Dibawah Jokowi, Indonesia Bakal Kembali Swasembada

Jika sebelumnya saya membahas capaian Kemenhub dan PU, pada artikel kali ini saya akan membeberkan capaian dari kementrian pertanian. Di sector pertanian memang tidak akan ada banyak gambar mencengangkan seperti proyek-proyek pembangunan selayaknya Kemenhub dan PU, dari presentasi yang disampaikan oleh staff Menteri Amran juga tidak memaparkan banyak gambar, lebih pada data-data kongkrit. Sementara Pak Menteri saat itu sedang berada di Subang dengan Presiden untuk blusukan. Namun apapun itu semoga tulisan saya ini bisa sampai dan dapat dimengerti dengan mudah.

Dalam setahun Kementrian Pertanian sudah melakukan rehab irigasi tersier seluas 2,1 juta hektar, optimasi lahan seluas 570 ribu hektar, penyediaan pompa air sebanyak 2.953 unit, traktor 26.100 unit, rice trasnplanter 5.563 unit dan alat penyiang.

Dari sisi kebijakan, ada revisi Perpres Tender e-catalog, refocusing sebesar Rp 4,1 triliun pada 7 komuditas dan keunggulan komparatif basis komunitas, bantuan benih tidak existing, mengendalikan impor untuk insenti petani, evaluasi serapan harian dan mingguan, antisipasi banjir dan kekeringan, system lelang jabatan ala Pakde. Selain itu juga melakukan pengendalian rekomendasi impor, kebijakan HPP, membangun Toko Tani Indonesia (saat ini sudah beroperasi 38 unit dengan target minimal 1,000 unit di akhir 2016), sinergisme dengan Kemendag dan Bulog serta yang paling ngetrend di media mainstream adalah operasi pasar pangan murah.

Tidak cukup sampai di penanaman, tapi Kementrian Pertanian juga mengeluarkan kebijakan pasca panen. Subsidi pupuk alokasi 9,55 juta ton, benih 116.500 ton. Selain itu juga menciptakan 1000 desa mandiri benih dan organic Power Thresher 1.500 unit, Combine Harvester 2.790 unit dan penggilingan RMU 666 unit.

Dari sedemikan langkah dan kebijakan tersebut, hasil yang paling sering kita dengar adalah selama satu tahun ini Indonesia tidak melakukan impor beras, cabai, bawang merah, gula merah dan gula putih. Hal ini secara otomatis menghemat cadangan devisa sebesar 52 triulun. Sebagai gantinya, untuk memastikan trend positif buat petani, pemerintah memberi jaminan harga stabil bagi petani. Dampak dari diberinya bantuan mesin produki berhasil menghemat tenaga kerja hingga 80%, menghemat biaya produksi dan menaikkan produktifitas. Produksi padi (+4.706.188 ton), jagung (+1.657.876 ton) dan kedelai(+43.869 ton) untuk pertama kalinya meningkat positif secara bersamaan.

Sementara khusus daging sapi, Kementerian Pertanian juga melakukan banyak kebijakan dan perbaikan infrastruktur. Menyediakan lahan 1 juta hektar untuk 9 investor sapi, menyiapkan pulau karantina di Bangka Belitung untuk sapi yang semua biayanya ditanggung pemerintah, kredit jangka panjang dan khusus bagi para peternak, menekan bea-masuk sapi indukan hingga 0%. Penyediaan pompa air dengan 1.000 embung, pengendalian impor sapid an daging dan mendorong ekspor produk ternak.

Asilnya adalah membuka lapangan kerja 50 ribu jiwa, menghasilkan sapi indukan 650.000 ekor, produksi daging sapi 150 ribu ton, bibit sapi unggul 15 ribu ekor. Puncaknya adalah menghemat devisa sebesar Rp 4,5 triliun.

Di sektor cabe dan bawang merah, komuditas yang paling rentan busuk, pemerintah mendorong ekspor untuk memastikan agar tersedianya barang tidak membuat harga jatuh. Dengan adanya pasar tani Indonesia juga sedikit menyingkirkan para pedagang besar sehingga keuntungan petani lebih besar. Menurut data, tercatat ada kenaikan 247% profit bagi petani. Produksi cabai naik 7.41%, bawang naik 2.51% dan harga stabil. Kenaikan juga terjadi pada ekspor cabai sebesar 14,96% dan bawang merah 116,42%.

 Untuk melihat hasil satu tahun dari Kemenhub bisa lihat di sini

 Untuk melihat hasil satu tahun dari Kementerian PU bisa dilihat di sini

Alan Budiman (Kompasiana)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *