by

Dibalik Kebarakan Rutin Kilang Pertamina

Oleh: R Haidar Alwi

Pertamina memiliki tujuh kilang minyak dengan kapasitas produksi sekitar satu juta barel per hari. Kilang-kilang ini tersebar di Riau (1), Sumatera Selatan (1), Jawa Tengah (2), Kalimantan Timur (1) Jawa Barat (1) dan Papua (1). Namun, dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir, kilang-kilang minyak milik Pertamina telah mengalami kebakaran hingga tiga kali. Itu artinya, kebakaran kilang terjadi setiap tiga bulan sekali.

Peristiwa terbaru terjadi di Refinery Unit IV Cilacap pada Sabtu (13/11/2021). Kebakaran ini merupakan yang ke-dua kalinya di kilang Cilacap setelah insiden sebelumnya pada Jumat (11/6/2021). Sejak mulai beroperasi, kilang Cilacap telah kebakaran hingga tujuh kali. Dengan kapasitas produksi 348 ribu barel per hari, kilang Cilacap memasok 34 persen kebutuhan BBM nasional atau 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa. Sebelum kebakaran berturut-turut di Kilang Cilacap, terjadi ledakan dahsyat di Refinery Unit VI Balongan, Indramayu, pada Senin (29/3/2021).

Saking dahsyatnya, butuh waktu berhari-hari untuk memadamkan kebakaran kilang dengan kapasitas produksi 125 ribu barel per hari. Sejak mulai beroperasi pada tahun 1994, kilang Balongan terlah mengalami kebakaran sebanyak tiga kali.Rata-rata kilang minyak Pertamina sudah tua hingga ada yang mencapai 100 tahun. Semakin tua, kondisi makin menurun. Semakin tua, makin rentan dan makin berisiko. Semakin tua, makin banyak masalah. Semakin tua, perawatan makin berat. Semakin tua, makin butuh banyak perhatian. Semakin tua, biaya pemeliharaan semakin besar. Semakin tua, maka dinding tangki makin lapuk, makin berkarat, makin tipis dan mengalami kebocoran.

Faktor ini lebih cenderung kepada kesalahan manusia atau human error. Faktor ke-dua berkenaan dengan fenomena alam berupa sambaran petir. Minyak atau hidrokarbon dari kebocoran tangki (faktor pertama) ditambah oksigen di udara dan sambaran petir (faktor ke-dua) adalah segitiga api yang sempurna bagi terjadinya kebakaran bahkan ledakan dahsyat di kilang minyak. Kabarnya, Pertamina telah menggunakan teknologi penangkal petir berstandar internasional. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun mampu memprediksi terjadinya petir. Akan tetapi kenapa insiden yang sama masih saja terjadi berulang kali???

Ada tiga kemungkinan. Pertama, kelalaian dalam perawatan dan pemeliharaan tangki. Ke-dua, teknologi penangkal petir Pertamina spesifikasinya tidak sesuai untuk kondisi alam Indonesia. Teknologi untuk negara sub-tropis digunakan di negara tropis. Padahal, Indonesia terletak di garis katulistiwa dan memiliki potensi petir yang sangat tinggi maksimal 200 thunderstorm days per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dari Eropa (30), Australia (80), Jepang (80), Korea (80) dan Amerika (100). Alasan yang ke-tiga adalah ulah mafia migas yang menginginkan Indonesia bergantung pada impor BBM.

Berkali-kali terjadi kebakaran kilang minyak Pertamina, berkali-kali pula sambaran petir menjadi satu-satunya kambing hitam. Faktor kesalahan manusia (human error) dan mafia migas luput dari fokus pengamatan. Manajemen Pertamina terbebas dari segala bentuk pertanggungjawaban hukum dengan adanya dalih fenomena alam atau tangan Tuhan. Meskipun alam tidak bisa dikalahkan, sesungguhnya manusia bisa mengantisipasi, memprediksi dan meminimalisir dampak yang mungkin ditimbulkannya.Oleh karena itu, Menteri BUMN wajib melakukan evaluasi mendalam terutama pada manajemen PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) sebagai sub-holding yang bertanggungjawab terhadap keberlangsungan operasional kilang minyak. Tindakan lain yang tidak kalah penting adalah audit investigasi secara menyeluruh agar insiden serupa tak kembali terjadi di kemudian hari. Tidak hanya merugikan negara, tapi juga membahayakan nyawa para pekerja dan masyarakat di sekitarnya. *_(HAI)_*

Sumber : Status Facebook Elhamdowie Alkadrie

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed