by

Dari Utang ke Utang Produksi

Eva Rosdiana Dewi, bintang film nasional ini, pernah memproduksi sinetron dengan biaya kredit bank. Mangsudnya, utang bank dengan agunan rumah. Singkat cerita, hasil produksi ditawarkan ke beberapa stasiun TV Jakarta. Tak ada yang mau membeli. Waktu berlalu, sinteron belum laku. Jatuh tempo pembayaran bank, akhirnya menyita rumah Eva yang diagunkan.
Ketika teman-teman memproduksi acara musik Didi Kempot Es Campur Es (2000), juga tak punya duit. Mengajukan kredit bank, sama dialami Rano Karno. Padal produksi sudah berjalan. Sistem pembayaran TV, waktu itu, belakangan. Ada yang tenggat tahunan. RCTI pernah punya utang milyaran ke Raam Pundjabi. Teman-teman pernah ngalami dua hari jelang syuting acara live, baru dapat mencairkan duit dari stasiun TV.
Untuk PH-PH kere, pinjem duit ke investor pilihan paling mudah. Investor? Mangsudnya rentenir dengan bunga tinggi. Bayangin, teman-teman keluar duit banyak untuk sekolah dan punya jam terbang, serta reputasi internasional, bank kagak nganggep itu agunan. Beda dengan dokter, baru lulus ijazahnya bisa digadaikan.
Tapi ada cerita manis Mandra. Sukses dari Si Doel Anak Sekolahan, Mandra menjadi artis keberuntungan. Jika banyak teman pusing nyodorin proposal atau dummy (setelah dikontrak masih pusing nyari duit produksi), Mandra tidak. Ia justeru didatangi produser TV. Membawa segepok duit, nawarin Mandra terserah mau bikin apa!
Mandra pada waktunya, punya PH sendiri. Memproduksi berbagai sinetron komedi. Peralatan studionya keren. Kaya-rayalah pokmen. Tapi, ujungnya nggak sedap. Ia ketipu karyawan yang dipercaya. Pula ia terseret kasus korupsi TVRI. Mandra sebagai tersangka. Dalam persidangan, Mandra nangis, mengatakan dirinya nggak tahu apa-apa. Ia ditipu orang-orang yang ngerti apa-apa.
Sekarang stasiun TV berubah sistem pembayarannya. Pembelian dan pembayaran langsung. Tapi tetap saja kreator kelimpungan karena industri ini tak punya standar. Di negeri ini, selain tak ada asosiasi, juga tak ada koperasi seniman, sebagaimana beberapa negara Eropa. Padal, kita punya Bapak Koperasi.
Tulisan ini sebenarnya curhatan, nyari investor amatir, yang sudi membantu teman-teman. Tak mudah nyari duit di masa pandemi. Meski ada tawaran mengiurkan bernilai ratusan juta, bahkan sampai 1 milyar, dari Kemendikbud, Dirjenbud, juga Kemenparekraf, tawaran kreatif stasiun TV lebih realistis. Apalagi tawaran pakai duit negara bias modus korupsi, nyuri ide atau beli proposal gratisan. Main-mainin pekerja kreatif.
 
(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed