by

Darah Koruptor untuk Donor

Oleh: Kend Subiakto

Mantan Mensos yg saat ini sedang disidangkan, Mantan Menteri KKP yg minta dibebaskan karena punya istri sholeha, viralnya pesta kabing guling di Penjara Suka Miskin.

Inilah gambaran umum yg bahkan kita sudah menganggapnya lazim, para koruptor jadi makin bongsor. ya karena korupsi disini sudah jadi nutrisi, koruptor makin tersohor karena duitnya gak pernah kendor, badannya makin bongsor, nafsunya tetap mau nyosor.

Pak Jokowi menyampaikan, bahwa triliunan dana bansos mandek di Pemda, Sri Mulyani menyampaikan baru 18% dana bansos terserap didaerah, yg luar biasa bejatnya dana untuk warga desa yg hanya Rp. 300.000,-/ kk jufa dihambat tak dibagikan.

Ditengah pandemi, ditengah jeritan masyarakat yg sulit bernafas dari semua sendi, baik ekonomi sampai nafas itu sendiri. Disana pula dana bansos yg seharusnya disegerakan malah di tahan.

Pak Jokowi memeras otak bersama Menkeu bagaimana agar uang yg makin seret bisa menjalankan roda pemerintahan, belanja pembangunan, kebutuhan pangan, bayar cicilan hutang warisan Pepo yg sekarang sedang jadi bintang boong-boongan, eh uang yang sudah dialokasikan untuk rakyat yg sedang sekarat malah dikempit rapat, ini kan luar biasa bejat.
Tumpul nalar kita melihat kepala daerah seperti RK yg mengatakan tidak mampu membantu warganya dan minta kepemerintah pusat, sekarang kita tau jangankan urusan bantuan, memvaksin warganya saja dia tak mampu menjalankan.

Jabar adalah daerah yg paling rendah cakupan vaksinasinya utk wilayah Jawa-Bali, Jabar baru memvaksin warganya 13,42 %, Jateng 15,62, Jatim 22 %, DKI 79,15 % dan Bali 86%.

Melihat cakupan vaksin, dan bansos, seperti tersistim dan di sengaja pembangkangan kepada pemerintah pusat. Mereka nggak mikir andai bencipun kepada Jokowi efeknya kan ke perut warganya, apa mereka masih golongan manusia, sulit kita menebaknya.

Sebenarnya dan ini fakta, hadirnya Jokowi sebagai presiden sudah begitu gamblang menjadi pembanding mana Srigala mana Buaya vs Jokowi yg benar-benar manusia walau tak sempurna. Tapi Jokowilah pemimpim yg merakyat beberapa dekade belakangan ini.

Seperti kesetanan Jokowi mengejar ketertinggalan Indonesia baik vs tetangganya di Asia maupun dunia. Terseok kita menapaki masa depan yg pernah di hempaskan orba dan kroninya, disambung era SBY yg makin memble. Soeharto dan SBY adalah dua orang yg berjasa merusak Indonesia dgn akhlak brutalnya dalam memamah isi perut negerinya, yg nyaris tak tersisa.

Tidak mudah bagi Jokowi mengejar ketertinggalan yg ada, mereka merusaknya dalam kurun waktu 42 tahun, sementara Jokowi hanya punya waktu 1/4 nya, belum lagi ditambah masa pandemi yg entah kapan selesainya. Kita minta Jokowi melanjutkan, tapi di ganjal UU, padahal ini mungkin hanya alasan agar partai dinasti bisa melenggang, apakah mau menaikkan anak atau koleganya yg belum tentu bisa.

Jokowi bak lari di tengah ranjau dan dihujani peluru. Disaat pandemi semua bangsa dalam kondisi kelelahan pada semua lini, disana pula para pembenci dan pendongkel Jokowi makin birahi untuk menurunkan Jokowi di tengah jalan. Apa mereka pikir dgn show of dungunya mereka bisa menjatuhkan Jokowi. Oh..entar dulu, keberadaan Jokowi saat ini bukan lagi hanya didukung 86 juta pemilihnya, bisa jadi sudah dua kalinya rakyat Indonesia yg bersamanya, belum lagi TNI-Polri, berani-beraninya mereka mimpi.

Jokowi adalah pemimpin yg melakukan pemerataan pembangunan dan menghilangkan ketimpangan dari Aceh sampai Papua, walau belum selesai semua, tapi kerjanya nyata dirasakan rakyat, bukan cuma rasan-rasan tak terlihat.

Silakan para PENGENISME untuk berebut jadi presiden, tunggu saja ada waktunya, sekarang pikirkan rakyat yg akan kalian jadikan pasar dalam pembualan manakala kampanye di jalankan, saat ini kondisi sedang berat, berubahlah walau pura-pura menjadi manusia mulia membantu jutaan manusia menyabung nyawa.

Justru sekarang kesempatan kalian untuk menunjukkan bahwa kalian layak dijadikan pimpinan dgn berempati, pura-pura saja nggak apa-apa, walau cuma bagi nasi kotak, di foto rame-rame terus di upload, daripada nampang di billboard mencari mutiara. Apalagi cuma nyinyir sok terus menasihati dan melakukan kritik rendahan, eh ketauan sekelebat numpang di shoot di film, terus dielu-elukan bak manusia yg dirindukan.

Mas Bro kalau boleh usul janganlah selalu muncul dgn gaya tuyul, rakyat sekarang sudah ngerti menilai mana jendral otak kopral, mana mayor otak kopyor, karena pemimpin kedepan dibutuhkan sosok yg bisa jadi pelopor bukan hanya badan yg bongsor.

Jadi marilah menahan diri kalau kalian masih merasa satu bangsa dan negara dengan kami dalam mengatasi pandemi. Untuk menjadi baik dan benar tak perlu menerima donor darah campuran Al-Quran, karena Kaan’an anak Nabi Nuh saja bisa jadi pengkhianat, seperti kebanyakan pejabat kita yg hidup di penjara tapi bisa berpesta, terus kalau mereka mendonorkan darahnya kita bakal jadi apa.

Biasa sajalah jangan maksa selalu jadi orang mulia, kalau keseharian kita masih berprilaku seperti kera. Jangan bicara seolah kebaikan kita yg punya, begitu ditanya kapan dilakukan, semua amnesia.

SELAMAT HARI ANAK NASIONAL, JNGANN KITA YANG SUDAH TUA MALAH NAKAL.

(Sumber: facebook Kend SUbiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed