by

Biden, Afganistan dan Indonesia

Oleh : Budi Setiawan

Presiden Ameriika Joseph Robinette Biden dalam pernyataan persnya menegaskan point penting kebijakan luar negeri Amerika di Afghanistan.. Presiden Biden tegas mengatakan bercokolnya tentara Amerika di Afghanistan selama 20 tahun adalah kesalahan fatal empat pendahulunya yang semuanya lepas dari fokus.Fokus itu adalah memastikan Afghanistan tidak menjadi lahan subur terorisme yang menyerang kepentingan nasional Amerika di manapun.

Presiden Biden tegas menyatakan jika fokus sejak dahulu, keberadaan militer Amerika tidak seharusnya menelan dana satu trilyun dollar dan ribuan tentara terbaik Amerika gugur disana. Amerika, dibawah kepemimpinannya, tidak akan menjadi pihak yang bertujuan membangun sebuah bangsa di Afghanistan yang menjebak Washington terlibat tiada ujungnya. Sementara pemimpin Afghanistan tidak serius membangun bangsanya sendiri. Menikmati hidup mewah sementara tentara Amerika berjuang.

Keputusan Biden menyelamatkan ribuan tentara Amerika bisa dipandang sebagai perubahan fundamental kebijakan luar negeri mengenai keterlibatan Amerika di berbagai konflik di dunia.B iden tegas mengatakan fokus pada tujuan. Dengan sistem yang ketat serta masuk akal. Dan ini akan menyelamatkan ribuan tentara Amerika dari kematian sia-sia akibat kebijakan negara yang kebablasan dalam mengartikan defending democracy and freedom adalah nafas orang Amerika yang menjunjung Hak asasi manusia, sebagai invasi militer dengan biaya besar dan memakan korban jutaan orang serta menciptakan kesengsaraan yang luar biasa di kawasan.

****Manakala Afghanistan jatuh ke tangan Taliban, kita khawatir pahaman Islam garis keras yang kejam bakal merasuki kalangan Islam konservatif di Indonesia. Dipastikan pemerintahan Emirat Islam Afganistan akan melakukan window dressing di tahun-tahun pertama. Semata dipergunakan untuk menyakinkan bahwa Taliban sekarang bukan Taliban yang dulu. Aksi bedak muka ini dipastikan akan menarik simpati dan decak kagum kalangan Islam konservatif garis keras di Indonesia. Dukungan akan meningkat hingga paham HTI dan sejenisnya mengenai khilafah akan mendapat tempat.

Akan tetapi, ekspansi dukungan terhadap paham Islam garis keras tidak bisa dibendung oleh narasi kadrun-kadrunan. Narasi kadrun hanya menekan kampanye khilafah dan Islam Garis Keras di media sosial. Tapi tidak bisa menekan gerakan ini di dalam kehidupan masyarakat yang nyata. Teknik kadrun-kadrunan yang sekarang makin memuakkan, telah menciptakan ceruk dukungan nyata yang mendukung pahaman Taliban atau sejenisnya di kluster-kluster tertutup. Di majelis taklim, pengajian atau diskusi keagamaan pada kelompok-kelompok satu ide. Mereka menggunakan zoom meeting untuk menggelorakan Islam yang intolerant.

Kekuatan ceruk kelompok ini tidak bisa terdeteksi. Namun dia akan muncul sebagai kekuatan dahsyat seperti gerakan 212 yang membuat banyak orang heran, mengapa begitu banyak orang yang tersihir oleh pahaman bodoh ini. Patutlah dipahami, bahwa teknik kelompok Islam garis keras yang kini menghindar konfrontasi narasi lewat media sosial dan mengokohkan barisan ala gerakan bawah tanah, sungguhlah membahayakan. Narasi kadrun-kadrunan malahan bakal menjadi ajang mencari simpatisan yang lebih besar.

***Seperti halnya kebijakan Presiden Biden yang ingin memfokuskan keterlibatan militer Ameriika hanya untuk kepentingan nasional, maka pemerintah Indonesia sejak jatuhnya Afganistan, mesti membekali diri dengan sistem yang menangkal pahaman Islam konservatif garis keras merampok kebhinekaannya. Sudah saatnya, pemerintah Indonesia mengeluarkan aturan yang memperluas toleransi dan kebebasan beragama di negeri ini. Sekaligus memberi sanksi tegas bagi pelanggarnya.

Pemerintah Indonesia harus tahan pada kritikan Dan konsisten pada aturan yang sudah ditegakkan.Jika jilbab tegas disebutkan sebagai sebuah kebebasan beragama dan tidak wajib, maka aturan itu harus ditegakkan apapun resikonya. Jika pengaturan terukur mengenai pembangunan gereja, Pura atau vihara sudah dikeluarkan, maka itu harus dipertahankan dengan resiko apapun. Ketegasan ini hanya bisa dilakukan apabila pemimpin bangsa ini tidak menjadikan agama sebagai sumber ketakutan mereka. Yang malangnya ketakutan itu adalah ketakutan kehilangan jabatan atau dukungan, tapi dengan tega menginjak kepala orang hingga menderita.

Jatuhnya Afganistan ke tangan Taliban bukan karena Taliban yang kuat. Tapi lemahnya pemimpin bangsa itu untuk menciptakan kemakmuran rakyatnya. Dan mengandalkan kekuatan Amerika melindungi kepentingan mereka tapi tidak mau melakukan perubahan.Hal yang sama akan berlaku di Indonesia meski dalam skala berbeda.

****Jika negeri ini yakin bahwa narasi kadrun-kadrunan yang digembar-gemborkan para influencret, buzzer dan para bucin adalah senjata ampuh, maka negara ini harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kekuatan besar Islam fundamentalist di masa depan. Manakala, Islam selalu jadi tunggangan, alat dan obyek perkosaan para pemain politik. Yang menjerumuskan negara ini dimasa depan sebagai tidak berdaya menghadapi teknik strategis kelompok Islam garis keras menguasai desa hingga kota dengan aturan yang kurang lebih sama dengan aturan Taliban.

Ini semua karena kita percaya betul bahwa cuap-cuap kadrun-kadrunan adalah alat ampuh membasmi intoleransi. Padahal mereka yang dituduh kadrun tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan ini. Mereka justru memanfaatkan kadrun-kadrunan untuk menggalang lebih banyak dukungan, sementara kita merasa berhasil lewat cara itu.. Padahal, ketika tirai kepuasan pura-pura yang menghasilkan banyak uang bagi para kreator itu dibuka, maka yang akan ditemui hanyalah kesia-siaan.

Sama seperti yang ditegaskan Presiden Biden bahwa adalah kesia-siaan mempertahankan keberadaan tentara Amerika di Afganistan. Karena sistem tidak terbentuk di Afganistan. Karena pemimpin bangsa itu malas, tidak mau menanggung resiko lantaran mementingkan tujuan pribadi dan kelompoknya. Kondisi ini sedang atau akan terus berlangsung di Indonesia, hingga Perang melawan radikalisme dan intolerant tidak diketahui kapan akan berakhir. Cuma berhenti pada narasi NKRI harga mati tapi tanpa aksi. Karena pemimpin bangsa ini tidak mau bangun sistem dan puas mengandalkan program bacotan saja. Yang celakanya di-proyek-kan juga..

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed