Demam Naik Nggak Naik-Naik

Bagi kaum awam, model-model dakwah ala evangelis ini (Kristen maupun Muslim) jauh lebih mengena dan gampang dicerna karena disampaikan dengan logika-logika sederhana plus retorika yang memukau, ketimbang para ilmuwan atau ulama yang selalu “njlimet” dan “ndakik-ndakik” (detail, teliti, rumit sampai ke akar-akarnya) dalam menyampaikan sebuah persoalan sehingga sering kali susah untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas. 
Bagiku, yang menarik dari Pak Zakir Naik ini bukan “apa yang disampaikan” tetapi penampilannya dan medium bahasa yang ia gunakan untuk berdakwah. Lihat saja, beliau selalu tampil necis dengan jas dan dasi. Penampilan tata-busana Pak Zakir ini persis seperti para ulama, pendakwah, sarjana, dan kaum Muslim menengah kota di negara-negara Barat. 
Menariknya, kaum Muslim di Indonesia tidak ada yang mengkritik dan “mempermasalahkan” tata-busana dan penampilan Pak Zakir yang “kebarat-baratan” ini sebagai “busana kafir” misalnya. Tidak ada yang bilang busana Pak Zakir “tidak syar’i”, “tidak Islami”, “tidak “Ngarab”, atau “tidak nyunah” misalnya. Tidak ada yang bilang: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia seperti kaum itu sendiri”. Ini tentu sangat menggembirakan. 
Perhatikan juga dengan bahasa yang digunakan Pak Zakir untuk berdakwah: Bahasa Inggris, bukan Bahasa Arab atau bahasa lokal seperti Hindi atau Urdu. Juga, menariknya, tidak ada kaum Muslim yang mempertanyakan otentisitas dan kualitas ceramahnya karena menggunakan Bahasa Inggris “yang kapir”, bukan Bahasa Arab “yang relijius”. Ini juga sangat menggembirakan.  
Ajib kan?
Ajibnya lagi, banyak kaum Muslim di Indonesia yang “mendadak” demam dan mengelu-elukan “dai India”. Jamaah “Naiker” ini persis seperti para fans dan pemuja Shah Rukh Khan, Amitabh Bachchan, Salman Khan, atau Kareena Kapoor. Acha acha he he. Padahal, belum lama mereka “keranjingan” dengan para syaikh, ulama, dan pendakwah dari Tanah Arab.
Ajibnya lagi, (sebagian) kaum Muslim di Indonesia memuja-muji Pak Zakir Naik yang seorang dokter bedah dan penceramah itu, sementara para kiai, ulama dan ahli tafsir beneran (baik yang professor doktor maupun bukan, baik yang Arab maupun Indonesia, baik para syaikh dan ulama Mesir maupun para kiai pesantren yang mumpuni, dlsb) malah dicaci-maki, dikafirsesatkan, dibodoh-bodohi, dimunafik-munafikkan, dlsb. Pendapat dan “tafsir” Pak Zakir dijunjung tinggi, pendapat dan “tafsir” para ulama dan mufasir beneran malah direndahkan.
Jadi, masalahnya bukan pemikiran Pak Zakir Naik itu brilian atau tidak. Mereka mengelu-elukan Pak Naik itu lantaran pendapat dan pemikirannya itu sesuai, sejalan, atau seirama dengan hati, pemikiran, pesanan, dan tujuan jamaah Naiker. Pak Naik-nya sih oke, jamaah Naiker-nya yang “oke oce”. Pak Zakir sih memang Naik terus tapi jamaah Naiker-nya yang gak naik-naik alias mentok di bumi datar he he. 
 
(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *