by

Cerita Anak Orba

 

Alm. Eyang Kakung adalah pedagang kayu antar pulau. Yang dalam bisnisnya tak peduli berurusan dengan siapapun.

Sampai suatu ketika, beberapa bulan sebelum peristiwa itu harus berurusan dengan salah seorang pengurus PKI yang tak juga bersedia membayar hutang dagangnya. Akhirnya terpaksa mengambil sepeda milik orang itu.

Eyang Kakungku juga dimusuhi mereka yang mengaku para penumpas PKI karena dianggap melindungi sepeda itu. Ya karena sepeda itu yang dijadikan alat pembayar hutang pemiliknya.

Suasana yang memanas, membuat beliau memutuskan mengungsi ke sebuah kota kecil di selatan Jakarta.

Tahun berlalu, aku menikmati pendidikan yang cukup.
SD, SMP, SMA kulalui di sebuah kota kecil yang tenang di Jawa Tengah.
Eyang Kakung jadi guru ngaji yang disegani. Dan juga jadi tempat datangnya para prajurit yang akan berangkat ke Timor Timur.

Aku memiliki masa kecil yang bahagia, meski harus tinggal jauh dari orang tua dan adik-adikku.

Saat kuliah di Surabaya, cukup bayar 60.000 per semester.

Orde Baru benar memberi kemudahan pada hidupku saat itu.

Meski lututku pernah bengkak ditendang PM saat akan wawancara Pangdam V Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Saiful Sulun.
Jempol kakiku berdarah diinjak bot tentara ketika nekad meliput pembangunan pusat latihan marinir di Situbondo.

Lepas dari dunia reporter, aku ikut membangun bisnis kakak sepupuku.

Masih di jaman itu, wajar kalau proyek terpotong 10-15% untuk pungli. Tapi kami toh masih dapat untung tanpa mengurangi kualitas bangunan. Karena setelah itu tak ada pungutan lain.

Hidup kami berkecukupan, bisa sekolahkan anak dengan baik. Tanpa hutang dan beban.

Masa Reformasi
Aku jadi saksi penjarahan lahan-laham PTPN di Banyuwangi dan di beberapa daerah di Jawa Timur.

Aku jadi saksi betapa korupsi menjadi dari meja yang satu ke meja yang lain.

Akhirnya aku berdagang.
Banyak pelanggan loyal dan royalku dari kalangan pegawai pemda dan pemkot Bogor. Lapak yang cuma 1 etalase ukuran 1.5m berubah cepat menjadi toko seluas 4×8 m2.

Meski kemudian itu hanya tinggal kenangan, namun bukan karena kesalahan ekonomi negara. Aku lah yang bodoh.

Masa Kemerdekaan
Terjadi 3 tahun lalu. Saat pilihanku dilantik jadi Presiden RI ke 7.

Pelanggan loyal dan royalku minggat. Kehilangan mata pencaharian tambahan. Karena tak ada lagi sogokan.

Omset turun 70%. Tertolong hanya dari service hp.

Tapi aku merasa semua membaik. Birokrasi tak lagi seruwet dulu.

Pembangunan begitu terasa hasilnya.

Aku yang tadinya cuma berharap anak-anak ku hidup bahagia, sekarang bisa bermimpi, kelak mereka bisa menjadi pemimpin bangsa.

 

(Sumber: Facebook Arif B Santoso)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed