by

Buya Syafii Maarif, Ahmad Dahlan Masa Kini

Ketika arus besar Muhammadiyah tampak tidak perduli terhadap kondisi negeri yang terancam sikap intoleransi yang bahkan dilakukan oleh orang Muhammadiyah sendiri, Buya tetap yang terdepan mendentangkan lonceng tanda bahaya.

Ia tidak perduli meski dimusuhi sekitarnya. Buatnya ada hal yang lebih penting daripada sekedar baper menanggapi orang yang terus menyerang dan menghancurkan karakter dirinya.

“Old soldier never die” patut disematkan kepada beliau ini. Dialah salah satu contoh terbaik ulama yang mulai langka di negeri ini. Seorang ulama haruslah mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Dan bagi Buya, yang belum selesai adalah tugasnya di dunia untuk memperingatkan banyak orang akan bahaya intoleransi di depan mata kita ini.

Buya merepresentasikan secangkir kopi. Ia pahit bagi yang berseberangan dengannya, tapi ia manis bagi yang paham akan bahaya yang selalu diteriakkannya..

Seruput dulu, Buya.. Salam hormat untukmu dari kami.

Sumber : facebook Denny Siregar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed