by

Dari Rakyat Biasa Kini Menjadi Presiden Luar Biasa

Oleh: Karto Bugel

Siapapun yang akan menjadi calon Presiden pada 2024 mendatang sebaiknya pernah menjadi Walikota, Bupati, lebih bagus lagi bila pernah menjabat sebagai Gubernur. 

Benarkah?

Bila anda adalah generasi yang hidup pada jaman Orde Baru, narasi bahwa siapapun yang pantas menjadi pengganti Soeharto harus berlatar belakang militer sering kita dengar juga bukan?

Bahkan rasa benar atas pendapat itu pun masih kita kaitkan manakala SBY harus terpilih menjadi Presiden pada tahun 2004. 

Selain isu dia seolah ditekan dan tak diijinkan untuk mencalonkan diri menjadi Presiden oleh Megawati yang di kemudian hati memancing simpati dan iba rakyat, latar belakang SBY yang militer sebagai entitas tegas dan berwibawa yang tak dimiliki oleh sipil telah pula menjadi alasan dibuat masuk akal.

Alasan bahwa 3 kali Indonesia dipimpin oleh sipil yakni Habibie, Gus Dur dan Megawati yang seolah tak sebaik Soeharto yang militer dan melekat makna tegas dan berwibawa pada dirinya sempat menyeruak. 

Rindu rakyat pada stabil pemerintahan yang kala itu memang terkesan morat marit akibat krisis multi dimensi mulai krisis ekonomi dunia dan politik akibat perpindahan kekuasaan atas sebab reformasi telah membuat rakyat butuh sosok idaman yang mampu membawa bahtera negeri ini keluar dari situasi kalut tersebut.

Dan sosok militer sebagai entitas tegas sekaligus berwibawa sebagai benar subyektifitas kala itu tak lagi memberi ruang pada sosok sipil. Dan fakta bahwa Megawati yang bahkan menggandeng tokoh hebat ketua umum PBNU pun masih tetap kalah. Padahal dia adalah incumbent bukan?

Rindu rakyat pada sosok tegas sesuai dengan kondisi kacau situasi negara saat itu telah membenarkan subyektifitas kita bahwa militer adalah jawabannya. Itu terhubung sangat erat dengan 32 tahun masa stabil. Itu terhubung erat dengan RASA benar bahwa hanya sosok militer sebagai jawabannya.

Bukankah saat Megawati menggandeng Prabowo pada Pilpres 2009 juga terkait unsur membawa jualan militer yang melekat pada Prabowo? Sipil-Militer pernah menjadi satu isu dalam kampanyenya saat itu.

Bahwa kemudian butuh 10 tahun untuk mencerna rasa BENAR itu tak benar-benar BENAR dan kemudian kita berkesimpulan bahwa yang kemarin BENAR ternyata SALAH, kalah telak Demokrat pada pemilu 2014 adalah bukti. Hukuman rakyat pada partai itu langsung dijatuhkan dalam seketika.

Itu seperti rasa bahwa mantan kita adalah tentang indah masa lalu. Fakta bahwa setelah kita ajak balik dia bukan seperti angan kita lagi, itu sering terjadi. Dia tak menjawab rindu kita. Dia hanya indah di saat awal saja manakala rindu memuncak. Dia seperti obat pereda nyeri tapi tak berfungsi untuk menyembuhkan.

Dan menjadi jomblo, bukan lagi pilihan buruk bila tak ada bahagia di sana bukan? Dan kita kemudian terbuka pada pilihan lain.

Lalu munculah sosok jelata dalam kasta politik bernama Joko Widodo. Seperti langit dan bumi, tegas dan berwibawa tak lagi menjadi syarat manakala klemar klemer dan kurus badannya menjadi ukuran. Dia hadir dalam wajah rakyat kecil, rakyat yang jauh dari sosok terlihat garang. 

Lima tahun kepemimpinannya membawa sensasi fenomenal. Caranya memimpin telah membuat semakin banyak orang jatuh cinta padanya. Dia seolah dihadirkan demi rindu rakyat Indonesia pada sosok pemimpin yang sebenarnya.

Dia adalah wong cilik sekaligus berasal dari kasta terendah dalam urutan pilitik kita. Namun dia juga pernah menjadi Walikota, Gubernur dan kemudian Presiden. Dua data itu kini seolah menjadi parameter baru dalam cara kita membuat analisa sekaligus ketika meletakkan harapan tentang seperti apa seharusnya sosok penerusnya nanti.

Sama seperti kita melihat sosok Soeharto yang konon berasal dari militer dan maka sosok penggantinya nanti seharusnya dari militer, kini teori bahwa Jokowi yang bermula dari kepala daerah dan sukses menjadi Presiden membawa kita pada pemahaman serupa. 

Kita membuat asumsi bahwa Jokowi sukses karena pernah menjadi kepala daerah dan maka sukses yang sama akan dihasilkan bila bibit dengan identifikasi yang sama adalah sosok yang pantas dicalonkan.

Bila benar seperti itu, sepertinya Anis adalah sosok yang paling dekat dengan teori tersebut. Bukan hanya pernah menjadi gubernur, dia bahkan adalah gubernur DKI dimana Jokowi pernah duduk di sana tepat sebelum menjadi Presdien. Itu sangat dekat bukan?

“Haahhh Aniss..??”

Bila berdasar survey elektabilitas, dan itu terkait pernah menjadi kepala daerah, di sana ada nama Ridwan Kamil, Ganjar atau mungkin Tri Risma. Tapi tak sedekat Anis yang duduk sebagai Gubernur DKI sama seperti Jokowi pernah bukan?

Artinya, Prabowo, Erick Thohir, Erlangga Hartarto, Puan hingga AHY kudu minggir dong? Kita terjebak pada subyektifitas.

Itu seperti pemaksaan berselubung kampanye pada sosok tertentu saja. Faktanya, dari 7 orang yang pernah menjadi Presiden, hanya Jokowi saja yang pernah menjabat Walikota dan gubernur. Enam yang lain tidak. 

Dan itu hanya akan menggiring kita pada sesat jalan. Kita mengidolakan Jokowi dan lalu seluruh keadaan hebat Jokowi yang kita puja kita lekatkan pada sosok lain. Itu seperti kita ingin memilih pasangan tapi harus sama persis dengan mantan kita dahulu 😲…..

Fakta berbicara bahwa enam Presdien kita bukanlah lulusan kepala daerah. Namun ke enamnya adalah benar berasal dari rakyat jelata seperti Jokowi, kita dapat berdebat panjang lebar.

Bila sukses Jokowi dapat merapat tanpa jarak dengan rakyatnya karena dia berasal dari kasta yang sama dengan para pemilihnya adalah premis benar, kenapa bukan alasan itu kita pakai untuk mencari sosok calon berikutnya?

Dan itu tidak harus sama persis dengan Jokowi yang konon pernah sempat tinggal di bantaran sungai dan kemudian sukses menjadi tukang kayu dong? 

Ini tentang rakyat kebanyakan. Ini tentang sosok yang terbiasa hidup dan menyatu tanpa sekat dan jarak pada kondisi real masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sosok seperti itu akan lebih mudah memahami apa makna derita rakyat karena dia adalah bagian dari rakyat itu sendiri. Dia adalah entitas dari rakyat biasa sama seperti kita kebanyakan.

“Siapa?”

Yang jelas pasti bukan Tommy Soeharto. Sulit mencari bukti dia adalah rakyat jelata sama seperti kita kebanyakan.

Siapa saja boleh mengkampanyekan dirinya adalah sosok itu. Prabowo, Sandiaga Uno, Erick Thohir, Puan hingga Hartarto di mana mereka semua tak pernah menjadi kepala daerah. 

Pun Ganjar, Anis, Ridwan Kamil atau Tri risma yang mana semuanya pernah menjadi kepala daerah namun sekaligus merasa dirinya adalah bagian dari rakyat biasa.

“Trus tokoh-tokoh PDIP seperti Budiman Sudjatmiko, Ahok, Adian Napitupulu, Maruarar Sirait adakah mereka bukan calon yang layak dimunculkan?”

Itu wilayah bu Megawati. Bu Mega sebagai Ketua Umum PDIP pernah sukses menerbitkan sosok rakyat biasa seperti Jokowi dan sosok itu kini telah menjelma menjadi presiden yang luar biasa. Kenapa kita ragu beliau tak akan mengeluarkan nama yang setara dengan Jokowi misalnya?

Sebenarnya, sejak penganugerahan gelar Profesor hingga pengangkatan beliau sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset Nasional baru-baru ini, Megawati sudah mulai menyebut sosok seperti apa yang layak meneruskan tongkat estafet Jokowi. 

Siapa itu, kriteria njelimetnya diungkap dalam konsep kepemimpinan stratejik namun nama sosok tersebut tak pernah disebut. Hanya pak Jokowi dan bu Mega yang punya kapasitas mengungkapkannya kelak.
.
.
RAHAYU

(Sumber: Facebook Karto Bugel)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed