by

Berita yang Melintas di Beranda

Oleh: Eko Kuntadhi

Setiap kali kabar kematian melintas di beranda, saya jadi teringat kalimat itu, “hidup hanyalah menunda kekalahan… “Sebuah suasana muram. Tentang ketidakberdayaan yang puitis.

Chairil Anwar menuliskannya saat ia terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Akibat TBC yang dideritanya. Usianya 27 tahun. Dan Chairil, seperti juga Soe Hok Gue, mati muda. Meninggalkan 70 puisi yang penuh pemberontakan itu. Ia tak berdaya, tak akan ada yang tak terucapkan. Sebelum akhirnya kita menyerah.

Chairil bahkan membayangkan tempat tinggalnya setelah kematian itu. Di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang) sampai juga deru dingin. Karet bivak adalah daerah pemakanan di Jakarta. Chairil menunjuk sebagai daerahnya yang akan datang. Tubuhku diam dan sendiri. Cerita dan peristiwa berlalu beku.

Mungkin saja ketidakberdayaan, pada tahap tertentu adalah semacam kepasrahan indah kepada Dia yang di tangannya ada ubun-ubun kita. Seperti orang yang mengetuk-ngetuk pintu Tuhan. Memohon dibukakan. Sebab dia tak bisa lagi berpaling.

Tak ada pintu lain yang bisa didatangi. Kematian seperti juga kehidupan, menyimpan misterinya sendiri. Setiap kita berjalan menuju titik itu. Dengan langkah yang pasti. Meski kita berusaha selalu memperpanjang ruas jalannya. Seperti menolak untuk berhenti.

Dan kabar kematian yang melintas di beranda, menyadarkan kita, pada suatu saat nanti. Nama kitalah yang melintas di beranda itu. Tanpa kita pernah bisa berkomentar lagi. Saat kabar itu melintas, tentang orang yang kita kenal. Kita akhirnya tahu, jalan itu sama saja. Akan selalu ada ujungnya.

Esok giliran kita. Kita disini, mungkin menyimpan kenangan bagi mereka yang tuntas sampai di jalan itu. Orang-orang dekat kita. Orang-orang yang pernah pada suatu masa ada dalam hidup kita. Kita mengingat-ingat lagi potongan peristiwa bersamanya. Seperti membuka album foto lama.

Dengan sisa senyum yang menjuntai. Hari-hari ini, membaca berbagai berita, kita merasakan kematian semakin akrab, tulis Subagyo Sastrowardoyo. Sekali waktu bocah cilik tak lagi sedih karena layang-layangnya robek atau hilang-Lihat bu, aku tak menangis sebab aku bisa terbang sendiri dengan sayap ke langit–

Pada mereka yang berita kematiannya melintas di beranda. Kita hanya bisa berucap lirih. “Tunggu kami di sana. Kami pasti akan datang… “

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed