kaum nasrani, dengan ucapan salam. Jika kalian bertemu salah seorang dari mereka di jalan, himpitlah ia ke pinggir’ (HR Muslim no.4030)Lha ini ? Meski Nabi ndak ucap salam, tapi Beliau juga ndak ‘mèpèt’ orang tua Yahudi, ‘tekstual hadits’, namun malah menyuapi . . .Mohon direnungkan . . .

Biasanya mengharamkan berdoa untuk non muslim, baca ‘tapir’, yang sudah wafat, pakai ‘dalil’ salah satu ayat dalam Quran.’Tidak sepatutnya bagi seorang Nabi dan orang2 yang beriman, memintakan ampun kepada Allah untuk orang2 yang musyrik, meski orang2 musyrik itu kaum kerabatnya, (karena) sudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang2 musyrik tempatnya ada di (neraka) jahim’. Surat At Taubah ayat 113 . . .Sah !?Tapi mohon diingat dulu. Saat Quran uraikan tentang jilbab di surat An-Nur ayat 31, ‘aurat’ atau ‘perhiasan’ perempuan ndak boleh sembarang ditampakkan dan dilihat. Kecuali oleh yang dibolehkan, seperti Ayah, Suami, Anak2nya, dan seterusnya . . .Yang termasuk dan seterusnya, dalam ayat itu, ‘secara tekstual’, adalah para ‘Budak’ dan ‘Pelayan Laki-laki’ juga . . .Masih adakah di jaman sekarang, ‘Budak’ atau ‘Jenis’ pelayan laki-laki yang diperbolehkan untuk melihat ‘ithu’-nya juragan perempuan ?Mohon direnungkan . . .

Terkait dengan ayat At Taubah 113, andai benar seperti yang ‘disangkakan’ pada Jokowi, masih bisa pula dibantah. Baca ‘dièyèl’.Jokowi ndak memintakan ampun Ibu Elisye pada Allah, ‘tekstual AlQuran’, cuma mendoakan kok . . .Berdoa agar Ibu Elisye mendapat ‘Dalan dan Panggonan yang Jembar dan Padhang’, jalan dan tempat yang luas dan terang. Dari Tuhan.Perkara doa Jokowi dikabulkan atau tidak, itu urusan dan hak ‘prerogatif’ Allah. Toh, Jokowi ndak memohon ampunan, kok . . .

Catatan no. 1 : Apa ndak sebaiknya para ‘ngulama’ tidak ‘kebiri’ Visi dan Misi agama Islam. Jaman Perjuangan, ‘ngulama’, keluarkan ‘Resolusi Jihad’.Di era ini, sudah bantu BPKH-nya pak Anggito Abimanyu, untuk milih ‘penempatan’ Dana Haji agar sejalan syar’i.Jangan urusi masalah yang ndak perlu dan kecil. Jika terpaksa silakan masuk ‘kamar’ tersembunyi. Silakan bisik2 tanya-jawab dengan umat yang ‘itha-ithu’.Tolong pahami filosofi ’empan-papan’, bukan atau minimal ndak harus, ‘sampaikan meski hanya satu ayat’ . . .Mohon direnungkan . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed