by

Diamnya Pemerintah RI adalah Sikap Terbaik

Sebaliknya, total ada 22 negara yang diwakili oleh musuh bebuyutan China dalam perdagangan yaitu Amerika Serikat, yang menuduh Pemerintah China telah menahan 1 juta muslim dan menganiaya Etnis Uighur di Xianjiang. Mendapat tuduhan ini, Pemerintah China membantah telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Xianjiang.

Walhasil sudah ada dua kelompok besar yang terdiri dari beberapa negara dalam menyikapi konflik Etnis Uighur di Xianjiang. Ini bukan lagi soal tudingan pelanggaran hak asasi manusia, bukan sekedar tindak separatis Etnis Uighur yang ingin memisahkan diri dari China, tapi soal kepentingan yang jauh lebih besar. Perang dagang antara China dan Amerika Serikat disebut-sebut sebagai faktor utama konflik yang sudah terjadi berpuluh-puluh tahun kembali diblow-up.

Indonesia sebagai negara besar dan berpengaruh tentu dilirik oleh dua kelompok besar tersebut. Amerika Serikat telah melakukan lobi-lobi agar ormas Islam besar Indonesia mengecam China. Diharapkan setelah itu pemerintah Indonesia juga mengeluarkan sikap resmi mengecam China. Pun demikian dengan Pemerintah China yang melakukan pendekatan kepada pemerintah Indonesia dan ormas Islam besar seperti NU agar tidak termakan propaganda media barat. Pemerintah China menjelaskan bahwa apa yang diblow-up media Barat tidak sesuai kenyataan. Pemerintah China juga mempersilahkan pemerintah Indonesia atau siapapun yang ingin melihat langsung kondisi di Xianjiang.

Saya jadi teringat setelah Perang Dunia II selesai dan Indonesia merdeka. Setelah itu, negara-negara besar terbagi menjadi dua blok, blok timur yang dimpimpin oleh Uni Sovieylt dan blok barat yang dipimpin oleh Amerika Eerikat. Sebagai negara besar, Indonesia tentu punya pengaruh. Bapak Ir. Soekarno terus dirayu baik oleh Uni Soviet maupun Amerika Serikat agar bergabung dengan blok tertentu. Beliau sempat dekat baik dengan.Uni Soviet maupun Amerika. Namun alih-alih bergabung ke salah satu blok, Bapak Soekarno justru memilih mendirikan gerakan non-blok, sebagai bentuk kampanye menolak kapitalisme dan imperialisme.

Saya melihat diamnya Presiden Jokowi terhadap konflik Etnis Uighur di Xinjiang saat ini seperti sikap Presiden Soekarno yang memilih tidak ikut blok barat maupun blok timur dan justru mendirikan gerakan non-blok. Semata-mata adalah agar Indonesia tidak terseret ke konflik kepentingan dari Etnis Uighur yang justru bisa mengganggu kestabilan situasi di Tanah Air. Dibanding terseret konflik yang seharusnya bukan menjadi urusan Indonesia, lebih baik diam dan fokus membangun negeri agar bisa mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Bagi ummat Islam Indonesia yang masih terprovokasi propaganda konflik Etnis Uighur, silahkan mengecam China jika memang menurut kalian Pemerintah China telah menyiksa dan menahan 1 juta muslim Uighur. Silahkan saja. Mau galang dana atau melakukan doa bersama untuk muslim Uighur juga silahkan. Tapi janganlah sekali-kali menyalahkan sikap pemerintah Indonesia, MUI, NU, dan Muhammadiyah yang memilih diam, tidak mau terseret kepada sesuatu yang memang bukan menjadi urusan Indonesia.

 

(Sumber: Facebook Saefuddin Achmad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed