Dengan Data, Tak Ada Simalakama: Kembali Normal Adalah Pilihan Logis

Apa artinya? “Covid”, atau apapun namanya virus yang ada di Indonesia itu sangat tidak signifikan mempengaruhi tingkat kematian di Indonesia. 

Pertanyaanya adalah, bagaimana negara harus menyikapinya? Negara tentu harus melihat dalam konteks makro. Jangan terjebak drama individu. Layakkah negara mengambil kebijakan terhadap satu penyakit yang punya pengaruh sangat kecil atau tidak signifikan terhadap angka kematian di Indonesia dengan cara yang:

1. Membuat negara beresiko bangkrut karena pajak berkurang dan harus banyak mengeluarkan uang untuk safety net. 

2. Membuat banyak perusahaan di berbagai skala bangkrut dan nyaris bangkrut, membuat banyak orang kehilangan pekerjaan atau pemasukan. Data Kadin 6 juta orang telah diPHK. Itu baru pekerja formal. Lalu berapa pekerja harian yang kehilangan income? Belum ada data kongkret, tapi bisa diperkirakan jumlahnya bisa mencapai puluhan juta orang 

Ini semua, jika tidak diantisipasi sangatlah berbahaya. Daya tahan pelaku usaha dan masyarakat juga sudah di titik kritis, jika bulan Juni tidak ada pelonggaran, jumlah perusahaan yang bangkrut, pekerja yang diPHK, akan melonjak. Ini nyata bukan khayalan. Negara bisa terjebak krisis panjang di berbagai aspek karena orang yang lapar dan ruwet pikirannya bisa berbuat apapun termasuk berbuat kriminal, memicu kerusuhan dan semacamnya 

3. Membuat kehidupan sosial rusak dan gerak kebudayaan mandeg. Ini membuat ketidakbahagiaan secara massif hanya karena penyakit yang sebetulnya tidak punya dampak destruksi yang signifikan. 

Jawabannya: SANGAT TIDAK LAYAK! 

Jadi, negara dalam hal ini sebetulnya tak sedang disuruh memilih buah simalakama antara kesehatan dan ekonomi. Karena issue kesehatannya sangat tidak signifikan. Negara hanya harus mengerti apa sebenarnya masalah riil yang dihadapi: bukan epidemi yang bisa memicu jutaan kematian, tapi ini soal ekonomi yang bisa runtuh dan manuver politik yang bisa membuat pemerintahan terjatuh. 

Dengan data yang jelas seperti di atas, maka pemerintah tak perlu ragu untuk menjalankan kebijakan new normal – bahkan normal sekalian seperti di NTT dan Sulsel. 

Negara harus tegas untuk abaikan narasi seram epidemi. Itu semua cuma khayalan yang memberi api pada upaya kudeta. Negara harus tegas pada pihak pihak yang hendak menjatuhkan pemerintahan ini, untuk melindungi rakyat 

Di bidang kesehatan, cukup rakyat dilindungi dengan cara standar: dengan edukasi cara hidup sehat, terus menerus meningkatkan kualitas infrastruktur kesehatan, promosi tradisi lokal seperti jamu-jamuan dan sebagainya. 

Yang justru sangat urgen adalah rakyat harus dilindungi dari racun penyebab sakit psiko somatik yang ditebar media dan para provokator. Negara juga harus melindungi rakyatnya, bukan dengan jadi Sinterklas tetapi dengan membuka semua sektor ekonomi tanpa ragu. Juga menghidupkan kembali semua dinamika sosial budaya 

Saya sebagai Guru Meditasi yang semestinya hanya sibuk mengejarkan keheningan, mau tau mau harus melakukan kajian ini yang mestinya merupakan porsi para akademisi dan staf ahli di pemerintahan. Kita dalam situasi kritis dan pemerintah harus mengambil keputusan, dilandasi data yang benar. Jangan takut oleh tekanan WHO dan oposisi, jangan terjebak narasi ilusif dari media dan ilmuwan bodong. 

Jayalah Indonesia. 

(Sumber: Facebook Setyo Hajar Dewantoro/Penulis adalah Guru Meditasi)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *