by

Doa Musim Hujan

Oleh : Harun Iskandar

Banjir atau apapun namanya yang terjadi di Jakarta Utara, oleh Penggede DKI Jakarta disebut ada fenomena ‘Air Loncat’ . . .Pemda DKI di salah satu jurus tangani banjir, Sunatullah, adalah bikin ‘Sumur Resapan’. Namun dari target Sejuta Sekian, baru ada 7 atau 8 ribuan. Ndak jelas, apakah termasuk yang dibuat jaman pak BTP, atau ndak . . .Jumlah itu makin berkurang. Karena saat bikin ‘Sumur Resapan’ di sepanjang sisi KBT, Kanal Banjir Timur, banyak yang kritik. Lalu diubah, cenderung cocok diberi nama ‘Drainase Vertikal’ . . .

Ada seorang ngustat sepuh dawuh, ‘Ndak setuju kalau hujan itu berasal dari air laut yang menguap, lalu jenuh di angkasa. Kemudian jatuh ke bumi sebagai hujan,’Itu semua karena Tuhan. Memang seh, kalau ‘percaya’ selain kepada Tuhan, dalam Islam disebut Musyrik . . .

Dua minggu lalu, seingat saya, menjelang maghrib bel rumah berbunyi. Saat itu sedang hujan deras. Saya keluar, ternyata pak Satpam. Infokan, sungai kecil di batas kompleks sudah penuh. Got depan rumah juga. Tanda2 mau banjir . . .”Ndak ungsikan mobil, Pak Haji ?” Tetangga banyak yang sudah lakukan. Saran pak Satpam. Saya ucapkan terima-kasih, namun ndak saya lakukan.

Saya pun kemudian berdoa habis2an. Seperti saran seorang Penggede DKI. Pakai macem2 bahasa yang saya kuasai.Tau ndak ? Ternyata berhasil ! Hujan berhenti. Jadi bener kata pak ngustat, hujan itu yang sebabkan adalah Tuhan. Maka ‘Kesana’lah saya memohon . .

Sabtu sore kemaren, arah pulang lewati Jalan Sultan Agung, Raya Bekasi. Hujan sangat amat deras. Wiper bergoyang kiri-kanan dengan kecepatan penuh.Jalanan tergenang air. Hingga nyaris hanya bisa dilewati satu jalur, paling kanan. Hanya satu dua mobil yang berani terjang. Sepeda montor sudah jelas takut. Saya sudah mikir, dengan kondisi hujan seperti ini, ada kemungkinan kompleks perumahan saya akan kebanjiran. Tentu saja termasuk rumah saya. Seperti hari2 kemaren, dan sudah jadi kebiasaan, saya pun berdoa. Habis2an juga. Tahu ndak ? Ternyata berhasil ! Masuk kompleks, jalanan ndak ada sedikitpun genangan. Cuma basah sana-sini. Aman . . .

Sempat terpikir oleh saya, mengapa Jokowi susah2 bangun waduk atau bendungan baru di hulu sungai Jakarta. Mengapa repot2 bareng Pak BTP dan Pak Basuki PUPR, Normalisasi sungai. Bikin Sudetan Kampung Melayu, bangun Turap di banyak sungai Jakarta. Dan lain-lain . . . Buat apa . . . ? Begitu bodoh dan musyrik mereka. Wong saya cuma dengan berdoa sudah bisa cegah banjir muncul . . .

Saat ini sedikit mendung. Saya sudah mulai nyicil. Nyicil doa. Semoga juga saya termasuk golongan umat yang ‘relijis’, biar doa ‘tolak banjir’ saya manjur . . .Amin . . .

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed