Diam itu Bukan Berarti Takut, Jenderal…!

Oleh : Jim B Aditya

Hingga kini, Jokowi masih bersikap diam dan sama sekali tidak mau ikut terpancing menanggapi isu “kebangkitan komunis gaya baru” yang jelas-jelas mengarah ke dirinya. Apakah dia takut? Jiper, menghadapi manuver kotor lawan politiknya, yang terus berusaha mencari celah untuk menggoyang kekuasaannya? Hehehe… Saya kok meragukannya.

Kalau dia memilih diam, itu karena memang wataknya. Jokowi itu tipe pemimpin yang selalu menghindari keributan. Sekecil apapun. Kerja bagi dia jauh lebih bermanfaat daripada ribut-ribut. Apalagi ribut dengan tokoh-tokoh tua seangkatan bapaknya sendiri. Ini tentu tak sopan dan bertentangan dengan adat dan kesantunannya sebagai orang Jawa, Solo.

Meski bertubuh ceking dan beratnya hanya 55 kilo, Jokowi jelas bukan tipe pemimpin yang penakut. “Tak ada rasa takut dalam diri saya,” katanya dingin, persis adegan kepala gangster yang sedang melemparkan ancaman. Kalimat itu dia ucapkan dalam sebuah acara ramah tamah dengan masyarakat Indonesia di Washington DC, 25 Oktober 2015 lalu. Dan itu bukan ucapan kosong.

Begitu resmi menjabat sebagai Presiden RI, Jokowi langsung menggebrak dengan berbagai kebijakan yang menantang risiko. Dia sama sekali tidak takut berhadapan dengan oligarki kekuasaan yang sudah selama puluhan tahun berurat-berakar menguasai sistem perpolitikan, dan berbagai sumber keuangan negara.

Dia berani membubarkan Petral, anak perusahaan Pertamina yang pada era pemerintahan sebelumnya tidak berani disentuh oleh mantan Presiden SBY. Dia berani menyatakan perang terhadap mafia migas dan mafia ekonomi. Dia berani menyita aset perusahaan perikanan milik Tomy Winata, yang konon dibekingi banyak orang kuat, mantan pejabat, dan pensiunan Jenderal.

Dia berani menantang Freeport untuk hengkang dari Indonesia jika tidak mau menerima penawaran perpanjangan kontrak yang lebih menguntungkan rakyat Indonesia. Dia berani menenggelamkan ratusan kapal asing yang tertangkap melakukan illegal fishing di perairan Indonesia. Dia berani menantang PBB dan lembaga HAM internasional dengan tetap melaksanakan hukuman mati bagi terpidana narkoba.

Dan salah satu langkahnya yang patut dicatat sejarah… Jokowi adalah Presiden pertama yang berani mendatangi Kabupaten Nduga, daerah paling berbahaya dan paling rawan di pedalaman Papua. Semua ini bukti bahwa, meskipun berasal dari rakyat, dalam perkara nyali mantan Walikota Solo ini jauh lebih unggul dari Jenderal sekalipun. Jadi, jangan pernah meragukan keberaniannya.

Terutama bagi mereka yang merasa mendapat angin dengan sikap diam beliau. Ingat… diam itu bukan berarti takut. Diam itu pertanda orang yang sabar. Diam itu pertanda dia memiliki tingkat penguasaan diri yang tinggi. Dan diam orang yang sabar, adalah ancaman yang tidak akan pernah kau sangka bagaimana wujudnya dan kapan datangnya.

Jika masih belum menyadari, teruslah bermanuver. Teruslah mempertontonkan strategi dan jurus-jurus. Teruslah mengirim orang-orang untuk mengepung dan menakut-nakuti tempat tinggalnya. Di dalam sana, si sabar, sedang berhitung di mana dia akan meletakkan batas, yang akan kau sesali seumur hidup ketika kau mencoba melewatinya.** (ak)

Sumber : Facebook Jim B Aditya

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *