by

Budiman Sudjatmiko Bantai Buzzer Pendukung JK

Oleh : Hadi Sangkan Paran Dumadi

Budiman Sudjatmiko turun gunung. Orang ini tidak suka dengan statement JK yang mempertanyakan bagaimana cara mengkritik pemerintah tanpa dipanggil polisi. JK ini orang yang sulit ditebak ada di posisi mana. Sebagai mantan wapres di dua era, JK ini dikenal sangat licin.Sambil memposting berita yang diambil dari media terkait pertanyaan gak jelas

JK soal bagaimana kritik Jokowi tanpa dipanggil polisi, Budiman Sudjatmiko sebetulnya menjawab JK. Agar tidak dipanggil polisi ya jangan rasis dan pro kekerasan.Dia mengatakan bahwa yang tidak jadi wapres dua kali di era demokrasi pun, tahu kritik dan provokasi. Tapi buzzer pendukung JK langsung gagal paham. Dia mengatakan bahwa Budiman Sudjatmiko menuduh JK rasis dan pro kekerasan.

Ngakak banget! Buooodohnya…Dia juga mengatakan bahwa dia dulu adalah kritikus dan oposan, baik di dalam dan di luar sistem. Dia dulu ditangkap oleh polisi bukan karena dia rasis tapi rezimnya yang tidak demokratis. Menyerang Orde Baru, adalah permainan dari Budiman Sudjatmiko yang mahir.

Dia pun melanjutkan mempertanyakan apa bedanya berkuasa dan menjadi oposisi di era demokrasi? Budiman melanjutkan bahwa jika kelompoknya kalah, kritiknya harus disampaikan secara terbuka. Jika kelompoknya menang, kritiknya bisa disampaikan secara terbatas lewat jalur khusus.

Ia melanjutkan bahwa etika kekuasaan itu tidak pro terhadap kekerasan dan rasisme. Dari sini, kita memahami begitu dewasanya cara pikir Budiman terkait demokrasi dan nilai-nilai kebangsaan. Ia sebagai mantan aktivis 1998 yang menjadi pendobrak Orba, tahu betul bagaimana cara memperjuangkan demokrasi.Apa yang JK katakan, langsung dihabisi oleh Budiman Sudjatmiko. Jawabannya jelas.

Agar tidak dipanggil polisi ya jangan rasis dan pro kekerasan. Setelah itu, Twitter yang merupakan ajak Gladiator, ada orang yang sok menilai Budiman Sudjatmiko menuduh JK. Langsung ditelan sama Budiman.Dia menantang pendukung JK ini untuk melaporkan dirinya. Dia bahkan mengaku senang jika dilaporkan karena bisa bicara dengan terbuka di pengadilan. Sebagai pejuang mimbar rakyat, Budiman paling senang dan mengaku bahwa pengadilan adalah podium favoritnya.

Terkahir dia berbicara di pengadilan, saat ia divonis 13 tahun, tak lama kemudian, rezim orba memenjarakannya dengan vonis seumur hidup. Saat itu Soeharto berpikir bahwa dia bisa berkuasa selama-lamanya. Nah. Di sinilah kegagalannya. Dia senang pertarungan di meja hijau. Bukan sekadar di Twitter. Budiman Sudjatmiko menantang buzzer pendukung JK untuk tidak bacot doang di Twitter. Twitter itu gak terlalu real. Yang seru itu di pengadilan, seperti yang pernah dilakukan oleh beberapa pejuang demokrasi.

Khususnya Budiman Sudjatmiko.Ia melanjutkan bahwa di ruang pengadilanlah, dia bisa memilah-milah mana nalar asli dengan nalar palsu. Bukan sekadar nalar, dia juga mengatakan di pengadilan lah, nyali asli dan nyali palsu pun diuji. Artinya, Budiman selain menantang nalar pendukung JK, dia juga menantang apakah pendukung JK ini ngomong gede doang atau apa?Kelas Budiman Sudjatmiko ini nggak selevel sama mereka-mereka yang mengaku dirinya sebagai pembela JK.

Mereka ini hanya berani di Twitter. Menggiring opini dengan nggak jelas. Tapi dengan tantangan Budiman, mereka langsung ngeper. Mendadak orang itu lenyap ditelan Twitter.Tidak ada balasan, hanya berani nyinyir dan mengandalkan buzzer-buzzer yang nggak jelas. Kalau mau dikata, statement JK ini memang nggak jelas. Yang dipanggil ke kantor polisi itu Abu Janda. Pendukung Jokowi. Lagipula, kalau sampai dipanggil polisi, itu urusan bukan kritik.Pak JK gak bisa bedakan kritik dan hoax.

Yang dipanggil polisi itu yang membuat hoax dan menghasut. Yang dipanggil polisi itu Rizieq si penyebar teror dan pembuat kerumunan. Yang ditangkap polisi itu Alfian Tanjung yang memfitnah Jokowi PKI.Jadi Pak JK, pakai lah logika sedikit.Nggak usah bikin pertanyaan itu. Harusnya kan JK sudah tahu. JK ini kan juga sudah dewasa. Sudah berpengalaman. Masak nggak bisa bedakan kritik dan fitnah? Akhirnya Budiman Sudjatmiko pun bersuara. Bedakan antara kritik dan fitnah Pak.

Pakai logikanya sedikit aja. Nggak usah banyak-banyak. Pasti bisa.Budiman Sudjatmiko ini sosok yang berani bersuara, dan memiliki nyali. Terima kasih Mas, saya berutang banyak pemahaman kepada Anda. Mencerdaskan publik itu lewat cara-cara berpikir yang baik dan terpola. Berpendapat adalah salah satu latihan meluruskan pikiran.Ayo dong pendukung JK. Jangan cuman jagoan di Twitter. Situ payah kalau cuman di Twitter. Ayo ke pengadilan. Laporkan. Itupun kalau nggak diketawain polisi.Begitulah jago kandang.

Sumber : Hadi Sangkan Paran Dhumadi fb

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed