Bumbu dalam Beragama

Jika orang beragama tahu rasanya harus bersimpuh hingga kedua kakinya bebas gara-gara membahas beberapa baris ayat saja maka dia tidak akan pernah punya keberanian untuk mencomot ayat lalu membagikannya begitu saja.
Agama bukan sejarah yang cukup dibaca dengan mata yang menempel di wajah. Lalu merasa telah menjadi lebih tahu. Agama apapun itu harus dibaca dengan seluruh dirimu. Hati, kepala, jiwa, rasa, napas, akal dan seluruh kesadaranmu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kecerobohan terburuk dari manusia jaman sekarang adalah hanya membaca apa saja lalu langsung menghakimi secara sepihak dan mempercayainya tanpa bertanya.
Contoh, seperti pagi ini kita sedang menikmati sarapan dan makanan lezat yang diolah dengan campuran banyak bumbu tapi kita tidak tahu bumbu manakah yang membuat makanan itu menjadi benar-benar lezat. Lalu kita mencari tahu dan menemukan bahan-bahan serta takaran yang dipergunakan lalu mencobanya tapi kita tak bisa menemukan rasa yang benar.
Ayah tahu kenapa? Karena kita membutuhkan seorang koki yang bisa menuntun cara meracik bumbu dan memasak dengan benar. Setiap bumbu memiliki keistimewaan dan memiliki andil untuk memberi rasa terbaik pada suatu masakan, tapi tidak semua bumbu bisa dimasukkan pada waktu yang bersamaan.
Ada cara dan urutan nya bagaimana tata cara yang benar dalam meracik makanan harus digunakan dalam waktu yang tidak sama untuk bisa meresap pada bahan masakan. butuh orang yang benar-benar tahu untuk bisa mempelajari serta mengerti itu.
Agama juga seperti itu. Ada tahapan, ada bumbu, ada waktu dan proses yang dibutuhkan agar bisa meresap ke dalam diri secara benar. Kapan waktunya ya harus belajar untuk tahu akan sesuatu supaya bisa paham dengan benar.
Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *