Catatan Seputar Muallaf, Dari Yahya Waloni Hingga Martin Lings

Ada banyak muallaf berkelas yang menuangkan gagasamnya melalui karyanya. Khususnya dalam pergolakan batinnya maupun pendalamannya mengenai Islam. Tulisannya simpatik tanpa harus meracau keburukan agama lawasnya. Murad W. Hoffman, Leopold Weiss (Muhammad Asad, tafsir al-Qur’annya sangat bagus. Beli ke saya saja hahahaa), Maryam Jameela, hingga profesor cantik Ingrid Mattson yang renungan al-Qur’annya enak dinikmati itu.

Oke. Jika dirasa terlalu berat, kira menziarahi jalan hidup dua muallaf melalui otobiografinya. Kalau yang agak elegan bisa kita temukan dalam buku karya Prof. Jeffrey Lang, “Aku Beriman, Maka Aku Bertanya”. Lang adalah Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, yang menjadi muallaf setelah sekian lama mengajukan pertanyaan-gugatan kritis dalam teologi dan berbagai aspek hingga pada akhirnya dia mendapatkan hidayah. Tuturan dalam bukunya asyik, kritis, namun tidak ada cacimaki terhadap agama lawasnya.

Selain Lang, ada Kapten James “Yusuf” Yee juga menulis “For God and Country”. Buku bagus yang edisi Indonesianya dicetak dengan luks ini berkisah awalmula dirinya sebagai warga AS keturunan Tionghoa, masuk West Point–akademi militer bergengsi di AS, ditugaskan di Suriah, kemudian memeluk Islam. Setelah itu dia menghadapi berbagai masalah saat ditugaskan di Guantanamo dan harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sesama rekan tentaranya, karena Yee–sebagai perwira AS–justru memperlakukan tahanan dengan baik. Yee memang tidak berkisah panjang lebar soal awal mula ketertarikannya dengan Islam, tapi cukup memadai untuk menggambarkan pergulatan batinnya hingga sampai pada hidayah dan kehidupannya di AS sebagai seorang keturunan Tionghoa sekaligus muslim.

Kalau dari jalur pemikir Salafi, ada Dennis Bradley Philips atau yang masyhur dengan nama Abu Ameenah Bilal Philips. Buku karya pria kelahiran Jamaika ini bagus dan layak diapresiasi secara ilmiah, sebab dia melewati jalur akademik untuk menjadi seorang ahli: mendalami bahasa dan fiqh di Univ. Raja Saud dan Universitas Madinah, setelah sebelumnya belajar bahasa Arab dengan baik.

*****

Hidayah itu istimewa dan keimanan itu sangat esensial. Sebab pergulatan batin dan perjalanan menggapai hidayah itu seringkali menjadikan seseorang lebih dewasa bersikap dan bahkan lebih mendalam menjalankan ajaran agama barunya. Ikuti proses dan tahapan keilmuan yang ada, biar tidak menabrak pakem dan melantur kesana-kemari.

Kalaupun ada yang masih emosional, sensitif, kemudian menjual “kejelekan” agama lawas maupun ideologi lamanya ya anggap saja masih belum move on dan masih terbayang-bayang masa lalu.

Melupakan mantan dan masa lalu, lantas fokus pada kenyataan sekarang itu memang sulit. Eh….

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *